Kamis, April 02, 2009

Rumah

Dimana saja ada orang yang memikirkan kita, maka itulah rumah buat kita. Rumah adalah tempat dimana kita merasa aman di dalamnya. Kita tidak takut segala macam bahaya, karena rumah telah melindungi kita, baik itu dari panasnya terik mentari sampai dari kejahatan orang-orang yang berhati busuk. Semua itu karena rumah adalah ketenangan dan perlindungan.

Rumah bukan hanya diartikan bangunan yang setiap harinya kita tempati, tiduri, dan aktivitas lainnya. Rumah lebih dari itu, dimana saja ketenangan ada maka disitulah rumah. Bisa jadi, kita melihat bangunan rumah yang sebegitu besar dan megah, namun bagi penghuninya ia adalah neraka yang setiap hari semakin memanas. Pun sebaliknya, boleh jadi rumah mungil lagi sederhana merupakan syurga bagi penghuninya.

Semuanya tergantung bagaimana hati kita merasakannya. Bangunan rumah yang sebegitu megah ternyata hanya hiasan belaka, di dalamnya nyaris tidak ada tegur sapa antara penghuninya, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sang bapak sibuk dengan urusan kantornya yang masih belum selesai, sang ibu sibuk dengan perawatan kecantikannya, sang anak sibuk dengan pekerjaan sekolahnya, internet dan lain sebagainya. Komunikasi begitu nadir diantara mereka. Maka, sang bapak akhirnya berselingkuh, tak mau kalah dengan suaminya, sang ibu akhirnya membalas dengan perbuatan yang sama, akhirnya sang anak hanya bisa melampiaskan kekecewaannya dengan narkoba dan sex bebas.

Rumah yang begitu besarnya ternyata bukan sebenar-benarnya rumah bagi penghuninya. Sang bapak akhirnya jarang pulang kantor dan sering keluar kota untuk 'tugas', begitu juga sang ibu, ia lebih sering berkumpul dengan teman-teman senasib dan sepenanggungannya, sang anak pun lebih suka bergerombol dengan gengnya. Hal itu semua karena mereka menemukan rumah-rumah baru selain rumah megah yang cukup menjadi simbol saja.

Lain keadaan dengan rumah mungil dan sederhana yang bagi penghuninya adalah syurga. Seorang ayah yang begitu pengertian dengan keluarganya, ditengah kesibukan kantornya ia tidak pernah absen untuk makan malam bersama keluarganya, sekali-kali ia memberikan surprise dengan mengajak keluarganya keluar untuk makan malam di sebuah rumah makan kecil. Tak lupa pula sang istri yang begitu pengertian dengan jabatan suaminya yang tidak bisa memberikannya uang belanja yang lebih dari cukup. Ia berusaha mengatur keuangan dengan begitu cerdas, sekali-kali ia menabungkan sisa uang belanjanya untuk kemudian ia belikan makan-makan favorit suami dan anak-anaknya. Sang anak pun begitu pandai membaca keadaan kedua orang tuanya, ia berusaha untuk tidak begitu banyak meminta uang jajan, bahkan uang sisa uang jajannya ia belikan buku-buku.

Rumah sederhana itupun menjadi syurga bagi penghuninya. Sang bapak selalu bergegas menuju rumahnya selepas pulang kantor, ia tidak pernah memikirkan hal-hal lainnya apalagi untuk berselingkuh karena ia sudah memiliki rumah walaupun itu sangat sederhana. Sang istripun selalu bersiap dan berdandan ketika sang suami hendak datang. Ia akan menyambuh sang suami dengan senyuman dan penampilan terbaik yang ia miliki. Sang anakpun tidak mau kalah saing, ia selalu mendapat nilai baik di sekolahnya, bahkan ia sering menjadi utusan daerahnya dalam ajang-ajang nasional bahkan internasional. Hal itu karena kedua orang tuanya begitu memikirkan masa depan dia.

Besar kecilnya bangunan rumah bukan menjadi jaminan hakikat rumah itu ada. Karena hakikat rumah itu adalah 'memikirkan setiap anggota rumah'. Maka, mari kita bangun rumah-rumah megah di hati kita karena hati adalah pondasi dimana bangunan rumah itu dibangun.




Tidak ada komentar: