Rabu, Oktober 11, 2006

Rindu

rindu ini rindu mati
mendekapku sepanjang musim
selalu datang bersama dara-dara liar
berterbangan di balkon apartemenku

sering aku bermimpi
bertemu senyum ibuku, bapakku dan adik-adikku
keluarga, tetangga dan tanahku
namun mimpi itu hanya sesaat

ketika bangun, tak pernah kutemukan senyuman-senyuman itu
yang ada hanya bangsat-bangsat kekenyangan dengan darahku
akupun hanya bisa terus bermimpi
disini, dinegeri atas langit

rindu ini masih tertancap dalam dijiwaku
tak tahu harus bagaimana
apakah aku harus menangis
ataukah berteriak memanggil mimpi-mimpi tersebut

namun suaraku tak mungkin sampai menembus ribuan mil
menjelajah seperti dara-dara itu
bahkan tuk sekedar terbangpun, aku tak sanggup
aku pemimpi dan selamanya adalah pemimpi

namun aku yakin
suatu saat nanti aku pasti terbang
menggapai mimpi-mimpi itu
tersenyum bersama tawa semua orang

Senin, Oktober 09, 2006

Pulang

aku akan pulang
dengan sepotong roti dan segelas air
tersenyum riang penuh canda tawa
kembali melihat hijau daun desaku

aku pasti kembali
dengan impian-impian itu
melangkah gagah ditengah decak kagum anak-anak ingusan
kembali menghirup udara desa yang tak pernah mengenal kotoran

namun aku ragu
mungkinkah aku tetap menemukan semua sama
persis ketika dulu ku tinggalkan tanah itu
dengan berjuta bara berkobar

apakah nanti aku akan bertemu dengan senyummu
ataukah semua telah berubah menjadi tangis yang tiada henti
atau bahkan aku takkan pernah bertemu denganmu lagi
karena semua sudah terbakar tsunami kejahatan

namun kuharap, badai tak cepat menyapumu
meratakanmu sekejap mata
menjadikanmu tanah tandus tak berpenghuni
sepi, rusak dan binasa

tunggulah aku barang sekejap
menghiasmu bak pengantin rajaa
ku yakin aku bisa
walau dengan sepotong roti dan segelas air

tunggulah aku sebentar lagi
mencari arti hiaskan diri
mengeruk, mendaki dan menyelam
agar kamu tak bisa tenggelam

Senin, Oktober 02, 2006

Puisi Cahaya Bulan

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap sambil membenarkan letak leher kemejaku

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah pandalawangi
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan” yg menjadi suram
meresapi belaian angin yg menjadi dingin

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat

apakau kau masih akan berkata
kudengar dekap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tahu dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati