Sabtu, Desember 02, 2006

Toleransi Islam

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca tulisan Dr. Abou El-Fadl tentang toleransi dalam islam. Salah satu yang sempat saya tangkap dari tulisannya adalah tentang pemahaman teks keagamaan yang menurut beliau tidak dapat dipisahkan dari aspek historitas teks (asbab nuzul). Beliau juga mengatakan bahwa Teks Alquran selalu tergantung terhadap pemahaman moral masing-masing pembaca. Seakan Teks keagamaan adalah rumah kosong yang bisa dikuasai siapa saja yang mendiaminya.

Historitas Teks sangat diperlukan dalam pemahaman teks keagamaan agar tidak menyebabkan pemahaman yang harfiy. Dalam hal ini El-Fadl mengkritik pemahaman kelompok ekstrimis islam yang dalam pemahamannya terhadap teks lebih mengedepankan pemahaman tekstualis dan mengesampingkan rasionalitas pemahaman.

Terhadap fenomena Terorisme akhir-akhir ini, El-Fadl mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya adalah akibat tekanan internal dan eksternal. Internal dari pihak penguasa yang selalu memarjinalkan kelompok islam, eksternal dari berbagai intervensi asing dalam berbagai aktivitas kelompok islam.

Menyikapi doktrin toleransi dalam islam, Abou El-Fadl mengatakan bahwa Alquran sama sekali tidak memberikan kata pasti dalam kata-kata Fa'dilu dalam Alquran, karena ia masih bersifat relatif sesuai pemahaman pembaca terhadap nilai moral dan penguasaan historitas teks.

Disini saya melihat satu celah dari pemikiran Abou El-Fadl, bahwa seharusnya dalam menetapkan arti dan pemahaman dari teks-teks relatif haruslah dikembalikan pada arti linguistik teks tersebut dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perjalanan makna teks tersebut. Karena Kaedah kebahasaan sifatnya adalah tetap dan yakiny.

Relativisme pemahaman teks ini kemudian menggiring El-Fadl pada sebuah ketidakjelasan pelabelan obyek ekstrimis islam, sehingga kadang label ekstrimis islam dialamatkan kepada alamat yang salah. Sebagai contoh kritik El-Fadl terhadap wahabiyah dan salafiyah yang diklaim menggunakan pemahaman tekstualis (harfiyah) dan menjadi bibit terorisme modern dengan Al-Qaedah sebagai tertuduh.

El-Fadl Mengatakan bahwa wahabiyah dan salafiyah adalah dua kelompok yang mengklaim bahwa pemahaman dan tafsiran mereka terhadap agama adalah yang paling benar, sehingga penafsiran diluar mereka adalah penafsiran yang salah dan sesat. Nah, dari sini kemudian tumbuh sikap fanatisme, ekstrimisme bahkan sampai pada tinggal terorisme.

Menurut hemat saya, perlu adanya pengurutan cara penafsiran setiap kelompak terhadap agama  secara runtut dan sistemasis. Sehingga kita benar-benar tahu mana tafsiran agama yang paling mendekati kebenaran orisinal islam dan mana yang bukan. Sependek pengetahuan saya terhadap kelompok teology islam, para salaflah yang disepakati para ulama sebagai tafsiran agama yang paling dekat dengan kebenaran.

Nah, setelah mengetahui cara penafsiran keagamaan yang paling mendekati kebenaran mari kita kembali memaknai arti 'salah' dan 'sesat'. Kata 'salah' menyiratkan suatu hal yang tidak seharusnya dikerjakan, sedangkan 'sesat' menyiratkan tidak adanya pengetahuan dalam apa yang dikerjakan.

Dari sini bisa kita simpulkan klaim sesat dan salah dari kelompok yang paling mendekati orisinal islam (para salafush-sholeh) terhadap pemahaman lain yang menyimpang adalah sah adanya. Hal ini untuk menjaga orisinal islam dari penambahan dan pengurangan.

Adapun terhadap aksi sebagian pengikut pemahaman ini yang cenderung ekstrem dan beberapa tahun terakhir ini terlihat berbau terorism, maka perlu dilihat juga obyek dari aksi tersebut serta kenapa harus obyek itu yang menjadi sasaran. Tidak akibat tanpa sebab. Nah, dari sini kita harus melihat, menilai dan menyimpulkan baik itu dari sisi subyek, obyek maupun sebab sehingga nantinya pelabelan kita terhadap kelompok ekstremis teroris tidak salah dan rancu. Pun juga perlu dibedakan antara pemahaman salafush-sholeh dan pemahaman orang-orang yang hanya mengklaim sebagai pengikut salaf tetapi pekerjaannya tidak sesuai dengan akhlak para salaf.