Rabu, Maret 11, 2009

Warna-warni

Dengan warna, tentunya kehidupan akan terasa lebih indah. Bisa kita bayangkan bagaimana seandainya warna di dunia ini hanya salah satu dari dua, hitam atau putih, tentunya kehidupan ini akan penuh dengan kesuraman dan pertengkaran bahkan akan membuat hidup tidak akan stabil dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Warna telah membukakan mata kita bahwa, manusia itu memang diciptakan berbeda-beda, baik itu agama, ras, dan pribadi masing-masing. Maka, teori yang paling tepat, setidaknya menurut penulis, untuk bisa mengakomodir perbedaan-perbedaan warna tersebut adalah dengan menumbuhkan rasa toleransi dan sikap saling menerima perbedaan.

Merupakan sebuah hal yang mustahil jika kita ingin menyatukan warna-warna tersebut menjadi satu warna, karena perbedaan warna merupakan sunnatullah yang tidak mungkin berubah. Yang bisa dilakukan hanya bagaimana untuk mengakomodir warna-warna tersebut sehingga ibarat seorang pelukis yang melukis dengan banyak warna, akan menghasilkan sebuah lukisan indah penuh makna. 

Dalam sebuah penelitian yang pernah penulis lakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin warna, mulai dari warna dasar sampai warna campuran, yang kemudian penulis tempelkan pada sebuah lingkaran yang ditengahnya diberi lubang untuk tempat alat pemutar, lalu diputar beberapa putaran, ternyata hasil dari percampuran warna-warna tersebut adalah satu yaitu putih.

Hal ini, jika menunjukkan sesuatu, maka minimal ia menunjukkan bahwa hakikatnya sumber dari segala macam warna itu satu yaitu putih. Hal ini sesuai dengan sinyalir Rasulullah Saw. yang menyatakan bahwa setiap manusia itu dilahirkan secara fitrah, putih bagai kertas yang belum ditulisi. Maka warna-warna yang kita lihat di dunia ini hanyalah penampakan dari warna 'putih' sebagai warna dasar semua warna.

Merupakan suatu hal yang kurang bijak jika kita mempertanyakan, mengapa harus ada hitam, putih, merah, hijau, kuning, biru dan lain sebagainya ? Karena keberadaan macam-macam warna itu sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Akan lebih bijak jika kita mengupas kelebihan dan kekurangan masing-masing warna, lalu jika ada salah satu warna yang menarik perhatian, maka silahkan untuk memilih dan menikmatinya tanpa harus mencerca dan memaki warna-warna lainnya yang tidak sesuai dengan selera individu sang pemilih.

Memilih warna merupakan salah satu hak asasi manusia. Ia bebas memilih apa saja yang ia kehendaki, namun setelah hak pasti ada kewajiban yang menyertainya. Maka, setelah sang pemilih menentukan akan menggunakan warna tertentu, maka ia harus siap dengan kewajiban mempertanggungjawabkan pilihannya tersebut, tentunya kepada sang pemilik warna.

Saya sangat tidak setuju dengan seorang pembicara di salah satu televisi nile yang menyatakan bahwa, ketika manusia itu sudah menggunakan haknya, maka ia tidak bisa ditanyakan kenapa ia menggunakan haknya tersebut. Karena menurut penulis, boleh saja kita menanyakan kenapa seseorang menggunakan haknya, karena mungkin saja, ia keliru atau tidak punya pengetahuan dalam penggunaan haknya tersebut.

Penulis ambil contoh salah satu hak manusia adalah mempergunakan hartanya. Bagi orang yang berakal dan mampu untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk tentunya menggunakan hartanya bukanlah sebuah problem. Namun, bagaimana jika orang itu mengalami keterbelakangan mental misalnya, apakah pihak wali akan membiarkan dia menggunakan haknya sesuai dengan kemauan dia ? jawabannya tentu sangat jelas, tidak.

Terakhir dari penulis, bahwa semakin kita dewasa dalam penyikapan terhadap perbedaan warna, tentunya kehidupan akan semangkin indah dan dinamis. Karena, banyaknya warna adalah sumber dari keseimbangan, tanpa keseimbangan, dunia ini tidak mungkin ada dalam keadaan yang nyaman.

Dalam Al-quran disebutkan bahwa adanya gelap dan terang merupakan sebuah rahmat yang sangat besar. Seandainya dunia ini selalu gelap, tentunya manusia akan menemukan kesulitan untuk hidup, pun begitu sebaliknya jika dunia ini selalu terang, maka manusia tidak akan bisa menemukan waktu yang tepat untuk berehat dan beristirahat.

2 komentar:

pangapora mengatakan...

Akhi! Anda kuliwat suriyus sukarang. Saya ikut2an suriyus jadinya. Mari posting puisi....

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

oke2 kemaren saya sudah buat puisi buar Rasulullah Saw. sekarang giliran hadratak..