Selasa, Juni 17, 2008

Berlaku Hikmah


Hikmah adalah salah satu pusaka umat islam yang hilang. Yah, begitulah perkiraan Rasul umat ini 14 abad yang lalu. Kenyataanya, ternyata perkiraan tersebut benar-benar terjadi. Akhir-akhir ini umat islam seakan-akan sudah tidak lagi bertindak dengan hikmat.

Dengan bertubi-tubinya serangan-serangan musuh islam pada muqaddasat agama ini ternyata membuat umat islam seakan ayam yang kehilangan induknya. Kebanyakan umat islam dewasa ini seakan tidak bisa untuk melakukan reaksi yang islami bahkan bisa dikatakan tidak bisa bersikap arif dan bijaksana. Jalan keluar satu-satunya untuk melawan dan menentang serangan-serang tersebut ternyata dilakukan dengan kekerasan, pembakaran bahkan disertai dengan ungkapan-ungkapan yang tidak seharusnya disandingkan dengan kekerasan seperti allahu akbar dan lain sebagainya.

Para pembaca jangan salah sangka dulu dan menuduh saya tidak pro pada islam dan muqaddasatnya. Saya bahkan adalah seorang yang rela mati untuk membela agama saya yang mulia ini. Disini saya hanya menyayangkan reaksi negatif yang dilakukan sebagian umat islam, sehingga memperkuat paradigma barat yang menyatakan bahwa islam adalah agama kekerasan.

Kalau kita mau untuk menelaah terlebih dahulu, mari kita coba untuk menguraikan kemungkinan sebab dari serangan-serangan yang hemat saya telah merusak hubungan antar umat beragama sedunia ini. Menurut hemat saya, orang yang melakukan celaan terhadap orang atau pihak lain itu didasarkan atas dua sebab. Pertama, dia tidak tahu atau salah informasi,karena orang adalah musuh bagi hal yang ia tidak ketahui. Kedua, dia sudah tahu namun berusaha untuk menyembunyikan dan memutarbalikkan fakta. Hal yang kedua ini bisa dengan leluasa kita temukan dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa banyak ahli kitab yang menyembunyikan kebenaran dan memutarbalikkan fakta.

Cara penyikapan kita terhadap dua kelompok tadi tidaklah sama. Untuk kelompok yang pertama, kemungkinan yang bisa dilakukan umat islam adalah dengan memberikan informasi yang benar mengenai islam. dalam hal ini saya sangat terkesan dengan usaha-usaha Al-Azhar dan Kementerian Waqaf Mesir yang telah menerbitkan beberapa buku tentang ajaran agama islam yang damai dan toleran. Cara semacam ini hemat penulis adalah salah satu langkah strategis untuk sedikit-demi sedikit mengubah paradigma orang-orang non islam tentang agama islam, bahkan bagi umat islam sendiri.

Kenapa diatas saya tambahkan poin untuk merubah paradigma umat islam sendiri? karena bukan tidak mungkin ada sebagian umat islam yang mengimani bahwa ajaran islam adalah ajaran yang intoleran bahkan sampai pada titik penghalalan darah umat selain umat islam (seperti dalam beberapa kasus pemboman turis di Mesir). Maka usaha semacam ini bukan hanya untuk perubahan paradigma eksternal umat non muslim saja namun lebih dari itu, juga merupakan proyek untuk merubah sebagian paradigma umat islam sendiri (internal).

Kedua, informasi yang baik dan benar saja tidak cukup. Cara yang paling efektif untuk merubah paradigma orang yang tidak tahu adalah dengan menunjukkan kabenaran informasi yang baik dan benar tadi (istilah dalam Al-Quran lima taquluna ma la taf'alun? Kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat?). Umat islam adalah umat yang toleran dan cinta perdamaian, maka tak heran jika dari tegur sapa umat ini adalah assalamualaikum salam sejahtera teruntuk padamu (peace be upon you). Maka, jika seanmdainya umat islam hanya mengamalkan assalamualaikum saja, maka dunia ini akan dipenuhi dengan kebaikan dan kedamaian. Nah, seharusnya sebagai umat islam kita harus berusaha untuk mengerjakan ajaran2 agamanya walaupun itu hanya ifsyaussalam saja atau menyebarkan salam/perdamaian).

Kalau kita mau melihat sejarah perkembangan islam di dunia ini, kita akan terperangah melihat fakta bahwa hanya di nusantaralah islam tersebar dengan jalan damai (tidak di dahului dengan peperangan). Hal ini sepatutnya perlu kita renungkan dan seharusnya kita bertanya pada diri kita, kenapa islam begitu lancar dan mulus masuk ke nusantara seakan tanpa halangan berarti yang menghadang.

Bangsa nusantara waktu itu terkenal sebagai sebuah bangsa yang tepa selira, toleran, gotong royong dan hal-hal baik lainnya. dan ternyata mereka menemukan hal tersebut di ajaran yang dibawa para pedagang dari Gujarat ataupun dari Arab Yaman yang memeluk agama islam. Para pedangan pun tidak perlu memaksakan ajaran yang mereka anut. Mereka hanya cukup mengerjakan ajaran agama mereka dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari perdagangan dan kehidupan sosial kemasyarakatan lainnya. Mereka adalah para pendakwah bil hikmah. Maka tak heran jika ajaran agama islam kemudian berkembang pesat di Nusantara sampai sekarang.

Untuk kelompok kedua, hal yang bisa dilakukan umat islam adalah dengan selalu berusaha untuk melakukan dialog-dialog. Baik itu lisan ataupun tulisan bahkan jika kedua hal tersebut tidak bisa, umat islam bisa menuntut secara hukum seperti yang diusulkan salah satu tokoh di harian Republika beberapa waktu lalu. Kalau kita teliti, ternyata sudah banyak buku-buku karangan pemikir islam sendiri yang sedang berusaha untuk melakukan dialog dengan para pemikir dan ilmuan non islam yang suka menyembunyikan dan memutarbalikkan fakta seperti studi-studi kebanyakan orientalis.

Study yang didasari oleh sebuah konklusi awal seperti yang orientalis kerjakan memang sangat berbahaya, karena bukan hanya jauh dari obyektivitas namun lebih dari itu tulisan-tulisan tersebut akan dikonsumsi oleh masyarakat awam islam sehingga membangun sebuah paradigma dan persepsi yang salah tentang islam, apalagi setelah melihat reaksi dari umat islam yang menguatkan paradigma tersebut. Hal inilah hemat penulis yang menjadi sumber ketidakmengertian sebagian orang non muslim sehingga menjerumuskan mereka kepada pencelaan dan pelecehan terhadap agama islam yang suci.

Tidak ada komentar: