Selasa, Maret 03, 2009

Bis

Siapa yang mau berdesak-desakan dengan orang-orang yang kekuatannya jauh lebih kuar dari kita di sebuah bis yang kadang-kadang macet karena kehabisan oli? Penulis kira, semua pembaca akan menjawab no way. Semua penumpang alat transportasi baik itu darat, udara maupun laut menginginkan perjalanan yang tenang dan selamat sampai tujuan.

Namun, bagaimana jika realitanya kita harus berhadapan dengan keadaan yang sangat tidak membuat nyaman tersebut? Pastilah langkah yang paling jitu adalah dengan bersabar...bagaimana lagi...beradu otot pasti kalah karena rata2 tubuh orang mesir itu jauh lebih besar dan subur dari hampir 98 % orang indonesia disini. Sengaja 2 % nya saya tinggalkan karena kebetulan saya mengenal dua orang indo dengan tubuh tak kalah dengan tubuh orang mesir. Kedua-duanya laki-laki, yang satu tinggi besar yang satunya lagi besar bulat :).

Kesabaran itu mesti dilipat gandakan jika kebetulan kita bertemu dengan orang-orang aneh di bis. Kadang kita harus mengelus-elus dada karena diomelin oleh ibu-ibu yang sudah 'tua' dan tidak menarik lagi karena tanpa sengaja kita menyenggol dia. walaupun kita sudah merunduk-rundukkan kepala sambil berkata 'ma'alisy..ma'alisy ya madam' (maaf...bu) namun tidak begitu gampang menenangkan hati ibu tua itu.

Mungkin saja dia trauma, karena menurut data yang dahulu kala pernah saya baca di beberapa media bahwa pelecehan sexual di mesir ini sangatlah tinggi. Dari anak-anak di bawah umur sampai ibu-ibu yang sudah lumayan tua. Baik itu pribumi sampai pelajar-pelajar asingpun. Apalagi dengan kondisi bis yang begitu penuh, kesempatan untuk berbuat yang tidak-tidak menjadi begitu besar. Dari copet, sampai pelecehan sexual.

Perjalanan yang rencananya berjalan dengan enjoy dan rileks akhirnya berubah menjadi gelanggang panas yang membara. Kadang dengan teriakan-teriakan amarah bapak-bapak yang bertengkar sesama bapak-bapak, atau ibu-ibu lawan bapak-bapak. Atau terpaksa melihat pelajar-pelajar asing yang dilecehkan dengan segala macam cara, mulai digesek-gesek dari belakang atau digesek dari samping ketika sang pelajar duduk.

Mungkin pelajar-pelajar asing putra ingin menolong, tapi sayangnya kadang permintaan tolong itu tidak pernah keluar dari mulut sang korban. Mungkin saja karena si pelajar putri ini menikmati, atau dia takut atau malu. Entahlah, namun yang jelas hal yang sangat disayangkan adalah kebanyakan korban-korban pelecehan secara sexual itu diam (terutama pelajar-pelajar
asia). Sangat berbeda dengan ibu-ibu atau gadis-gadis pribumi yang sangat reaktif bahkan sampai keterlaluan.

Belum lagi mendengar sumpah serapah sopir bis karena mobil di depannya secara mendadak mengerem tanpa memberi tanda terlebih dahulu. Juga dengan bunyi-bunyi klakson yang memekakkan telinga yang katanya jarang kita temukan kejadian seperti ini di negara-negara maju. Atau bahkan mobil sedan berusia lebih dari 40 tahun tiba-tiba mengeluarkan asap dan macet pas ditikungan.

Tidak bisa kita bayangkan, bagaimana psikologi orang-orang yang setiap harinya hidup dalam kesemrawutan seperti itu. Dari orang yang paling miskin sampai orang yang paling kaya, manusia pribumi negeri ini tidaklah jauh berbeda. Jika kaum miskin dan low class-nya suka menipu, mencopet, bercanda kelewatan, kaum kaya, terpelajar dan high class-nya sibuk dengan foya-foya, free sex bahkan kehidupan seperti binatang.

Hanya satu yang kembali membuat hati tenang, yaitu ketika kaki sudah menginjak kampus Al-Azhar atau Masjid Al-Azhar lalu mendengarkan pelajaran2 dari masyayikh (bentuk plural dari
syekh). Semua kepenatan dan kekesalan di hati seakan2 hilang tak berbekas. Kemarahan yang sejak tadi tersimpan di dada seperti api yang bertemu air.

2 komentar:

AgusR mengatakan...

kuncinya hrs sabar om, tawakal ala allah insya allah khoir :))

sy jg pasrah tadi sepulang dari qotomiyah, nunggu bus ke jurusan damerdas lama, eh dah ada tapi ramainya minta ampun, desak2desakan deh ama ketiak orang mesir huahuahua

syifa' mengatakan...

sabar itu kan indah...