Senin, Januari 19, 2009

Salah Sangka, Salah Paham dan Prasangka

What happened to the people? How can it be? Beauty was known. But now can you tell?

Anda sering disalahpahami oleh orang-orang...

Kadang kala Anda mengerjakan sesuatu namun orang lain menganggap pekerjaan itu adalah sebuah kesalahan, padahal menurut Anda dia tidak benar-benar meneliti apa yang Anda kerjakan. Dia hanya melihat dari kaca matanya yang dangkal. Anda hanya tersenyum. Anda selalu berkata pada diri Anda sendiri; "Kamu tidak akan bisa membuat semua orang mengerti dan berprasangka baik padamu". Anda akan kembali tersenyum. Salah satu cara Anda untuk mengobati itu adalah dengan menganggap Anda salah dan orang itu benar. Karena mungkin saja dia benar dan Anda salah. Dan Anda benar-benar mengaku salah. Ya, Anda salah. Dan hati Anda kembali lagi normal.

Kadang-kadang Anda bertanya kepada teman-teman Anda, mereka akan menjawab bahwa orang lain itu adalah cermin. Kemana saja kita akan bertemu dengan cermin itu. Kita tidak bisa lari dari cermin. Yang bisa kita lakukan hanya satu, berkaca di cermin itu sambil terus membersihkan cermin itu dari kotoran debu walaupun kita tidak bisa setiap saat bisa membersihkan debu di cermin itu.

Orang lain adalah orang yang melihat kita seperti cermin. Ia hanya akan melihat dhohir kita. Ia tidak bisa melihat hati kita seperti apa. Maka yang paling baik adalah selalu tersenyum di depan cermin itu, karena ia hanya tahu bahwa kita tersenyum. Ia tidak akan pernah tahu bahwa dibalik senyum itu kita menangis.

Anda sering berfikir, bahwa kita harus seperti Nasrudin dan anaknya ketika mereka berdua menaiki seekor keledai, orang-orang berkata kepada mereka : "Anak dan orang tua yang tidak tahu kasihan, masa keledai itu ditunggangi mereka berdua". Kemudian si Nasrudin turun dan membiarkan anaknya menaiki keledai itu, kemudian orang-orang berkata : "dasar anak tidak berbakti, membiarkan orang tuanya berjalan sedangkan ia naik keledai dengan enaknya". Kemudian anak itu turun dan membiarkan Nasrudin naik di atas keledai, orang-orang melihat itu dan berkata : "dasar orang tua tidak tahu kasih sayang, masa ia berenak-enak naik keledai sedangkan ia membiarkan anaknya berjalan kepayahan." Akhirnya mereka tidak menaiki keledai itu, namun orang-orang berkata lagi : "dasar orang tua dan anak yang bodoh, masa punya keledai tapi tidak ditunggangi."

Begitulah gambaran kehidupan. Bagaimanapun kita berperilaku, kita pasti akan mendapatkan cela. Bagaimanapun kita berusaha perfect di depan orang, tetap akan ada kesalahan di depan mereka. Maka, akhir dari cerita itu, mereka akhirnya mengerjakan sesuai dengan keinginan dan mashlahat mereka sendiri dan tidak melihat apa kata orang.

Jika kita selalu melihat apa kata orang-orang maka tidak akan pernah ada kebaikan. Jika rasul-rasul dahulu mengikuti apa kata orang-orang, maka risalah kenabian dan kerasulan tidak akan pernah ada. Maka sabda Rasulullah S.A.W. Qul amantu billahi tsummastaqim (Katakanlah, saya beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah). Asalkan perilaku kita sesuai dengan tuntunan agama, kita tidak usah melihat apa kata orang-orang, cukuplah Allah dan Rasulnya menjadi saksi, bahwa kita berbuat untuk keridhoan-Nya.

Manusia hanya tahu yang dhohir saja, sedangkan Allah mengetahui mata yang berkhianat dan apa-apa yang disembunyikan oleh hati.

Tidak ada komentar: