Minggu, April 19, 2009

Hilang

Kabut bertemu fajar, itulah aku. Hilang tak berbekas. Tak terasa tak teraba. Kosong. Namun ia ada. Seperti atom tak terlihat wujudnya, namun ada nyatanya. Rasa hanya dirasa sang perasa. Namun bukan aku, karena aku sudah tenggelam di kedalaman samudra tak berdasar. Hilang.

Sabtu, April 18, 2009

Perubahan

Hilanglah semua duka
Pergilah jangan kembali
Keluh kesah tak berarti
Buat hati jadi mati

Bangunlah bangkit kembali
Pugarlah taman impian
Biarlah lalu berlalu
Masa depan menantimu

Diam-mu tak berarti
Jika itu hanya menanti
Umur itu berumur
Lenyap pun tiba-tiba

Isilah dengan gerak
Karenanya hidup itu hidup
Maka pandanglah masa depan
Lalu kepalkan kepalan perubahan

Yusuf Abbas, 18 April 2009

Jumat, April 03, 2009

Pintu

Kemanapun kita pergi, pasti kita akan bertemu dengan pintu. Boleh kita mengatakan bahwa dalam setiap perjalanan kita pasti memulai dengan langkah pertama, namun jangan lupa bahwa dalam perjalanan-perjalanan itu kita akan bertemu dengan pintu-pintu.

Sejatinya memang ada dua pintu yang paling bisa diilustrasikan dengan baik, yaitu pintu kebaikan dan pintu keburukan. Karena dalam perjalanannya, manusia pasti akan melakukan sesuatu pekerjaan. Nah, pekerjaan itu pastinya ada yang baik dan ada yang buruk. Kebaikan dan keburukan tentu berbeda-beda jika yang menilai itu manusia sendiri, maka dibutuhkan sebuah alat untuk memberikan sebuah keterangan yang bisa membuat manusia sepakat tentang definisi dari kata baik dan buruk.

Masing-masing manusia memiliki definisi berbeda tentang kebaikan dan keburukan. Boleh jadi A baik menurut Si A namun ia buruk menurut Si B. Jika Si A bersikeras mempertahankan definisi dia, maka tak ayal Si B akan melakukan hal yang sama karena dua hal yang saling bertolak belakang tidak bisa untuk bersatu. Mungkin saja akan terjadi pertumpahan darah dan kehidupan manusia di dunia ini tak ubahnya seperti kehidupan hewan-hewan di hutan rimba dengan satu hukum, yang kuat ialah yang berkuasa.

Maka ketidakadilan akan menjadi suatu hal yang lumrah. Manusia lalu berubah menjadi singa-singa dalam kulit yang lain. Terkam menerkam untuk kelangsungan hidup akan menjadi tabiat dan kelakuan. Tidak ada kata untuk lengah walaupun itu hanya sedetik saja, karena lengah berarti nyawa yang melayang.

Nyawa manusia tak ubahnya seperti semut-semut kecil yang bisa dengan mudah diinjak-injak hingga rata dengan tanah. Darah dan tangisan akan muncrat dan terdengar dimana-mana. Setiap hari dentuman bom, mortir dan raungan sirine menghiasi berita-berita di televisi. Alasan-alasan bohong dan jawaban-jawaban diplomatis yang akan keluar dari bibir-bibir vampir pembohong di setiap jumpa pers.

Karena opini adalah senjata bagi yang kuat, maka media-media terus menerus mempropagandakan semua agenda-agenda si kuat. Bahkan kalau perlu pembohongan global perlu dilakukan. Opini harus diarahkan menuju kepentingan si kuat, siapa yang tidak bersama kita maka ia adalah musuh kita semua yang harus dimusnahkan.

Semua cara dipergunakan, baik dan buruk sudah tidak penting lagi, asal tujuan tercapai dengan
gemilang dan keuntungan berada ditangan. Maka salah satu cara yang terbaik untuk keluar dari keadaan yang begitu mencekam adalah dengan menggiring manusia kepada nilai-nilai yang disetujui bersama. Lalu agama disini yang kemudian mengambil peran. Kebaikan dan keburukan manusia tentunya manusia tidak lebih tahu dari tuhan yang menciptakan manusia itu sendiri. Seperti kursi yang dibuat oleh tukang kayu, maka ia lebih tahu apa dan bagaimana kursi itu.

Kemudian mesti ada sebuah penghubung antara suatu hal yang ghaib dan hal yang tampak, antara tuhan dan manusia. Maka diutuslah beberapa orang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan tuhan kepada manusia. Rasulpun datang dengan membawa kitab suci. Karena manusia itu bisa lupa, maka rasul memiliki sebuah mukjizat-mukjizat diluar kebiasaan dan pola pikir manusia. Lengkapkah alat untuk menggiring manusia menuju nilai-nilai yang dipercayai dan imani bersama. Agama begitu lengkap dengan perangkat-perangkat dan alasan-alasan nya.

Akhirnya kebaikan dan keburukan menjadi jelas. Manusia tidak perlu saling membunuh demi keberadaannya lagi. Karena rujukan sudah ada, maka manusia tidak perlu khawatir dengan ketidakadilan. Sebab agama diturunkan untuk membawa manusia kepada kebahagiaan, baik itu di dunia maupun di akhirat.

Namun sayang, beberapa orang yang benci dengan ketentraman dan kedamaian dunia ini, atas nama agama saling membunuh, padahal agama tidak menyuruh dia untuk berbuat seperti itu. Sebenarnya ia tidak paham betul apa substansi dari ajaran-ajaran tuhan dalam agama. Atau memang ia hanya menjadikan agama sebagai kedok dan topeng ketamakannya atas nama agama.

Maka jangan sekali-kali menyalahkan agama dan mengatakan bahwa agama adalah candu bagi kemanusiaan. Karena, agama sudah memberikan keterangan mana pintu kebaikan dan mana pintu keburukan. Pertumpahan darah atas nama agama tidak bisa dibenarkan, kecuali atas orang-orang yang dirampas hak-haknya, diusir dari tanah keliharannya dan dianggap sebagai nyamuk-nyamuk yang kapan saya bisa kita bunuh. Manusialah yang benar-benar harus dimintai pertanggung jawaban, karena ia telah dianugerahi akal yang dengannya ia bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Kamis, April 02, 2009

Rumah

Dimana saja ada orang yang memikirkan kita, maka itulah rumah buat kita. Rumah adalah tempat dimana kita merasa aman di dalamnya. Kita tidak takut segala macam bahaya, karena rumah telah melindungi kita, baik itu dari panasnya terik mentari sampai dari kejahatan orang-orang yang berhati busuk. Semua itu karena rumah adalah ketenangan dan perlindungan.

Rumah bukan hanya diartikan bangunan yang setiap harinya kita tempati, tiduri, dan aktivitas lainnya. Rumah lebih dari itu, dimana saja ketenangan ada maka disitulah rumah. Bisa jadi, kita melihat bangunan rumah yang sebegitu besar dan megah, namun bagi penghuninya ia adalah neraka yang setiap hari semakin memanas. Pun sebaliknya, boleh jadi rumah mungil lagi sederhana merupakan syurga bagi penghuninya.

Semuanya tergantung bagaimana hati kita merasakannya. Bangunan rumah yang sebegitu megah ternyata hanya hiasan belaka, di dalamnya nyaris tidak ada tegur sapa antara penghuninya, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sang bapak sibuk dengan urusan kantornya yang masih belum selesai, sang ibu sibuk dengan perawatan kecantikannya, sang anak sibuk dengan pekerjaan sekolahnya, internet dan lain sebagainya. Komunikasi begitu nadir diantara mereka. Maka, sang bapak akhirnya berselingkuh, tak mau kalah dengan suaminya, sang ibu akhirnya membalas dengan perbuatan yang sama, akhirnya sang anak hanya bisa melampiaskan kekecewaannya dengan narkoba dan sex bebas.

Rumah yang begitu besarnya ternyata bukan sebenar-benarnya rumah bagi penghuninya. Sang bapak akhirnya jarang pulang kantor dan sering keluar kota untuk 'tugas', begitu juga sang ibu, ia lebih sering berkumpul dengan teman-teman senasib dan sepenanggungannya, sang anak pun lebih suka bergerombol dengan gengnya. Hal itu semua karena mereka menemukan rumah-rumah baru selain rumah megah yang cukup menjadi simbol saja.

Lain keadaan dengan rumah mungil dan sederhana yang bagi penghuninya adalah syurga. Seorang ayah yang begitu pengertian dengan keluarganya, ditengah kesibukan kantornya ia tidak pernah absen untuk makan malam bersama keluarganya, sekali-kali ia memberikan surprise dengan mengajak keluarganya keluar untuk makan malam di sebuah rumah makan kecil. Tak lupa pula sang istri yang begitu pengertian dengan jabatan suaminya yang tidak bisa memberikannya uang belanja yang lebih dari cukup. Ia berusaha mengatur keuangan dengan begitu cerdas, sekali-kali ia menabungkan sisa uang belanjanya untuk kemudian ia belikan makan-makan favorit suami dan anak-anaknya. Sang anak pun begitu pandai membaca keadaan kedua orang tuanya, ia berusaha untuk tidak begitu banyak meminta uang jajan, bahkan uang sisa uang jajannya ia belikan buku-buku.

Rumah sederhana itupun menjadi syurga bagi penghuninya. Sang bapak selalu bergegas menuju rumahnya selepas pulang kantor, ia tidak pernah memikirkan hal-hal lainnya apalagi untuk berselingkuh karena ia sudah memiliki rumah walaupun itu sangat sederhana. Sang istripun selalu bersiap dan berdandan ketika sang suami hendak datang. Ia akan menyambuh sang suami dengan senyuman dan penampilan terbaik yang ia miliki. Sang anakpun tidak mau kalah saing, ia selalu mendapat nilai baik di sekolahnya, bahkan ia sering menjadi utusan daerahnya dalam ajang-ajang nasional bahkan internasional. Hal itu karena kedua orang tuanya begitu memikirkan masa depan dia.

Besar kecilnya bangunan rumah bukan menjadi jaminan hakikat rumah itu ada. Karena hakikat rumah itu adalah 'memikirkan setiap anggota rumah'. Maka, mari kita bangun rumah-rumah megah di hati kita karena hati adalah pondasi dimana bangunan rumah itu dibangun.