Selasa, Januari 23, 2007

Islam Adalah Ideologi Eksklusif


Islam adalah ideologi eksklusif. dalam artian eksklusif sebagai sebuah kumpulan konsep yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. eeksklusifan islam ditilik dari sisi ini memberikan sebuah pencerahan bahwa, dalam tataran ideologi islam sama sekali tidak mengenal toleransi.

Banyak ayat-ayat al-quran yang secara tegas menyatakan sisi ini, salah satunya dalam suratal-kafirun, dengan tegas allah membedakan antara muslim dan kafir, bahwa perbedaan yang paling menonjol dari seorang muslim dan seorang kafir adalah dalam hal ibadah yaitu: apa, bagaimana dan karena apa ? surat ini juga memberikan sekat dengan sangat jelas antara apa yang dikerjakan orang muslim dan apa yang diperbuat orang kafir.

Sebab dari turunnya surat diatas adalah ketika pemuka qurasy menawarkan pada rasulullah untuk menyembah tuhan mereka setahun dan mereka akan menyembah tuhan umat islam setahun. Namun rasulullah dengan tegas menolak hal tersebut dengan turunnya surat ini. Konsep eksklusifisme islam dapat dilihat ketika allah mengakhiri surat al-akafirun dengan sebuah ajaran eksklusif bahwa untukmu agamamu dan untukku agamaku. namun, konsep ini hemat saya bisa di pahami dengan jelas jika pembaca merunut dari awal surat sampai pada akhir yang menjadi klimaks dari surat al-kafirun ini.

Ayat pertama (qul ya ayyuha al-kafirun) adalah seruan allah melalui rasulnya pada setiap orang dimana saja dimuka bumi ini. walaupun pada awal mulanya objek kafir disini di tujukan pada kafir qiraisy, namun sebuah kaedah ushul fiqh menyebutkan bahwa al-ibrah bi umumi al-lafdz la bi khususi al-sabab.

Ayat kedua (la 'abudu ma ta'budun) adalah sikap tegas dari allah tentang perbedaan obyek sembahan, bahkan bisa dikembangkan menjadi perbedaan ideologi, antara tauhid (monoteisme) dan paganisme. bahwa yang disembah rasul adalah allah yang maha esa dan yang disembah mereka (kafir quraisy) adalah patung-patung.

Ayat ketiga (wala antum abiduna ma 'abudu) merupakan sekat yang jelas bahwa apa yang disembah non-muslim adalah bukan allah (tuhan yang disembah orang muslim). dari sini bisa dikembangkan bahwa ajaran-ajaran non islam adalah ajaran yang tidak sama dengan ajaran islam, jadi walaupun secara eksplisit ada beberapa ajaran yang hampir menyerupai islam, tapi secara implisit ia bukan islam.

Kemudian ayat empat dan lima merupakan pengulangan yang berfungsi sebagai penguat, seperti apa yang diriwayatkan ibnu jarir. atau berarti kebersinambungan maksud dari ayat yang diulang tersebut dari dulu, sekarang dan yang akan datang. atau berarti menafikan perbuatan dalam ayat (la 'abudu ma ta'budun) dan menafikan penerimaan secara keseluruhan dalam ayat (wala ana 'abidun ma 'abadtum) karena penafian dengan jumlah ismiah lebih pasti. yang artinya penafian terhadap kejadian dan kemungkinan sekaligus (lih. tafsier ibn katsir surat al-akafirun).

Kemudian ayat keenam (lakum dinukum wa liya din) 'untukmu agamamu dan untukku agamaku' yang merupakan klimaks dari surat al-kafirun adalah pernyataan tegas bahwa kekafiran adalah satu, baik itu berlabel agama ataupun bukan. dan ayat ini juga dengan tegas menyatakan bahwa apa yang diluar islam adalah sesat.

Disini penulis perlu mengingatkan lagi bahwa, eksklusifisme islam yang akhirnya menyimpulkan kesesatan ideologi lain janganlah kemudian dipahami bahwa islam hanya melakukan klaim sepihak untuk melegalisasi eksistensinya. namun setidaknya perlu dilihat kembali apa dan kenapa kesimpulan itu bisa tercapai.

Islam sebagai sebuah ideologi merupakan sebuah kumpulan cara berfikir khusus yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. nah, inti dari kumpulan konsep dalam islam adalah mengesakan allah yaitu tauhid. allah adalah segala-galanya. manusia hanya patuh dan tunduk (sam'an wa tha'atan). karena semua kekuasaan, hukum dan makhluk secara umum adalah milik allah. maka dari titik ini islam berusaha untuk berdialog dengan yang lain (al-akhor). dan dari titik ini pula klaim (sesat-tidak sesat) ada.

Namun jangan salah sangka dulu, konsep ekslusifisme islam dalam tataran ideologi tersebut tidak menghalanginya untuk tetap berdialog dengan ideologi lainnya namun lebih khusus pada tataran muamalah, seperti jual-beli, diplomasi dan lain sebagainya. nah, dari titik ini bisa dilihat sikap inklusifisme (keterbukaan) islam. wallahu 'alam bishshowab.