Senin, November 23, 2009

Tulisan tahun 2007

2007 saya lupa password blog ini, jadi tulisan saya tahun itu dialihkan ke multiply ...

Mendung

mendung hari ini kelam
gelap gulita langit meradang
menyimpan jutaan lara
membendung jutaan prahara

anginpun ribut saja menyambut
mendung yang hitam pekat
sepekat hati merana sedih
karena mendung sedang bergelayut

tak terkira hari ini mendung datang
walau sudah dari dulu anginnya menyapa
tapi hari ini, seakan mendung sudah tak kuasa lagi
membendung rintik hujan di hati

mendung selalu menakutkan
namun ia juga memberi harapan
mendung adalah akhir
ia juga awal

mendung oh mendung
biarlah kau berlalu
pergi bersama angin
membawa sejuta keperihan

mendung oh mendung
datang di padang kering
tersenyum dengan harapan
membawa sejuta kebahagiaan

akupun menangis melihat mendung
juga tersenyum...
menangis tersenyum bersama mendung
tersenyum menangis juga...

Jeddah, 23 November 2007

Perempuan yang Pasrah
pasrah...
pasrah adalah pilihan...
namun ia bukan bukan sebuah pelarian
pasrah hanya menginginkan keridhaan
tak ada yang perlu ditakuti
pasrah adalah kemulyaan
perempuan itu terus berucap
aku pasrah...
namun aku bukan pecundang
aku pasrah untuk mencapai kebahagiaan
karena aku yakin pasrah tidaklah sia-sia
karena aku yakin, suatu saat nanti pasrah akan menyalakan sumbu2 yang terpintal
memancarkan pijar api keemasan
karena pasrah...
pasrah pada cahaya diatas cahaya
dzat penerang dalam kegelapan
membuka tabir kelam penuh duka
karena pasrah...
yah...dan aku yakin...
dengan pasrah aku akan menggapain semua mimpi-mimpiku...
perempuan itu tersenyum...
tangannya terus menggapai-gapai langit...
aku pasrah, katanya...(selesai)

Cairo, 17 Oktober 2007

bangsa yang bukan-bukan
bangsaku adalah bangsa yang bukan-bukan
barat bukan, timurpun bukan
bisanya hanya catut sana catut sini
bangsaku tidak punya kepribadian

namun aku tidak malu
aku hanya sedih
aku tidak tahu harus bagaimana
aku ingin menolong bangsaku

tapi aku merasa tidak bisa
bangsaku sudah terpuruk sedemikian
datangpun aku enggan, takut
ada penjahat bangsaku di bandara

oh, semuanya sudah diluar rasioku
aku tak tahu apalagi yang akan menimpa bangsaku
karena bangsaku adalah bangsa yang bukan-bukan
maka tuhanpun murka

bangsaku selalu terombang-ambing
kata si kuat ke barat iapun ke barat
kata si kuat ke timur iapun ke timur
bangsaku memang tak punya harga diri

aku hanya bisa bermimpi
kelak bangsaku bisa menjadi negeri di atas awan
dengan kedaulatan dan kewibawaan
menjadi bangsa panutan uswatun hasanah...amien (tapi kapan ya?)

Cairo, 6 Juli 2007

Teroris !!!

wah, untung yah, penembak 32 mahasiswa di virginia bukan seorang muslim. seandainya dia adalah seorang muslim, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kecaman dunia internasional terhadap agama islam.

memang beberapa tahun ini pasca 11 september 2001 lalu, umat islam selalu disorot. sedikit saja ada cela, maka sekoyong-koyong media diseluruh dunia akan menyorot. ya dibilang ajaran teroris lah, nabi kejam lah dan buanyak lagi tuduhan-tuduhan yang lebih kejam dari teror sendiri.

padahal kalau mau objektif dalam ajaran agama islam tidak ditemukan ajaran yang ofensif, bahkan semuanya defensif. dari menjaga agama, jiwa, harta, keturunan dan akal. dan saya yakin, semua orang yang bisa membaca teks-teks agama islam (Al-Quran dan Hadist) dengan baik dan benar akan mengatakan hal tersebut.

namun ternyata ada beberapa orang yang hanya memahami teks-teks keagamaan secara parsial (sathy) lalu mencap ajaran islam dengan tuduhan keji dengan mengatakan bahwa ada beberapa teks yang menjadi sumber legitimasi kekerasan yang dilakukan umat islam akhir-akhir ini (bom bunuh diri dll).

tuduhan ini hemat penulis lahir dari sikap takut yang berlebih-lebihan terhadap agama islam dan ketidaktahuan penuduh akan maqashidusysyariah yang lima tadi. juga kerancuhan pemikiran penuduh yang menggeneralisir secuil penyelewang sebagian umat menjadi cela ajaran seluruhnya.

seharusnya, penyelewengan-penyelewengan tadi disikapi dengan arif dan bijaksana. tidak berarti setiap muslim yang meledakkan bom itu adalah teroris dan menjadikan ajaran islam sebagai legitimasi perbuatannya. namun perlu adanya pemilahan kasus.

dalam kasus negara-negara terjajah (palestina, iraq, afghanistan dll) hal tersebut (bom bunuh diri dan kegiatan teror pada penjajah dll) adalah suatu hal yang wajar dan tidak bisa disebut terorisme. karena mereka, rakyat yang terjajah berusaha untuk mengambil haknya yang dirampas. karena kalau kita mengatakan bahwa seorang palestina yang meledakkan dirinya di bis umum israel dengan sebutan teroris maka sama saja kita mengatakan bahwa surabaya bukan kota pahlawan tapi kota teroris.

lain halnya jika seorang muslim atau organisasi muslim menteror (oposan) penguasanya. dalam hal ini penulis ambil contoh : di mesir dengan jaamah ikhwan al-muslimun. disini penulis menilai bahwa apa yang terjadi di mesir adalah murni politik kekuasaan semata.

bom-bom yang pernah meledak di mesir, walaupun menurut media adalah tanggung jawab jamaah islamiyah sempalan ikhwan, namun bukan berarti itu juga tanggung jawab ajaran islam. yang salah adalah pemahaman yang terlalu keras terhadap ajaran. nah, disini penulis sangat setuju dan sejalan dengan apa yang dilakukan al-azhar dengan politik kooperatif terhadap pemerintah. walaupun ada beberapa orang yang tidak suka mengatakan bahwa al-azhar sudah dibawah bayang-banyang husni mubarak , karena banyak sikap al-azhar yang sejalan dengan kepentingan pemerintah mesir.

namun yang perlu diacungi jempol adalah persatuan umara dan ulama sehingga menjadikan mesir negara yang aman dan tentram. walaupun tidak bisa dipungkiri masih banyak cacat yang harus dibenahi.

nah, hemat penulis apa yang terjadi di mesir bisa ditiru dan dipraktekkan di indonesia. karena mengingat banyaknya aksi terorisme yang meresahkan masyarakat penulis mengharap ada sebuah koalisi umara-ulama dalam hal ini diwakili oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan besar seperti NU, Muhammadiah dll. sehingga pemahaman kasar terhadap teks keagamaan bisa diminimalisir sehingga nantinya indonesia menjadi negara tentram aman dan makmur. amien.

Kairo, 18 April 2007

Manfaat

Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia. Dahulu kala kita sering mendengar kata-kata tersebut. Kata yang sarat dengan semangat optimisme dan nilai keprogresifan. Namun walaupun kita sudah mendengar dan membaca kata-kata ini sejak lama, namun penulis yakin tidak banyak dari kita yang bisa mengambil manfaat dan hikmah darinya.

Menjadi orang yang bermanfaat itu susah-susah gampang, karena berhubungan dengan banyak kepentingan. Kepentingan aku dan kamu. Yah, dua kepentingan yang tidak selamanya akan berjalan bersama, bahkan suatu ketika mungkin akan bertentangan.

Dalam suatu kesempatan kita mungkin memiliki keinginan untuk membantu orang disekitar kita, namun hal tersebut ternyata akan merugikan kita sebagai aku. Aku yang menginginkan semua hal berjalan lancar dan apa adanya. Aku yang selalu tidak ingin terbuang kesempatan dan tenaganya. Namun, menjadi manusia ideal versi nabi Muhammad s.a.w menjadikan aku berusaha untuk sedikit meluangkan waktu dan menguras tenaganya untuk orang lain.

Lagi-lagi permasalahan ketundukan menempati rating pertama untuk masalah ini. Kita berusaha untuk selalu berada dalam koridor nabi dan wahyu sehingga kita berusaha semaksimal mungkin menjadi manusia yang paling bermanfaat.

Manfaat yang diharapkanpun adalah manfaat yang digariskan Allah dan rasulnya. Ah, lagi-lagi penulis menyinggung-nyinggung permasalah agama dan ideologi. Tentunya pembaca tahu bahwa penulis adalah seorang beragama yang taat dengan ajarannya. Maka, bukan merupakan sebuah kekeliruan jika sedikit banyak penulis menyebut-nyebut tuhan, wahyu dan rasul.

Nah tentunya, jika manfaat itu adalah manfaat dan kebaikan yang digariskan agama, maka segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasulnya adalah manfaat dan apa yang dilarang adalah sebaliknya.

Maka, untuk menjadi orang yang paling bermanfaat bagi manusia adalah dengan selalu berusaha mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya dan meninggalkan apa yang dilarang Allah dan rasulNya. Karena manfaat tersebut bukan hanya akan dirasakan aku saja, namun juga kamu bahkan mereka dan semua akan merasakan dampaknya.

Kairo, 6 April 2007

Alampun Muak

Semua tragedi datang begitu rapih
Dimana-mana terdengar isak tangis
Bertalu-talu ucapan takbir
Namun alam tak lagi peduli

Seperti marah terus menerus
Alampun menampar, menggulung dan menggetarkan
Semua makhluk diatasnya
Tak peduli itu shaleh atau kafir

Alampun muak
Tak ada lagi kicauan burung
Yang tersisa hanya kepulan asab tebal
Dan ranting-ranting kering yang sudah menjadi arang

Huh, belum lagi para pencuri
Uang rakyat, kayu, pasir dan tambang
Seakan tanah ini miliki nenek mereka
Dengan bangganya mereka bermegah-megah

Diatas air mata darah mereka tertawa
Tak cukup si miskin lemah
Alampun mereka koyak
Dengan taring – taring keserakahan

Alampun muak
Tak mau lagi bersahabat dengan perusak
Tak ada lagi yang bisa kita perbuat
Kecuali kita bunuh para perusak bejat

Sungguh benar sabda sang maha bijak
Tak ada tempat bagi perusak alam
Kecuali bunuh, salib, potong silang kaki dan tangan
Oh, adakah sebuah ketundukan?

Kairo, 6 April 2007

Minggu, November 22, 2009

Perubahan

Keinginan adalah sebuah kungkungan. Kungkungan dari jiwa yang tidak puas dengan keadaan. Namun apakah kita harus diam dengan segala ketidak adilan. Apakah akan disebut sebuah ketamakan ketika kita hanya mempertanyakan. Lalu apa bedanya kita dengan sebongkah batu jika kita hanya diam. Padahal kita adalah sebuah komunitas yang kritis dan selalu merindu perubahan.

Keinginan kita hanya satu. Ketidak puasan dengan keadaan. Sebuah situasi dimana kita selalu dalam keterpurukan, kemiskinan dan kedurhakaan. Kita terpuruk karena kira selalu membiarkan keaniayaan merajarela. Kita didera kemiskinan karena ketamakan sudah mendarah daging disetiap diri kita. Kita durhaka karena kita tidak pandai memelihara pemberian.

Keinginan kita tersebut akan selalu terpatri dalam sanubari. Tertancap menghujam tepat di ulu hati. Sehingga hati ini berdarah-darah yang tetes-tetesnya selalu menggemuruhkan satu kata " perubahan, perubahan dan perubahan". Apakah mungkin suatu bangsa akan tetap dalam keterpurukan terus menerus. saya tidak pernah yakin. Yang saya yakini justru sebaliknya, bahwa gemuruh tetes-tetes darah diatas suatu saat pasti akan didengarkan oleh beberapa telinga-telinga para pejuang-pejuang baru, muda dan enerjik. Mereka akan mengajak dan menyeru semua manusia untuk menuju pada satu titik yaitu, PERUBAHAN.

Rabu, November 11, 2009

Kepercayaan

Yang selalu kita fikirkan adalah bagaimana untuk memberikan kepercayaan kita kepada seseorang. Karena ternyata dunia ini sudah penuh dengan para pembohong dan penipu. Lihat saja bagaimana kasus KPK bergulir. Anda akan dengan terang-terangan melihat, mendengar dengan haqqul yakin bahwa ada sebuah kebohongan dan penipuan publik disana.

Negara ini seakan menjadi sarang para mafia yang dengan seenaknya saja bisa menyalahkan orang yang tidak salah dan membebaskan orang-orang bersalah. Tentunya tidak dengan gratis, pasti harga telah dipatok sekian milyar bahkan triliun untuk memuluskan langkah orang-orang bertangan buntung tersebut.

Negara ini begitu rusaknya. Tidak ada hukum, tidak ada keadilan, tidak akan kepercayaan. Semuanya busuk dan bau anyir. Apa jadinya ketika para penegak hukum adalah orang yang pertama kali melanggar hukum ? Apa jadinya ketika orang-orang jahat dengan kekuatan uang bisa dengan sangat mudah lari ke luar negeri dan meminta perlindungan ke negara yang notabene masih tetangga ? Apa jadinya kalau orang-orang bajingan itu kemudian membuat sebuah proyek balas dendam pada negeri tercinta ini ?

Sebuah mega proyek untuk menghancurkan sendi-sendi sebuah pemerintahan yaitu sebuah kepercayaan !!! Herannya, mereka-mereka itu kemudian dibantu oleh para penghianat negara ... mereka dibantu oleh orang-orang yang selama ini kita anggap sebagai pahlawan, pembawa kedamaian dan ketentraman masyarakat ... Sungguh, hati ini tertusuk-tusuk melihat kebobrokan ini ...

Sungguh hati ini tidak rela melihat negeri ini semakin terpuruk. Sungguh hati ini takut jika negeri ini akan dibinasakan oleh Allah. Sungguh hati ini sangat bermuram durja memikirkan orang-orang lugu yang tidak tahu apa-apa yang akan menjadi korban dari perbuatan dzalim orang-orang yang kuat dan dianggap pahlawan itu ...

Qatamea, 11 November 2009

Rabu, Oktober 28, 2009

Berfikir !!!

Sebenarnya beberapa hari ini saya sudah berencana untuk membuat beberapa tulisan, namun entah kenapa jari ini serasa malas untuk mengetik. Mungkin udara Kairo yang mulai mendingin ini membuat otak saya sedikit-demi sedikit membeku. Padahal, banyak kejadian yang pantas untuk diabadikan dalam tulisan.

Salah satunya adalah fikiran-fikiran saya ketika mengendarai mini bus 69 dari Qatamea ke Kampung Sepuluh sana. Perjalanan yang lumayan agak lama kadang membuat saya kembali melakukan aktivitas tafakur. Sekitar 30 menit waktu yang saya tempuh untuk sampai ke pemukiman kebanyakan mahasiswa indonesia di mesir itu. Jika saya kalkulasikan pulang pergi dengan menunggunya, saya bisa menghabiskan 1,5 sampai 2 jam habis begitu saja.

Bisa dibayangkan, jika setiap hari saya bolak-balik, pastinya banyak waktu yang terbuang sia-sia. Oh tidak, saya lupa bahwa setiap kali menaiki mini bus tersebut saya berfikir, dan berfikir saya rasa bukan pekerjaan yang sia-sia. Namun apa gunanya hanya 'berfikir'? Bukankah seseorang itu berfikir untuk mengubah perilaku ? Dari keburukan menuju kebaikan. Berfikir itu memang sangat dianjurkan, namun jika berfikir tentang hal-hal yang tidak berguna apakah itu bukan sebuah kesia-siaan yang dipolesi dengan laber 'berfikir'? Sebagai contoh berfikir tentang kenapa pengemudi bis 69 yang saya tumpangi ini suka mengebut ?

Mungkin bagi sebagian orang berfikir tentang hal tersebut dianggap hal yang sia-sia, namun tidak bagi sebagian yang lain. Karena boleh jadi sang pengemudi tersebut kebelet mau pipis, atau yang paling logis karena dia memang suka ugal-ugalan atau kejar setoran !!!

Yang jelas, ditengah perdebatan tersebut, tentunya orang yang berfikir itu lebih mulia dari pada orang-orang tidur karena kecapean, atau orang-orang yang menyetel mp3nya dengan keras sehingga mengganggu penumpang lain yang menginginkan 'berfikir ketika menaiki bus mini tersebut' atau 'ketenangan' dalam kebisingan bunyi klakson yang kerap kali dibunyikan pengemudi bis mini 69 ini.

Tentunya proses 'berfikir' tersebut harus benar-benar dilakukan dalam keadaan yang 'sangat sadar', karena jika terlalu larut, maka bisa menyebabkan fikiran tidak jalan sehingga 'Mahattah' tujuan akan terlewat sehingga perlu 'JJM (jalan-jalan malam)' untuk sampai ke rumah tercinta ... :)

Jumat, Oktober 16, 2009

Ke Helwan

Akhirnya keinginanku untuk pergi ke Helwan terwujud juga hari ini. Sebenarnya ketika akhir ramadhan tahun ini sudah ada rencana untuk pergi ke rumah Ayyub, salah seorang anak madura satu-satunya yang berdiam di Helwan.

Dalam banyangan saya, helwan itu adalah daerah yang lumayan elit. Tapi ternyata, ketika saya turun dari metro, seakan baru sampai ke negera tetangga mesir. Dengan keadaan yang begitu sepi dan terpinggirkan, Helwan ternyata sangat berbeda dengan Kairo.

Dalam perjalanan, dengan tidak sengaja saya bertemu dengan Noval, dia juga hendak menuju tujuan yang sama. Noval, dengan gaya Japanese-nya sudah 3 kali mengunjungi Ayyub. Dia akhirnya menjadi guide saya.

Menuju ke rumah Ayyub sangat susah, tidak ada angkutan umum seperti tramco atau bus umum yang berlalu lalang seperti di kairo. Jalan satu-satunya adalah dengan memakai jasa taxi. Anehnya, walaupun bentuk dan warna taxi disini sama dengan yang di kairo, ada perbedaan yang sangat mencolok, yaitu keramahan pengemudinya juga harganya yang seragam.

Jika di Kairo, untuk menempuh perjalan dari terminal metro ke rumah Ayyub itu minimal harus merogoh kocek LE.5 belum lagi ditambah tukang taxinya yang pura-pura marah dan akhirnya minta tambahan ongkos. Di Helwan ini, jarak yang sebegitu lumayan jauh hanya dengan LE.2 plus tukang taxi yang 'mutahadhdhir' (berperadaban).

Rumah Ayyub yang sudah terkenal dengan sebutan 'bet Malizi' (rumah orang malaysia) itu berada di sebuah apartemen milik seorang pak cik yang menikah dengan orang mesir. Apartemen yang begitu sederhana. Namun setelah saya telusuri, ternyata rumah yang ditempati Ayyub itu adalah mantan rumah Habiburrahman sang novelis fenomenal itu.

Rumah (flat) ini juga sangat sederhana. Dengan gaya khas mahasiswa yang berantakan, rumah ini memiliki 4 kamar, 3 sudah terisi dan satu masih kosong. Ayyub sendiri menempati kamar buatan. Kamar Ayyub itu sebenarnya ruang tamu yang kemudian dibagi dua menjadi kamar yang agak luas. Ayyub tinggal seorang diri di kamar itu.

Seperti layaknya mahasiswa, di kamar Ayyub itu terdapat sebuah komputer dikelilingi oleh tumpukan buku yang sepertinya habis dilahap Ayyub. Buku-bukunyapun beragam, dari yang berbahasa arab, inggis dan indonesia. Ayyub memang seorang yang misterius, dari segi penampilan, dia seakan seperti preman dengan celana levis yang sobek di lututnya. Namun jangan salah, Ayyub ternyata adalah seorang keturunan kiyai yang memiliki pondok yang begitu besar di Madura.

Malam itu, kita seperti biasa bercerita sambil lalu menikmati malam jum'at dengan main game pe es sepuasanya dan teh hangat buatan Ayyub. Memang kemampuan Ayyub dan Noval begitu memukau malam itu sampai saya stress karena kalah dalam setiap pertandingan.

Akhirnya malam berganti pagi. Dari rumah Ayyub ini, samar-samar saya bisa melihat Pyramid Giza yang terkenal itu. Walaupun tidak terlalu jelas, namun setidaknya saya bisa merasakan bagaimana Habiburrahman mendapat ide-idenya dengan melihat pyramid itu dari balkon rumahnya yang sedikit berdebu.

Hari Jum'at memang begitu tenang. Orang-orang mesir tentunya masih tertidur lelap karena tadi malam mereka pasti begadang. Helwan, Jum'at siang hari kita bersama-sama menuju masjid yang begitu jauh. Di samping masjid itu berdiri sebuah gereja koptik dengan megahnya. Saya lalu teringat Maria, seorang perempuan penganut kristen koptik di novel Ayat-ayat cinta. Mungkin saja Habiburrahman terinspirasi dari gereja di samping rumahnya tersebut.

Akhirnya, siang itu saya harus pulang meninggalkan Helwan. Kebetulan Ayyub juga mau menonton pertandingan bola di stadiun Kairo yang pas di samping rumah saya yang dulu :( ... akhirnya saya dan Ayyub pergi menuju Ramsis dengan metro.

Dalam perjalanan, saya dan Ayyub berdiskusi tentang waktu. Ayyub ternyata sangat dalam pengetahuan fisikanya. Dia menyebut-nyebut teori relativitas waktunya Einstein. Saya sangat tertarik dengan penjelasannya tersebut. Katanya 'Menurut teory Einstein, suatu saat nanti manusia bisa menyebrangi waktu'. Dalam fikiran saya menjawabnya ... 'ya kalau bisa'. :D

Akhirnya kita berpisah di Ramsis. Ayyub menghilang begitu saja. Dia memang begitu misterius ...

Jumat, Oktober 09, 2009

Kunci Hati

Aku akan mencarimu
Hingga ke titik dasar lautan
Walaupun jiwa akan terbuang
Dibunuh kematian

Setitik harapan di hatimu
Itu sudah cukup buatku
Aku akan buktikan
Setiap kata yang terucap

Walaupun titik itu sudah melebur menjadi lautan
Aku tidak akan berputus asa
Karena aku yakin, titik2 itu akan bercahaya
Menuntunku menuju kesana

Kemudian titik2 itu akan menjelma menjadi sebuh kunci
Kunci hati yang sudah tertutup
Aku akan membukanya
Dengan senyuman dan peluk kehangatan

Aku harap engkau percaya
Karena tak akan ada yang percaya
Kemustahilan ini akan terbukti
Menjadi sebuah kenyataan yang pasti

Qatameya, 09 Oktober 2009 5.50 AM

Kamis, Oktober 08, 2009

Orang-orang yang kalah

Biarkan aku menulis. Dengan tinta darah yang selalu menetes perih. Biarkan aku menangis. Dengan tangis darah tanpa henti. Kenapa aku selalu kalah ? Kalah dengan keadaan, kalah dengan nasib, kalah dengan waktu ...

Padahal aku tahu bahwa manusia itu punya batas keberadaan. Manusia itu tidak kekal. Suatu ketika ia akan mati dan meninggalkan dunia ini. Aku heran, apa yang aku pikirkan dengan kehidupan ini. Apakah aku hanya bermimpi saja ? Ataukah aku benar-benar hidup ? Entahlah, aku tak bisa menjawab.

Kenapa aku begitu terpuruk ? Kenapa aku sekarang hanya menjadi sampah ? Apa terjadi ? Bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Sungguh aku berharap, semua yang terjadi adalah mimpi buruk saja, yang pada waktunya nanti aku akan terjaga dan menemukan bahwa kenyataan adalah sebuah keindahan yang aku idamkan.

Dari segala sisi aku dikepung keterpurukan. Seakan tidak mau memberiku nafas, aku sekarang sudah sekarat. Dengan keadaan yang begitu memprihatinkan. Apakah ini tanda kemurkaan ? Ataukah sebuah tanda kelemahan dan kekalahan ?

Manusia-manusia yang kalah selalu memintaku untuk meratapi kehidupan ini. Ratapan tanpa henti sehingga buat hati ini mati. Entahlah, sampai kapan aku begini. Mungkin setelah aku hilang nanti, aku baru sadar bahwa hidup itu begitu bernilai jika hanya diisi dengan kekalahan.

Minggu, Oktober 04, 2009

Pecinta Buta

Kenapa cinta itu tidak pernah habis untuk digali? Karena cinta adalah perasaan yang pasti akan dirasakan oleh semua orang. Dari dulu sampai nanti cinta akan tetap ada. Cinta ada selama manusia masih berada di dunia ini.

Cinta adalah sebuah keindahan yang terwujud dari bangunan taj mahal yang sebegitu megah dan artistiknya. Bahkan cinta adalah kewujudan itu sendiri. Dari dulu sampai sekarang bahkan nanti, tidak akan pernah ada orang yang mampu mendefinisikan cinta. Karena cinta ada di hati. Hati menyimpan berbagai macam perasaan yang tidak mungkin dapat terwakili oleh bahasa manapun di dunia ini.

Orang-orang yang jatuh cinta biasanya bisa membuat bahasa-bahasa aneh untuk mengungkapkan perasaannya. Bahasa-bahasa indah penuh makna nan dalam. Walaupun kadang terkesan dipaksakan dan dibuat-buat. Namun cinta lebih agung dari semua itu.

Hanya orang-orang pecinta saja yang bisa menikmati keindahan dan kedalaman bahasa-bahasa tersebut. Walaupun kadang secara tekstual bahasa-bahasa tersebut akan dianggap keluar dari 'cara berbahasa yang baik'. Namun secara substansial, bahasa-bahasa tersebut adalah buah dari perasaan yang tidak bisa dikendalikan lagi.

Selain agung, cinta itu juga suci. Cinta bukan penurutan terhadap hawa nafsu. Cinta dan hawa nafsu ibarat dua kutub magnet yang berbeda. Di satu sisi cinta mengajak kepada keindahan dan kebaikan, disisi yang lain hawa nafsu selalu mengajak kepada kebejatan dan keburukan...

Pecinta Buta

Oh, apakah aku pantas menjadi pecinta
Seperti Romeo dan Juliet yang terkenal itu
Atau seperti cerita--cerita masak kanak-kanak dulu
Cerita aladin dan putri raja

Atau cerita Julius Caesar dan Cleopatra
Atau Laila Majnun?
Entahlah... Mungkin itu semua hanya cerita saja
Di zaman sekarang ini sepertinya tidak akan ada cinta seperti itu lagi

Mati satu tumbuh seribu
Itulah yang orang2 dengungkan selalu
Semudah itukah cinta pupus
Apakah cinta itu rapuh ?

Oh, tidak ... cinta bukan seperti itu
Cinta itu kesetiaan
Sampai matipun tetap akan dipasakan di dada
Cinta itu bukan udara yang setiap detik bisa kamu keluar masukkan ke tubuhmu

Sekali cinta menyapa hatimu, ia tidak akan mau untuk keluar
Karena, cinta hanya masuk ke rumahnya yang tepat
Tidak ada rumah kedua buat cinta
Selamanya ia akan berada dirumah itu


Masakin Ostman, 04 Oktober 2009 3.04 PM

Kecil

Seharusnya, hal-hal yang begitu kecil itu tidak membuat hubungan kita menjadi rusak. Ternyata kerikil itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Kerikil itu sangat berbahaya jika kita tidak berhati-hati.

Betapa banyak orang yang lihai untuk menghindari bebatuan yang sangat besar, namun sangat sedikit orang yang sigap untuk tidak terantuk dengan kerikil-kerikil mini di jalanan. Kecil itu bukan berarti tidak berarti, kadang kecil itu yang bisa membuat perjalanan kita tidak nyaman.

Kalau mau jujur, ternyata hal-hal yang kecillah yang banyak membunuh manusia. Virus, bakteri dan kuman itu sangat kecil, namun mereka bisa membuat manusia menderita hingga meninggal dunia. Kecil sangat berarti karena sperma dan sel telur itu begitu kecilnya sehingga ia menjadi manusia yang sempurna.

Dalam hidup ini, kita tidak bisa meremehkan hal-hal yang kecil, karena pasir-pasir itu sangatlah kecil, namun akhirnya ia menjadi gunungan pasir yang sangat besar. Kecil juga berarti sebuah nikmat, karena apa jadinya jadi buah rambutan itu sebesar labu.

Namun bukan berarti kecil itu harus memisahkan kita. Karena masalah yang kecil itu bisa kita selesaikan dengan mudah. Cukup dengan kesabaran sebentar, insya allah masalah itu akan terselesaikan. Sayangnya, kadang kita terlalu mendramatisir sesuatu yang kecil sehingga ia menjadi besar dan dan tak terpecahkan.

Sabtu, Oktober 03, 2009

Surat Buatmu 1

Ya Allah, kenapa aku merasa tersiksa ... Kenapa dia mengatakan 'tinggalkanlah aku' sementara dia tahu bahwa cintaku padanya lebih banyak dari pada gunungan pasir? Apa salahku ya Allah ? Kenapa dia tidak merasa bahwa apa yang ia lakukan benar-benar membunuhku perlahan-lahan.

Aku begitu heran. Ia mengatakan 'aku masih sayang' tapi setelah itu ia katakan 'lupakan aku'. Sungguh aku benar-benar tidak bisa menerima hal semacam ini. Aku ini manusia biasa. Aku tidak setegar karang dan sekuat gunung. Hati-ku hanya seonggok darah dan daging.

Aku benar-benar tidak rela dan tidak ridho. Aku hanya ingin tahu, kenapa ? Apa salahku ? Apa karena kesalahanku yang ia bilang 'ya aku maafkan kesalahmu asal aku disayang' ... dan aku benar-benar menyayangi dirinya.

Lalu pada hari berikutnya ia lagi-lagi akan mengatakan 'cukuplah... lupakan aku... pergilah' Ya Allah ... Aku benar2 tersiksa ... Aku tidak tahan lagi ... Kenapa perasaanku dipermainkan seperti ini ... Padahal aku sangat sayang padanya ... Aku tidak ingin menyakitinya ... Tapi, kenapa dia seperti itu ? tiba2 berubah dalam waktu yang sebegitu dekat ...

Mungkin setelah membaca tulisan ini ia akan berkata ' sudahlah, cukup, jangan lagi merasa terbebani dengan diriku, biarlah ini yang terakhir' ... Padahal aku tidak merasa terbebani ... Aku begitu tulus mendengarkan cerita-ceritanya ... sekali lagi AKU TIDAK MERASA TERBEBANI ... aku hanya bingung ... kenapa seakan-akan kamu mengatakan ia dan tidak dalam satu waktu ...

Seakan-akan kamu hendak menguji kesabaranku. Dan ternyata kesabaran itu ada batasnya. Dan inilah batas dari kesabaranku. Aku benar-benar marah dengan dengan sangkaan-sangkaanmu. Atau memang kamu sengaja ...

Kamu memang menginginkan pergi dari diriku ini. Kamu merasa terbebani berhubungan dengan orang yang begitu jauh dan tidak jelas keberadaannya ini. Kamu ingin terbebas ... Kamu ingin tidak terbebani dengan komitmen-komitmen yang tidak jelas itu ... Semoga sangkaan-sangkaanku tersebut salah ... Dan aku berharap kamu tidak menganggap tulisan ini sebagai 'kemarahan' atau 'kebencian' ... TIDAK ... sekali lagi tulisan ini bukan karena aku sudah tidak cinta lagi dan kemudian hendak menjelek-jelekkan dirimu ... Sekali-kali tidak ...

Aku hanya ingin bertanya ... Aku butuh jawaban bukan sangkaan ... Apakah salah orang bertanya ? Apakah orang yang bertanya itu sudah 'tidak cinta' atau 'sudah benci' ... Bukan seperti itu ... Orang yang bertanya itu ingin tahu APA YANG SEBENARNYA ... Dan saya bertanya karena ingin bertanya ... bukan karena yang lain ... Aku benar-benar tulus bertanya ... Aku tidak bermaksud 'menjatuhkan' atau 'hilang kepercayaan' terhadap dirimu ... aku hanya ingin 'jawaban' dan sekali lagi bukan 'sangkaan' ... Semoga kamu bisa mengerti apa yang aku maksudkan.

Qatameyah, 03 Oktober 2009.

Korban Keadaan

Aku benar-benar terpojok. Menoleh ke kanan, kulihat jemari halus sedang menunjuk wajahku dengan dengan hinanya. Menoleh ke kiri, kulihat tangisan yang sepertinya tidak pernah akan berakhir, penderitaan sepanjang waktu.

Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku bingung. Mungkin tidak pernah akan ada orang yang mengerti. Biarlah aku yang menanggung semua. Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang aku kerjakan. Karena aku hanya ingin sebuah kebaikan untuk semua.

Ternyata anganku untuk menjadi pahlawan kandas begitu saja. Mungkin karena aku tidak ikhlas karena Allah semata. Mungkin Allah hendak menegorku, bahwa niatmu tidaklah setulus ucapanmu. Aku benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi. Biarlah semuanya terjadi. Aku akan menanggungnya sendiri.

Disini aku hanya bisa termenung sambil lalu memandang langit yang begitu indah dengan bitang-bintang. Akankah cukup sebuah kata maaf ? Ataukah aku harus pergi begitu saja dengan menutup telinga dan memejamkan mata ? Namun aku bukan seorang pengecut yang akan lari dari kesalahan.

Aku akan menghadapi semua tudingan dan kesalahpahaman ini. Biarlah, aku tidak peduli lagi. Biarlah, terserah apa yang difikirkan setiap orang. Aku akan tetap berdiri disini. Karena aku yakin, bahwa apa aku lakukan adalah sebuah kebenaran. Biarkanlah aku disini, tinggalkanlah, bencilah atau bahkan lupakanlah. Aku memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Aku sungguh benci dengan masalah. Aku hanya mengharap keluar dari masalah secepat kilat. Namun aku heran, kenapa semakin cepat aku mencoba meninggalkan masalah, semakin besar pula masalah itu? Aku heran dengan masalah-masalah yang semakin besar dan kompleks. Mungkin karena inikah manusia di dunia ini selalu berperang satu sama lain ?

Karena sangkaan-sangkaan yang ditanggapi dengan sangkaan-sangkaan yang lain. Akhirnya bukan kebenaran dan penerimaan yang ada, bahkan saling tuding dan kebencian dan rasa tersinggung dan ketidakpuasan yang menggelora. Entahlah, aku benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi.

Memang tidak mudah untuk menyatukan otak dan fikiran yang berbeda. Setiap manusia memiliki perasaan, kecerdasan dan daya tangkap yang berbeda. Manusia akan memandang apa yang ia dengar, apa yang ia lihat, apa yang ia rasakan dengan ekspresi yang berbeda. Sekali lagi karena pemahaman yang berbeda. Sudut pandang dan paradigma setiap orang yang akhirnya membuat dia berbeda dengan orang lain.

Herannya, perbedaan-perbedaan ini kadang yang menjadi penyulut konflik. Padahal, sudut pandang2 tersebut bisa dikomunikasikan. Dan itu yang sedang aku lakukan. Tapi ternyata aku gagal. Ya, gagal dalam mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan persepsi dan sudut pandang tersebut.

Aku ternyata bukan hanya gagal, tapi sudah menjadi korban keadaan. Aku merasa menjadi korban dari kegagalan tadi. Walaupun aku sadar bahwa itu adalah konsekuensi dari keberanianku tersebut. Aku benar-benar melakukan sebuah perjudian tingkat tinggi. Jika sukses, maka orang-orang yang berkonflik tersebut akan kembali berdamai. Mereka akan saling menghormati lagi. Tidak ada kecurigaan diantara mereka. Dan itu akan membuat aku bahagia. Ya, aku bahagia jika mereka tersenyum dan saling berbaik sangka diatara mereka berdua. Aku tidak ingin yang lebih dari itu.

Namun, jika aku gagal maka, aku harus bersiap-siap menjadi orang yang paling hina di dunia ini. Dan kini aku telah gagal dan menjadi orang yang paling hina di dunia ini. Aku dianggap sebagai seorang munafik. Ya, walaupun tidak terkata, namun terasa. Aku akan dianggap sebagai pembohong, yang mengatakan A kepada satu orang dan mengatakan B pada orang lain.

Namun biarlah, aku tidak mau berapologi. Biar aku yang menanggung semua. Biarlah aku menjadi bintang yang tidak pernah diingat orang ketika cahaya bulan menyinari bumi dengan angkuhnya. Biarlah aku menjadi orang-orang yang dilupakan ...

Kamis, September 24, 2009

Menjadi Spesial

Aktualisasi diri adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan setiap individu manusia. Karena manusia adalah makhluk yang terus mencari jati dirinya, maka perlu ada semacam penampakan 'diri'. Aku, kamu dan mereka adalah manusia-manusia yang hanya dikenal sepintas oleh orang lain. Maka jangan heran jika ada orang yang akan mengatakan bahwa keberadaanmu seperti ketiadaanmu.

Manusia perlu menampakkan keberadaannya di dunia ini untuk diakui oleh orang lain. Maka jalan yang paling tepat minimal menurut penulis adalah dengan menjadi spesial. Ya, manusia sangatlah banyak, maka harus ada sesuatu yang spesial dari setiap individu untuk membedakannya dari individu yang lain.

Tentunya banyak cara untuk menjadi spesial, salah satunya adalah dengan 'berbeda' dengan orang lain. Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa jika Anda berbeda maka anda akan dapat diketahui. Seperti jika kita memelihara domba-domba berwarna putih, maka jika ada salah satu domba yang berwarna hitam diantara warna putih tersebut, maka dengan cepatnya kita akan memperhatikan domba yang berbeda tersebut.

Namun jalan ini sangatlah riskan dan banyak tantangan. Tentunya dengan menjadi berbeda dengan kebanyakan orang akan mengundang pro dan kontra. Orang-orang yang paham dan mengerti bahwa dunia ini penuh dengan perbedaan-perbedaan akan menerima 'keanehan' tersebut dengan fikiran terbuka. Namun berbeda dengan orang-orang yang dalam hidupnya hanya mengenal satu warna saja, maka bisa jadi kekerasan fikiran, lisan atau bahkan fisik akan menjadi balasan dari 'keanehan' tersebut.

Tentunya untuk menjadi spesial tidak hanya melalui jalan diatas. Banyak jalan menuju Roma. Jika Anda sempat menonton film kung fu panda dan mendalami pesan yang hendak disampaikan oleh film tersebut maka minimal Anda akan berkesimpulan seperti apa yang saya simpulkan yaitu bahwa untuk menjadi spesial itu sangatlah gampang, karena menjadi spesial adalah menjadi diri sendiri. Menjadi spesial bukan karena orang menganggap kita spesial, namun menjadi spesial karena kita menganggap kita adalah individu yang spesial.

Semua yang ada di diri masing-masing manusia adalah spesial. Tangan yang saya miliki bukanlah tangan yang Anda miliki, begitu juga organ tubuh lainnya. Menjadi spesial dengan menjadi diri sendiri adalah dengan cara mengoptimalkan potensi diri sendiri. Tangan saya yang hanya berjumlah dua ini tentunya memiliki kekhususan yang tidak dimiliki tangan yang orang lain punya.

Tangan yang saya miliki adalah tangan seorang penulis yang setiap harinya harus menulis beberapa paragraf, maka dengan tangan itu saya sudah menjadi spesial dari orang yang tangannya setiap hari menjadi tukang bangunan misalnya. Saya menjadi spesial karena dengan tangan yang saya miliki ini saya mampu memproduksi sesuatu yang tentunya berbeda dengan apa yang diproduksi oleh tangan orang lain.

Maka tentunya dengan menjadi spesial orang lain tidak akan meremehkan kita dan menganggap kita 'tidak ada' atau 'mudah ditiadakan', karena kita adalah individu-individu spesial yang sudah mampu untuk mengaktualisasikan diri sehingga selalu berjalan selangkah lebih maju dari kebanyakan orang...

Cinta 5 Musim

Musim Gugur : Angin begitu keras di luar sana, namun tak sekeras tangisku di kamar itu. Aku menangis mendengar ceritamu waktu itu, kamu yang sedang lemah, kamu yang tidak berdaya... Benih-benih cintapun mulai bersemi, di musim gugur itu cintaku bersemi. Dedaunan yang jatuh mengotori halaman rumahku seakan menjadi tunas-tunas baru di hati kehidupanku.

Musim Dingin : Udara yang dingin ini tak seperti apa yang ku rasakan di hati ini. Cinta memang membawa bara, ia akan menghangatkan hati ini. Rasa senang, duka, cemburu dan harapan, semuanya membuat hati menjadi panas ... bergejolak dengan ucapan kasih sayang, cinta dan do'a.

Musim Semi : Ada yang berbeda dari dirimu. Kau selalu menghilang atau menghindar... aku sudah merasakan kekhawatiran yang begitu dalam, apakah kau akan datang ? ataukah kau akan menghilang begitu saja? aku tidak tahu, namun akhirnya kau datang dengan senyuman ... Musim semi, kekhawatiran itu datang ...

Musim Panas : Aku selalu bersabar menunggumu, aku bahkan tetap percaya dengan dirimu. Walaupun banyak hal yang aku sudah ketahui tentang dirimu hingga dada ini kadang terasa sesak ... namun yang perlu kamu ketahui ... aku tetap percaya kepadamu ...

Musim Gugur : Awal musim gugur ini udara terasa dingin. Mungkin alam tahu bahwa hati ini sudah membeku. Mudah kau katakan padaku, aku telah melupakanmu maka biarlah semua yang berlalu menjadi kenangan kelabu, kamu begitu mudahnya mengatakan itu ... sangat amat mudah seperti dedaunan yang dengan mudah terjatuh tak berdaya dari ranting-rantingnya... aku menjadi heran, apakah pernah aku di hatimu ? atau aku hanya pilihan buatmu ? pilihan terakhir ketika kamu sudah terpaksa memilih, pilihan yang akhirnya harus kamu buang setelah kamu menemukan pilihan terbaikmu? entahlah, aku tak tahu dan tak mau tahu ... tapi, satu hal yang perlu kamu ketahui bahwa, disebalik pertanyaan-pertanyaan di benakku tersebut, aku masih percaya kepadamu, dan selalu meletakkan harapan bagi kedatanganmu yang telah engkau anggap sebagai mimpi dan khayalan itu ... dulu, sekarang ataupun esok nanti ... aku tetap akan mencintaimu.

Yusuf Abbas, Awal Musim Gugur Kelabu, 24/09/2009

Sabtu, September 12, 2009

Gerak

Suatu hal yang sangat menakjubkan telah terjadi, tepatnya 2 tahun lalu seorang teman saya ketika itu masih memiliki status yang sama dengan keadaan yang hampir sama dengan apa yang saya alami, namun sekarang, sungguh dia telah melangkah dengan berlari... dia menjadi orang sukses dalam tempo 2 tahun saja. Pertanyaannya adalah, Apa yang bisa membuat seseorang itu bekerja dengan giat ?

Fikiran saya selalu terfikir, dalam segi potensi, saya rasa tidak jauh berbeda antara saya dan dia, namun apa yang terjadi pada dirinya sehingga dia begitu cepat melangkah? Apakah tekanan-tekanan itu akan bisa membuat orang semakin bersemangat dalam mengarungi kehidupannya ? Ataukah karena dia hanya beruntung saja ? Atau mungkin dia sudah ditakdirkan demikian ? Saya tidak tahu apa pertanyaan yang paling tepat, namun yang jelas yang paling saya yakini adalah bahwa dia sudah melakukan sebuah gerakan.

Yah, dia sudah bergerak dan mencoba untuk merubah dirinya sendiri. Ia tidak pernah diam, ia terus berjalan dengan dinamika kehidupan, atau dalam bahasa lain ia telah berjalan di atas jalan yang telah Allah gariskan dengan sunnah-sunnahnya. Ia tahu bahwa jika ia haus maka perbuatan yang harus ia lakukan akan dengan menggerakkan kedua kakinya untuk mencari air minum dan kemudian menggerakkan tanggannya untuk mengambil air tersebut kemudian dia minum.

Ia seakan-akan tahu jika langit itu mustahil menurunkan hujan emas. Kehidupan itu bukan sebuah mimpi indah, ia adalah perjuangan dan yang paling penting ia adalah gerakan-gerakan dalam hidup ini. Berjalan berdasarkan sunnatullah inilah yang saya rasa menjadi jawaban tepat dari sebuah pertanyaan majhul yang tidak pernah saya ketahui hakikatnya tentang, kenapa orang itu bisa lebih dari saya ?

Coba kita fikirkan, apa kesamaan dan perbedaan dari orang yang lari di tempat dan orang yang lari dengan menyusuri jalan ? Yang paling jelas adalah, kesamaannya mereka berdua sama-sama merasakan kelelahan karena berlari, namun yang membedakan adalah bahwa yang pertama masih di tempat awal dia memulai, sedang yang kedua sudah melewati tempat awal dia memulai...

Yusuf Abbas, 12 September 2009

Kamis, September 10, 2009

Keseimbangan

Jalan hidup manusia memang berbeda-beda. Kita tidak bisa terus menerus takjub dengan apa yang dicapai orang lain, karena bagaimanapun kita takjub, keadaan tidak akan pernah berubah. Lihatlah diri kita sendiri, di kaca atau di cermin kusut, siapa tahu kita akan menemukan sesuatu yang akan membuat kita tersenyum, sesuatu yang ada di wajah kita sendiri, bukan di wajah orang lain.

Jalan hidup manusia memang tak pernah lepas dari duri. Karena, jika manusia terus menerus berjalan di jalanan yang mulus, ia tidak akan pernah tahu rasa sakit dan akhirnya ia akan menjadi manusia-manusia bebal yang tidak mau mengerti apa itu penderitaan. Maka tidak heran, jika kebanyakan orang yang kaya setelah miskin itu akan lebih suka memberi dan menolong dari pada orang yang sejak ia menghirup udara dunia ini sudah hidup di antara tumpukan emas dan perak.

Perjalanan hidup manusia itu adalah kumpulan dari pengalaman hidup dia, dimana ia merasakan suka, duka, tangis dan tawa. Semuanya itu adalah pengalaman pribadi yang hanya dia saja yang bisa merasakannya. Semakin lama seseorang itu hidup di dunia ini, maka semakin banyak pula pengalaman yang ia lalui. Orang-orang tua selalu menyebutnya dengan 'sudah banyak makan asam-garam kehidupan' yang artinya dia sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi kehidupan ini, bagaimana ia bersikap ketika suka, duka, tangis ataupun tawa.

Maka, untuk apa iri ? melihat orang lain sukses, atau mencapai sebuah pencapaian yang sangat bagus dari fase kehidupan dia ... iri hanya akan menambah hitam busuk di hati yang sudah busuk ini. Manusia-manusia sukses yang kita lihat itu sebenarnya sama dengan kita, hanya saja dia lebih beruntung saja, atau dia memiliki kemauan di atas kemauan kita. Potensi yang sama namun cara penyikapan yang berbeda. Allah itu Maha adil, karena keadilan-Nya itu Allah tidak menciptakan segala sesuatu itu SAMA, Allah hanya menjadikan segala sesuatu itu SEIMBANG (wa wadho'al mizan).

Seimbang itu tidak harus sama, karena manusia memiliki porsi yang berbeda, seperti contoh antara lelaki dan wanita. Allah sangatlah adil karena telah memberikan kebutuhan kedua jenis ini secara SEIMBANG bukan secara SAMA. Karena kadang jika kebutuhan itu disamakan tanpa melihat faktor keseimbangan, maka akan terjadi sebuah ketimpangan yang akan mengakibatkan kerusakan bagi kemanusiaan secara umum.

Maka jangan heran jika kita melihat di dunia ini ada kaya ada miskin, ada sukses ada gagal, ada sehat ada sakit dan lain sebagainya. Karena semua itu adalah sebuah bentuk Keseimbangan yang pada akhirnya nanti adalah untuk kemaslahatan manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Jadi buat apa kita memikirkan pencapaian orang lain, toh itu adalah pencapaian dia, bukan pencapaian pribadi saya ?

Yusuf Abbas, 10 September 2009

Selasa, September 08, 2009

Juara

Siapa yang tidak ingin menjadi juara ? semua orang menginginkan ia menjadi pemuncak, melewati orang-orang yang berjalan bersamanya untuk menjadi yang paling depan, menjadi pemimpin dan orang yang dilihat.

Juara adalah pemenang, karena untuk mencapai label juara, ia harus mengalahkan musuh-musuhnya. Menjadi juara adalah harapan semua orang, karena dengan menjadi juara ia akan tahu kualitas dirinya dan perbedaan yang membedakan dia dan orang lain. Selain itu juara adalah impian setiap orang karena ia adalah sebuah prestasi yang sangat indah untuk dikenang nanti dimasa depan.

Juara adalah kebanggaan, maka tak heran jika sang juara tidak akan lepas dari senyuman. Juara dan senyuman ibarat makanan dan garam, kedua-duanya akan hadir dalam waktu yang bersamaan. Kepuasan dan rasa senang akan membuat sang juara merasa terharu, maka tak jarang pula, juara adalah tetesan air mata haru.

Menjadi juara tentunya tidak mudah. Mulai dari awal sang juara akan mempersiapkan diri dia, membenahi kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan, karena tentunya harga dari sebuah label juara sangatlah mahal, bahkan bisa saja membutuhkan tenaga dan air mata ekstra.

Dalam hal ini ada betulnya sebuah pemikiran yang mengatakan bahwa manusia itu selalu menginginkan kesempurnaan. Maka, mungkin saja ia menjadi juara dalam satu hal, namun di hatinya terbesit hembusan-hembusan untuk menjadi juara di bidang yang lain. Juara adalah keinginan-keinginan dalam hati manusia. Ia ada sejak manusia itu masih menjadi butir-butir sperma yang saling beradu menjadi juara untuk sampai pada sel telur. Akhirnya, hanya satu saja juara pemenang perlombaan tersebut, yang nantinya akan menjadi sesosok makhluk yang bernama manusia.

Setiap manusia memang ditakdirkan untuk menjadi juara, maka tak heran jika dalam setiap ajaran-ajaran baik itu berupa agama dan filsafat, manusia dituntut untuk menjadi pemenang, baik itu di dunia ini ataupun kelak di akhirat sana. Oleh karena itu manusia selalu diajak untuk menjadi manusia-manusia yang kuat, manusia-manusia yang mampu untuk survive di dalam kehidupan ini. Tentunya dengan moral dan pekerti yang baik.

Menjadi juara saja tidak cukup jika itu tidak dibarengi dengan moral dan pekerti yang baik. Karena, manusia itu selalu salah dan lupa, maka bisa saja ketika ia menjadi pemenang, ia akan berbuat sekehendak hati dia, ia tidak akan mendengarkan lagi orang-orang yang lebih bawah dari dirinya karena ia merasa teratas, ia adalah super power, selain dirinya seharusnya mengikuti apa yang ia kata kerjakan.

Yusuf Abbas, 07 September 2009

Sabtu, September 05, 2009

Kabut di Mataku

Kenapa kau selalu menutupi mataku? Seakan aku tidak perlu lagi tahu apa yang sedang menimpamu. Kau sudah berbeda, jauh berbeda dari kau yang dahulu aku kenal. Semoga ini hanya perasaanku saja. Aku tidak berharap apa yang aku tebak itu suatu realita yang tidak bisa kau pungkiri.

Aku sudah putus asa untuk tahu apa warna kabut disebalik raut mukamu itu. Padahal aku hanya ingin tahu, putihkah ? atau kabut itu semakin gelap kelam? Aku sangat heran, dengan perlahan kau berusaha menyembunyikan kabut-kabut itu. Aku tahu kau menyimpan kabut, namun aku hanya pura-pura tidak tahu. Aku ingin kau merasa bahwa aku ini memang seorang yang sangat mudah untuk percaya.

Kamu harus tahu, bahwa sebentar lagi mentari akan terbit dan kabut-kabut yang kau sembunyikan itu akan hilang dengan sendirinya, tanpa aku minta atau paksa. Namun aku masih mengharap, sebelum mentari terbit kau sudah memberi tahu aku apa warna kabut itu, hijaukah ? Namun sepertinya kau akan tetap menyembunyikan kabut-kabut itu hingga ujung fajar...

Memang aku akui, kau berhak untuk menyimpan sendiri kabut-kabut itu. Namun, perlulah kau ketahui bahwa aku yakin kabut-kabut tersebut pasti berkaitan dengan aku. Karena dulu dan kini aku adalah bagian dari dirimu. Namun entah sekarang, apa kabut-kabut tersebut sudah membuatmu lupa dengan keberadaan diriku ? Aku juga tidak pasti karena misteri warna kabut semakin buram saja.

Yusuf Abbas, 05 September 2009

Jumat, September 04, 2009

Songsong

Mundur bukan berarti kalah
Maju bukan berarti menang
Kalah itu menyerah
Menang itu kemauan keras

Kebanggaan adalah kesabaran
Kehinaan adalah ketergesaan
Setiap langkah itu tanggung jawab
Pertimbangan sangat diperlukan

Ilmu itu sangat luas
Ia ada dimana-mana
Janganlah engkau berputus asa
Selagi jiwa masih bernyawa

Kesalahan itu wajar
Jangan terlalu larut dengannya
Karena hari esok masih ada fajar
Untuk menyongsong masa depan

Rabu, September 02, 2009

ilir ilir dan artinya

Ilir-ilir, ilir-ilir
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar

Bait di atas di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman
padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang
menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan
pula dengan pengantin baru. Jadi ini adalah penggambaran usia muda
yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya.

Bocah angon, bocah angon
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro

Anak gembala,
panjatlah [ambillah] buah belimbing itu [dari pohonnya].
Panjatlah meskipun licin,
karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.

Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima
rukun Islam; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan
perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun
licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.

Anak gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos
dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi
inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut 'bocah
angon'.

Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi
pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin
formal dalam berbagai tingkatan.

Dodot-iro, dodot-iro
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore

Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya.
Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk "menghadap" nanti
sore.

"Sebo" adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan 'sowan'
atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.

Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita.
Menghadap bermakna menghadap Allah.
Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang
kematian kita.

Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane

Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan
tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu
sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.

untuk videonya bisa di buka di : http://www.youtube.com/watch?v=diTgOm1VAf8&feature=related

Selasa, September 01, 2009

Mujawwad

Malam ini, tidak seperti malam-malam sebelumnya, aku ditemani oleh qori' fenomenal Indonesia Mu'ammar dan bacaan mujawwad beliau tentang beberapa ayat-ayat Al-Quran. Sangat indah mendengarkan lantunan demi lantunan ayat-ayat Al-Quran dibawakan dengan suara yang lembut serta lagu-lagu yang membuat bulu roma tergetar mendengarnya. Tentang ayat-ayat kaun, penciptaan manusia, tentang penciptaan langit dan bumi...

Sungguh, Al-Quran itu benar-benar merupakan penawar hati yang paling ampuh. Coba Anda dengarkan dengan seksama bacaan mujawwad Mu'ammar tersebut, ayat demi ayat, bagaimana dia mengangkat nada suara, bagaimana dia mengecilkan nada... Subhanallah... Anda akan merasakan seperti dibawa ke alam yang lain, alam keagungan yang membuat air mata Anda tidak akan mampu anda tahan untuk mengalir...

Orang yang berhati hidup, ketika ia mendengar bacaan Al-Quran bulu-bulu romanya akan merinding, seluruh kulitnya akan kaku dikarenakan ia sedang mendengar sebuah ayat-ayat alam yang terangkum dalam sebuah kitab suci yang mana gunungpun tidak mampu untuk sekedar menjadi tempatnya, kemudian setelah itu kulitnya perlahan akan melemas karena merasakan sebuah ketenangan luar biasa, bagaimana tidak, hatinya yang hanya terbuat dari daging dan darah mampu untuk menampung ayat-ayat alam sedangkan gunung untuk menampugnya saja tidak mampu! sesudah itu ia akan masuk dalam alam dzikrullah dimana ia akan merasakan berada di hadapan sebuah dzat yang sangat-sangat agung, kemudian disinilah ia akan merasakan kehinaan yang tiada tara karena kenyataannya ia adalah sesuatu yang tidak ada, yang ada hanya Allah...

Sabtu, Agustus 29, 2009

Tuhanku

Tuhanku telunjuk jariku sudah tidak kuat lagi kuangkatkan tuk sekedar menunjuk keagunganmu...Tuhanku dahi inipun sudah lama tidak bergesekan dengan munajat keesaanMu...Tuhanku apakah aku masih hambaMu ?

Senin, Agustus 17, 2009

Aku Cinta Negeriku

Aku tidak pernah menyesal menjadi bagianmu. Aku hanya bersedih jika melihat dirimu bermuram durja. Sungguh aku sangat mencintaimu, walaupun dirimu penuh dengan luka. Walaupun kini dirimu jauh dariku, namun ketahuilah rindu ini terus membara.

Aku tahu dirimu adalah mutiara di tengah samudera yang bersinar dikala siang dan semakin terang di waktu malam. Aku tahu, banyak mata yang ingin merengkuhmu, menguasaimu dan menjadikamu alat untuk memperkaya diri. Namun ketahuilah, aku tidak akan tinggal diam karena aku adalah tanahmu, aku adalah udaramu, aku adalah airmu, aku adalah apimu.

Kamu adalah permainanku bersama ilalang, kamu adalah tangisanku ketika malam datang. Hujanmu membasahi kerongkonganku, Kemaraumu membuatku paham arti sebuah nikmat. Kamu adalah kehidupan, impian bahkan kematian.

Meski manusia-manusiamu seperti binatang saling terkam bodoh, kamu tetap bersabar, walaupun sesekali kamu marah atau mungkin kamu sebenarnya tidak marah, kamu hanya ingin berkata-kata, menyapa kami yang tidak pernah sama sekali berterima kasih kepadamu.

Kamu mungkin ingin mengatakan 'wahai para khalifah Allah, jagalah diriku ini, bumi yang allah titipkan padamu. Jagalah hitamku, jagalah biruku, jagalah hijauku, jagalah beningku, aku juga makhluk sepertimu, aku merasa sakit seperti engkau sakit, aku juga merasa bahagia seperti kebahagiaanmu, maka ingatlah selalu bahwa aku adalah hidup matimu.

Namun manusia adalah makhluk yang paling bodoh, bagaimana tidak, ia tahu tapi tidak tahu, ia faham tapi tidak faham, ia pintar tapi bodoh karena ia berfikir tapi hakikatnya terlelap. Ia hancurkan apa yang seharusnya ia bangun, ia bunuh apa yang seharusnya ia jaga, ia cemarkan apa yang seharusnya ia bersihkan.

Sehingga dirimu kini sebegitu menakutkan. Dimana-mana yang ku dengar hanya kerusakan. Hutanmu, lautmu, udaramu, bahkan untuk hidup di dirimupun sudah tidak aman. Dimana-mana pembunuhan, pemerkosaan, ketidakadilan, penculikan, kekerasan, pencurian, bahkan pembohongan secara besar-besaran sudah tidak aneh lagi. Jiwa sudah tidak ada lagi harganya, kehormatan sudah langka bahkan agama sudah mulai ditinggalkan. Sudah pantas dirimu kiri kepanasan, selalu ingin muntah atau paling kecil mengguncang-guncangkan diri.

Walaupun begitu, aku tetap bagianmu yang akan mencintaimu selalu, suatu saat nanti, aku akan membuatmu tersenyum, karena kamu waktu itu adalah bumi yang paling menarik untuk dikunjungi, langitmu cerah, hutanmu indah, tanahmu subur dan airmu jernih ...

Minggu, Agustus 16, 2009

Buta dan Tuli

Aku sudah tuli, padahal pendengaranku sangatlah baik
Tak perlu ku datangi dokter, tapi aku benar-benar sudah tuli
Aku masih mendengar orang-orang yang menyapaku
Bahkan musik-musik yang dilantunkan keras-keras

Namun aku merasa, aku sudah tuli
Tuli aku ketika telingaku sudah tidak mendengar jerit di dadaku
Hatiku selalu berteriak-teriak tentang perubahan dan perjuangan
Sayangnya, aku sudah tuli

Apakah aku adalah orang-orang yang tidak mungkin kembali ?
Ataukah termasuk orang-orang yang tak berfikir ?
Entahlah, karena semakin hati ini berteriak
Aku semakin tuli

Ketulian ini bukan karena keterpaksaan
Ia adalah pilihan
Pilihan dari kekerasan hati
Yang setiap-hari semakin mengeras batu

Inikah yang dinamakan mendengar tapi tak mendengar
Melihat tapi tak melihat
Merasa tapi tak merasa
Berkata tapi tak terucap

Fa innaha la ta'mal abshoru walakin ta'mal qulubul lati fis shudur

Yusuf Abbas, 16 Agustus 2009 5.53 PM

Hakikat

Akupun melihatnya tersungkur-sungkur
Lalu dengan sisa tenagaku, aku mengangkatnya
Ia lalu melihatku sembari tertawa lebar
Ia kemudian bercerita

Aku ini adalah seorang pengelana
Aku tinggalkan sanak saudaraku, tanah dan negriku
Aku aku hanya ingin mencari sebuah arti dari kata 'hakikat'
Aku kemudian tersesat di sebuah gunung berhutan-hutan

Kemudian engkau datang menolongku
Ketika nyawaku sudah hampir sampai ke kerongkonganku
Kau penyelamatku, kau pahlawanku
Kalaupun ada umur panjang, aku akan kembali padamu dengan membawa hakikat

Ya, kutunggu dirimu datang kembali
Sehari, dua hari sampai bertahun2 ia tidak pernah datang kembali
Batinku dalam hati, ia akan datang esok
Karena, ia adalah aku dahulu

Aku adalah seorang pengembara tersesat
Hutan ini telah mengurungku berpuluh2 tahun lamanya
Setiap kali aku mencari jalan keluar
Namun yang kutemukan adalah, aku kembali lagi di tempat berpijakku ini

Setelah ia sampai ke tempatku ini
Ia hanya berkata
Sekarang aku tahu apa itu hakikat
Perjalanan tanpa istirahat itu tidak bijak


Yusuf Abbas, 16 Agustus 2009 1:41 AM

Sabtu, Agustus 15, 2009

Tasbih

Bersemedi aku dengan untaian asma-Mu
Ya Rahman, Ya Rahim Irhamna wal Muslimin
Wahai Maha Pengasih dan Penyayang, Sayangilah kami dan Umat Islam

Terus menerus ku gerakkan tasbih-tasbih cinta
Meminta, memohon sebuah kasih sayang
Tolong, tolonglah kami ini

Hanya Engkaulah Sang Maha Asih
Hanya Engkaulah Sang Maha Welas
Hanya Engkaulah Sang Maha Cinta

Terus menerus tasbih cinta kugerakkan
Hingga akhirnya tasbih-tasbih itu putus beruraian
Sembilan puluh sembilan jumlahnya

Ku pilih satu demi satu butir-butir tasbihku
Hingga ketika aku sampai pada butir yang ke sembilan puluh delapan
Aku terkejut, satu butir telah hilang

Kucari di lantai penuh amis darah
Namun semakin lama ku mencari
Bau-bau busuk semakin menyeruak

Tiba-tiba kulihat satu cahaya di sebuah tubuh yang berurai-urai
Satu butir tasbihku berada disana
Di dekat mayat seorang pemuda

Aku terkejut dan kembali mengambil satu butir tasbihku
Namun heran memang, tasbihku kini tidak sama
Karena satu butir itu tiba-tiba bertuliskan satu kata Ya Lathif ...

Jumat, Agustus 14, 2009

Wal yatalatthaf ...

Lembaran demi lembaran ku telusuri
Namun tak ku temukan apa yang ku cari
Satu, dua, tiga baris sampai berbaris-baris

Seingatku, dahulu aku pernah menemukannya
Di tengah-tengah, pas ditengah
Wal yatalatthaf ... Berlemah lembutlah

Berlemah lembutlah wahai jiwa-jiwa gersang nan kasar
Fikiranmu darah berletup letup
Tak seperti itu ajaran Allah

Wal yatalatthaf ... Berlemah lembutlah
Gurumu adalah wa innaka la'ala khuluqin 'adzim
Akhlak mulia meski musuh mencerca meludahi

Apalagi kepada saudara-saudara seiman seislam-mu
Wal yatalatthaf ... Berlemah lembutlah
Darah saudaramu haram bagimu

Wal yatalatthaf ... Berlemah lembutlah
Karena engkau bukanlah seorang mukmin
Jika engkau belum mencintai saudaramu seperti dirimu sendiri

Yusuf Abbas, 14 Agustus 2009 1:18 PM

Haribaanku

Rebahkanlah kepalamu di pangkuan haribaanku
Ingatlah, ketika masa kecilmu dahulu
Aku sudah tercabik-cabik selalu

Yusuf Abbas 14 Agustus 2009

Senin, Agustus 10, 2009

An-Nafsu Al-Ammarah Bis-Su~'

Hawa nafsu itu tidak pernah lelah
Ia terus menerus membisik-bisik
Mendekatlah...lakukan ini, lakukan itu
Tinggalkan ini, tinggalkan itu

Ia seperti Tuhan yang memerintah dan melarang
Padahal ia hanya makhluk lemah
Kata Tuhan padanya, datanglah pada-Ku
Baik itu dengan penuh ketaatan atau pemaksaan

Hawa nafsu itu sangat taat sekali pada perintah Tuhan
Ia terus menerus membisik-bisik
Tanpa lelah dan bosan
Ia bahkan terlihat seperti bayi

Sapihlah hawa nafsumu
Karena ia adalah bayi
Terus menerus meminta air susu
jika ia tidak disapih ibu

Kata Syekh Ali Jum'ah padaku
Janganlah engkau mengikuti Freud
Karena ia menyuruh untuk mengikuti nafsu
Padahal nafsu jika dituruti akan menjadi-jadi
Bukan ketenangan yang didapati
Namun api makin menyala berkobar

Ikutilah Kata Penulis Burdah
Hawa nafsu itu bisikannya harus dilanggar
Ia menyuruh ke kanan, kamu ke kiri
Ia mengatakan 'iya' kamu harus mengatakan 'tidak'
Ia melarangmu maju, kamu harus mundur
Ia memberimu harapan, kamu harus membuang angan-angan itu

Hawa nafsu itu ada tujuh
Cukup disini ku sebutkan satu
Inilah yang dinamakan Nafsu yang selalu membisikkan kejahatan
Ulama menyebutnya An-Nafsu Al-Ammarah Bis-Su~'.


Yusuf Abbas, 10 Agustus 2009

Wahai Subuh

Aku rindu padamu wahai Subuh
Sudah lama tak ku nikmati ketenangan munajatmu
Aku Selalu terlelap dengan mimpi
Padahal aku tahu engkau itu rezeki

Subuh, oh Subuh
Selalu ku teriakkan namamu
Agar mata ini terbuka
Aku sangat rindu padamu

Disini tak ada kokok ayam
Embunpun jarang jarang
Berat memang
Namun jiwa ini terasa gersang

Aku tak tahu siapa lagi yang merindukanmu
Tapi, aku benar-benar ingin selalu bersamamu
Aku tidak mau meninggalkanmu barang sejenak
Karena detik demi detikmu adalah rahmat

Subuh, oh Subuh
Dekaplah aku dengan dinginmu
Buatlah hati ini kembali hangat
Seperti semi datang menyapa

Senin, Agustus 03, 2009

Berburu 'Amal Kamilahnya Syekh Muhammad Abduh

Berburu 'amal kamilahnya syekh Muhammad Abduh terbitan Maktabah Usrah begitu susahnya. Konon bukan karena buku-buku itu cepat habis dibeli pelanggan, namun dari info yang saya dapatkan dari seorang pemilik toko buku di Azbakiyah Attabah Kairo, ada kongkalikong antara petugas di Hai'ah Ammah lil Kitab sebagai pihak penyelenggara buku-buku bersubsidi pemerintah dengan beberapa penjual buku-buku bekas.

"Demi Allah saya tidak pergi membeli buku ini ke Hai'ah Ammah" tutur Muhammad Ma'tuk tegas, setelah beberapa kali saya menawar salah satu buku 'amal kamilahnya Abduh dengan harga le. 10, Ma'tuk menjualnya dengan harga le. 15. Saya bolak-balik buku itu, di sampul belakang harga buku yang seharusnya tertera sudah hilang entah kemana. "Klo kamu membeli buku ini di toko sebelah, minimal mereka akan menjualnya le.25", seakan dia sudah tahu kalau saya sedang memperhatikan harga buku yang hilang di sampul belakang buku itu ia kemudian melanjutkan ceritanya.

"Saya mendapat buku ini dengan harga le.12, klo saya menjualnya le.10 saya akan rugi dunk" nadanya datar, saya hanya tersenyum mendengar kata-katanya tersebut. Kebetulan tadi saya dari Hai'ah Ammah di bilangan Qornisy Tahrir sebelum ke toko Ma'tuk ini, disana buku 'amal kamilahnya Abduh sudah habis, namun alhamdulillah saya sempat membeli beberapa buku tersebut husen, hanya tinggal satu buku lagi yang belum terbeli.

Ma'tuk melihat saya yang memegang kantong plastik dengan lebel Hai'ah 'Ammah mulai membela diri. "Sebenarnya saya membeli buku itu pada salah satu petugas Hai'ah Ammah, Mereka mengatakan sudah habis pada pembeli padahal buku-buku itu masih tersimpan di gudangnya" Ma'tuk mengambil buku Aduh yang saya pegang, dia kemudian menunjuk foto Suzan Mubarak, penggagas program pemerintah 'Membaca untuk semua', Ma'tuk lalu berseloroh "Memang dia (Suzan) mengadakan program ini agar buku-buku tersebut dapat dijangkau oleh orang-orang yang uangnya tidak begitu tebal, juga para pelajar dan mahasiswa, namun bawahan-bawahan dia itu yang tidak bertanggung jawab dengan menjual kembali buku-buku berubsidi tersebut" Ma'tuk terlihat bersemangat.

"Sebenarnya berbuat seperti itu (menjual buku-buku bersubsidi pada penjual buku bekas adalah tindakan harom (tidak boleh), namun saya mendapat buku ini dari salah satu teman saya yang kebetulan menjadi petugas hai'ah ammah". Dia menarik nafas panjang, "saya hanya mencari makan"...Ma'tuk diam beberapa saat, ia lalu meneruskan ceritanya "Saya ingin yang baik-baik saja, apalagi saya sudah sakit, saya ingin mati dengan tenang" Terlihat mata Ma'tuk menerawang. "Semoga Allah menyembuhkanmu (Rabbuna Yasyfik)" timpalku... "Amien ya Rabb, semoga doa kamu terkabul" jawab Ma'tuk.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk membeli buku itu, saya tahu bahwa buku-buku itu sekarang sudah tidak ada di toko manapun kecuali di azbakiyah. Muhammad Ma'tuk seorang pedagang yang jujur dengan realita, dia tidak pernah malu untuk mengakatan bahwa ia tidak pernah membeli buku-buku subsidi untuk kemudian dijual dengan harga yang lebih mahal. Ma'tuk juga seorang yang sadar, ia sadar kalau buku-buku itu diprioritaskan untuk orang-orang berkantong tipis, namun apatah daya seorang Ma'tuk, dia hanya seorang pedagang buku bekas yang hanya mencari makan untuk hidupnya ... Rabbuna Yasyfika Ya Muhammad Ma'tuk.

Yusuf Abbas, 03 Agustus 2009

Senin, Juli 27, 2009

الشبكة العنكبوتية, ما لها و ما عليها


الشبكة العنكبوتية, ما لها و ما عليها
قال لي أحد أصحابي يوما "نري اليوم كثيرا من الطلاب الجامعيين كانوا لا يطلعون كثيرا على الكتب فى المكتبات لأنهم قد اكتفوا بالمعلومات فى شبكة الإنترنت" بعد أن سمعت مقولته قلت له "شكرا يا أخي لقد أعطيتني فكرة عن قضية الإنترنت و الثقافة التي سأكتبها لمجلة "قلم".
با لحقيقية فجئت بعد أن طلب مني أعضاء تحرير مجلة "قلم" لأكتب عن هذا الموضوع لأهميته و لأنه يتعلق بالأمور التى نحن كالطلاب لا غنى عنه بمعرفتها. و الشيئ الوحيد الذى لا نستطيع إنكاره هو أن كل شئ يحتمل أن يكون حسنا أو قبيحا بحسب متعلقه. فالشئ الحسن يمكن أن يتحول إلى شئ قبيح إذا كان متعلقه قبيحا وكذلك العكس. فالسّكين إذا استخدم لتقطيع البصل أو الفرخة يكون حسنا أما إذا استخدم للقتل فقبيح. و كذلك شأن الشبكة العنكبوتية, فهى كسابقتها فى تطبيق هذه القاعدة.
فما المشكلة إذن ؟ المشكلة تبدو أولا فى كون الإنترنت يحضر المعلومات سريعة التحضير حتى يسبب الطلاب لا يحبون الإطلاع على الكتب و المصادر العلمية لتحقيق المعلومات التى تنال من الشبكة. و هذه لمشكلة كبيرة لأن الكسل و عدم الإلتفات إلى المصادر و التحقيق و التدقيق له يفقد المعلومات قيمتها العلمية و يجعلها جسدا بدون روح. و هذه هى أكبر كارثة فى هذا الزمان الذى يتميز بسرعة تنقل المعلومات من خلال شبكة الإنترنت مثل شبكة Facebook و Google و غير ذلك من التسهيلات الواردة فيها.
و إذا أجرينا المقارنة فى تحصيل المعلومات بين اليوم و الأمس, سنجد بونا شاسعا بينهما. ذلك لأن سرعة تطور التكنولوحيا و المعلومات لا نجد لها نظير. فمثلا فى تطور الحاسب الآلى من خلال البرامج و المعدات التى أجرت التحديث فى أقصر زمان حتى نستطيع استخدام الجهاز بسرعة و سهولة و هذا ينعكس تمام الإنعكاس فى الزمن الماضى التى نكتفي فيه بالآلة الكاتبة أو الآلات صعبة الإستخدام.
أما بالنسبة إلى سرعة تطور المعلومات, فنجد اليوم حركة شبكة الإنترنت التى تجعل العالم كقرية صغيرة نستطيع من خلالها التعرف على كل أعضاء القرية بسرعة فائقة و سهولة غير مسبوق لها. علاوة على ذلك فإن هناك حركة التحول من المطبوعات إلى المطبوعات إلكترونية من خلال المسح الضوئي للكتب أو الجريدات أو المجلات أو الدوريات المطبوعة و تنزيلها فى موقع خاص, أو من خلال إعداد بعض البرامج المتضمنة للكتب و غير ذلك.
و كذالك هناك حركة لا تقل أهمية مما سبق ألا و هى حركة المدونات التى تعرف حديثا بمواطن الصحافة (Citizen Journalism) و قد عرفه wikipedia ب : هو مفهوم أفراد الجمهور "بدور نشط في عملية جمع وتقديم التقارير وتحليل ونشر الأخبار والمعلومات". و المؤلفان بومان و ويليس يقولان : "إن القصد من هذه المشاركة هو توفير الإستقلالية والتوثيق والتدقيق واسعة النطاق والمعلومات ذات الصلة على أن الديمقراطية تتطلبها".[1] و زد على ذلك المواقع التى تحتوي على المعلومات من كل جوانب العلوم المختلفة التى تسهل على الطلاب عملية البحث للحصول على المواد التى يحتاج إليها فى وقت قصير. و هذه كلها مما لا يتذوقها الأجيال الماضية الذين اكتفوا بالمراسلات و المكتبات و الكتب المطبوعة فقط مما تجعلهم يواجهون دائما المعوقات فى البحث و الدراسة, منها صعوبة الحصول على المواد المحتاج إليها أو أن يستغرق البحث وقتا طويلا و جهدا بعده جهد.
و المشكلة الثانية هى أن شبكة الإنترنت تحتمل على الغث و الثمين فى وقت واحد, و قليلوا المران على قراءة الكتب المدونة يسهل عليهم الوقوع فى الخطأ عند أخذهم المعلومات عشوائية فى الإنترنت. ذلك لأن كل المواقع تؤسس على فكرة معينة أو مذهب معين من مذاهب الفكر. فأخذ المعلومات عشوائية من الإنترنت يسبب الخلط الفكري أو إن شئت فقل يسبب عشوائية المعلومات و بالتالي يسبب عشوائية المفاهيم التى ستنتج أخيرا عشوائية السلوك و الأخلاق. و هذه المشكلة جد خطير, لأنها لا توافق و مكانة الطلاب الجامعيين التى لا بد أن يتميز بكثرة القراءة و التعمق فى البحث العلمي و التحقيق و التدقيق له.
نكتفي بهاتين المشكلتين فى هذه المقالة, و الآن ما الحل ؟ الحل يتركز على نقطتين أساسيتين. أولاهما محاولة إعادة النظر فى المعلومات الموجودة فى الإنترنت و عدم الإكتفاء عليها و اعتبارها على أنها حقيقة مسلمة غير قابل للمراجعة. فأكثرالمعلومات الواردة فى الإنترنت هى معلومات صحافية و بعضها معلومات سطحية التى لا تتميز بالدقة و إن كان هناك بعض المواقع التى تحافظ على الدقة العلمية و قليل ما هى.
و لهذا لا بد أن يتأكد الطلاب على صحة المعلومات الواردة فى الإنترنت قبل أن يقبلها. فيختار المعلومات المتميزة بالدقة العلمية على الأقل المعلومات ذات الحواشى المتضمنة على المراجع التى استسقي منها الكاتب, حتى يتمكن الطلاب من الرجوع إلى المصادر الأصلية للتأكد من صحة تلك المعلومات, ذلك لأن التمسك بالمعلومات مجهولة المراجع يقلل بل يفقد قيمتها العلمية. أو إن لم يتمكن من التأكد, فبوجود الحواشي مما يشرح الصدر على أن الكاتب يتميز بالدقة العلمية.
و النقطة الثانية هى محاولة الفحص على المعلومات الواردة فى شبكة الإنترنت حتى نتمكن من التمييز على الخبيث منها و الطيب. فالأحسن أن يبحث الطلاب عن المعلومات فى الكتب المدونة أولا حتى يتمكن من الإحاطة على كل جوانب الموضوع و على الأقل الإحاطة بالفكرة العامة للموضوع. و بعد ذلك يمكنه زيادة المعلومات من خلال شبكة الإنترنت, فيبحث عن المعلومات المتصلة بموضوع بحثه, و هذا مما يبعده من العشوائيات السالفة الذكر. و من هنا نرى أن المعلومات الواردة فى الإنترنت ليست من المصادر الأساسية للبحث, بل إنه من المراجع الثانوية بل التكميلية له.
و الكلمة الأخيرة التى نريد أن نقولها هنا, أن شبكة الإنترنت كما لها من سلبيات لا بد لها من إيجابيات. فلندع سلبياتها و نستغل الفرصة لاقتطاف إيجابياتها من سرعة و سهولة الحصول على المعلومات. و هذه الإيجابيت لا بد أن تدعم التقدم, لأن التسهيلات الموجودة الآن توجب ذلك. فلا مبرر إذن للتخلف فى عالم الذى لا يعرف إلا السرعة و السهولة... فالتخلف هو الموت.


[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Citizen_journalism

Jumat, Juli 24, 2009

Waktu Sholat

Saya baru sadar kalau kamaren adalah awal dari bulan Sya'ban yang berarti tinggal satu bulan lagi umat islam akan memasuki bulan paling mulia di antara bulan yang lain yaitu bulan Ramadhan. Sungguh waktu berjalan begitu cepatnya, sampai-sampai dengan terkejutnya saya merasa ketinggalan kereta. Saya merasa kestagnanan amal yang seharusnya meningkat seiring dengan datangnya bulan Rajab sebagai implementasi dari ajaran Rasulullah tentang fadhilah amal serta pahala yang besar di dua bulan pra Ramadhan (Rajab dan Sya'ban).

Padahal beberapa waktu yang lalu teman-teman di FB sudah mengingatkan dengan sebuah do'a ketika bulan masih bulan rajab "alahumma barik lana fi rajab wa sya'ban wa ballighna ramadhan" (Ya Allah berilah kami keberkatan di bulan Rajab dan Sya'ban serta sampaikanlah -umur- kami ke bulan Ramadhan). Namun ternyata aktivitas yang tidak karuan membuat saya lupa kalau saya sudah masuk pada rentetan bulan diskon pahala dari Allah.

Lupa memang menjadi sebuah apologi yang sangat tepat untuk keluar dari kealpaan-kealpaan akibat kekurang respekan kita terhadap sesuatu. Dengan mudahnya kita akan mengatakan "saya lupa" atau "oh maaf saya tidak sadar klo ..." dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan apologetik untuk 'terbebas' dari kesalahan yang sebenarnya itu karena rasa acuh tak acuh ataupun kekurang pedulian kita.

Padahal dengan sangat sempurna ajaran-ajaran islam telah diilustrasikan oleh Rasulullah, bukan hanya sekedar ilustrasi, tapi dibarengi dengan penjelasan terhadap keutamaan-keutamaan agar manusia bersegara dan dengan sadar cepat tanggap untuk melaksanakan ajaran-ajaran tersebut, dalam hal ini amalan-amalan serta pahala-pahala yang sudah Rasulullah Saw. jelaskan di dua bulan sebelum ramadhan sebagai tangga awal menuju kesempurnaan fitrah di bulan Ramadhan kelak.

Rasa acuh tak acuh dan kekurangrespekan kita terhadap ajaran-ajaran agama tersebut merupakan sebuah akumulasi dari kestagnanan aspek relegiutas seseorang terhadap ajaran agama. Tentunya di awali dari sholat, karena sholat adalah amalan yang pertama kali akan dihitung di hari kiamat nanti, jika sholatnya bagus, maka baguslah semua amalan orang tersebut, begitu juga sebaliknya. Kenapa harus sholat ? tentunya disamping alasan dogmatis diatas, penulis masih memiliki alasan lain yang tentunya logis analitis :D.

Sholat jika ditinjau dari sudut siklus kehidupan manusia merupakan sebuah lingkaran pembagian waktu yang membagi waktu kita menjadi lima bagian yaitu shubuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isyak. Nah, dalam setiap siklus tersebut, kita dituntut untuk melakukan amal sholeh yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Jadi diantara jeda waktu sholat ada waktu amal. Maka, sholat dalam lingkaran siklus ini saya ilustrasikan sebagai sebuah sekat dalam lingkaran siklus kehidupan manusia.

Sering kali, amal yang kita lakukan keluar dari tujuan awal dari sebab seseorang mengerjakan sesuatu. Disini kemudian sholat mengambil perannya. Seakan dalam 24 jam itu Allah tahu bahwa manusia minimal akan tergelincir sebanyak 5 kali, maka dibuatlah sholat sebagai sebuah sekat yang mengembalikan manusia kepada tujuan awalnya dalam mengerjakan sesuatu. yaitu semata-mata karena Allah saja. Sholat itu dzikir atau mengingat, jadi ia selalu mengingatkan manusia ketika tergelincir dalam waktu jeda antara sholat.

Lalu apa korelasinya dengan ketidak acuhan kita terhadap ajaran agama? tentunya sudah pasti sholat merupakan standarisasi keteraturan seseorang dalam hidupnya. Jika sholat kita teratur dan tepat waktu, maka kita telah bisa mengatur siklus kehidupan kita selama 24 jam. Karena sholat adalah sekat waktu, maka ia akan mempermudah kita untuk mengatur jadwal waktu kegiatan dan target-target sasaran pada hari itu.

Tentunya orang yang mengabaikan sholat adalah orang-orang yang waktunya berjalan tidak beraturan. Siklus kehidupannya begitu kacau karena ia tidak memiliki sekat waktu. Ketika adzan tiba, ia masih saja duduk di depan komputer dengan segala aktivitasnya baik itu yang berguna ataupun tidak. Maka jatah waktu jedapun ia sia-siakan begitu saja. Padahal sholat adalah waktu beristirahat, mengistirahatkan fikiran dan badan. Sudah pasti fikiran manusia tidak bisa terus menerus dipakai, ia perlu istirahat. Begitu juga dengan badannya, ia perlu berehat sejenak. Wahai Bilal buatlah kami beristirahat sejenak dengan sholat kata Rasulullah suatu ketika.

Nah, ketika siklus waktu seseorang sudah tidak beraturan dan berjalan liar, maka yang sering terjadi adalah penggunaan waktu yang sangat boros untuk hal-hal yang sia-sia bahkan negativ. Maka, seluruh pekerjaannya akan berantakan dan target-target sasarannya akan lebih banyak yang meleset. Bahkan yang paling parah ia akan lupa dengan waktu... karena ia sudah tidak bisa membedakan antar siang dan malam, hujan ataupun panas...