Minggu, September 10, 2006

Al-Azhar Jami' wa Jami'ah

Al-Azhar sebagai salah satu lembaga keislaman tertua di dunia merupakan sebuah mercusuar islam yang disegani kawan maupun lawan. Ia bukan hanya kiblat kaum sunni, tapi juga syi'ah dan umat islam secara keseluruhan. Al-Azhar juga memiliki sejarah panjang bukan hanya dalam bidang keislaman saja, bahkan ia adalah motor pergerakan pembaharuan Mesir dan negeri-negeri islam lainnya dengan lahirnya seorang Muhammad Abduh dari rahimnya.

Bahkan dalam beberapa dekade terakhir ini Al-Azhar memiliki peranan penting dalam menjembatani hubungan islam-barat yang makin memburuk. Banyak tulisan-tulisan ulama Al-Azhar yang berusaha untuk mengenalkan islam yang damai kepada khalayak barat yang selalu menganggap islam adalah agama teror yang harus dimusuhi.

Dalam bidang keislaman, Al-Azhar adalah lembaga yang berusaha menjaga islam otentik, dengan tidak menutup mata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan teologi salafi-asy'ary, Al-Azhar berusaha untuk menafsirkan setiap fenomena yang terjadi dengan kacamata islam yang moderat. Yaitu islam yang bisa menjembatani fundamentalisme dan sekularisme yang sedang marak di dunia intelektual islam secara umum.

Dengan jargon islam moderat yang dibawanya, ternyata Al-Azhar mampu menjadi magnet keilmuan islam yang menarik banyak minat pelajar asing dari berbagai penjuru dunia untuk menuntut ilmu keislaman. Bahkan banyak kajian dan buku-buku orientalis yang menyebutkan bahwa Al-Azhar adalah Oxford dari timur dikarenakan ia memiliki ciri khusus dan sejarah panjang melebihi lembaga-lembaga keislaman lainnya.

Konsep ruwak - yang kemudian diadopsi oleh sistem pengajaran seluruh universitas di seluruh dunia dengan fakultas - merupakan sebuah bentuk awal sistem pendidikan di Al-Azhar. Dari ruwak ini pula bermunculan banyak ulama-ulama sekaliber Muhammad Abduh, Al-Maraghi, Azzarqani, Mahmud Syaltut, Abdul Halim Mahmud dan Sya'rawi dengan berbagai macam spesialisasi keilmuan masing-masing.

Sekarang, ruwak-ruwak tersebut telah dimodifikasi menjadi fakultas-fakultas agama dan umum seperti sistem universitas di seluruh dunia. Namun hal ini tidak lalu menjadikan Al-Azhar menghapus sistem ruwak dari sistem pendidikannya. Ruwak-ruwak tersebut masih bisa kita saksikan dan ikuti di masjid Al-Azhar. Karena Al-Azhar masih menjaga tradisi ruwak tersebut maka tak heran jika kita sering mendengar slogan Al-Azhar Jami'un wa Jami'ah, Al-Azhar adalah masjid dan universitas.

Slogan diatas menyiratkan bahwa, ketika kita belajar di Al-Azhar maka tidak cukup kita belajar di universitasnya saja karena Al-Azhar juga adalah masjid dengan ruwak-ruwaknya yang bersejarah. Sistem pengajaran ruwak kalau kita perhatikan hampir sama dengan sistem pengajian kitab kuning yang diterapkan di pesantren-pesantren salaf di Indonesia. Sampai sekarang masih tersisa beberapa ruwak di masjid Al-Azhar. Ruwak-ruwak tersebut tidak hanya dipergunakan untuk mendalami kitab turast, namun ada beberapa yang dipergunakan untuk menghafal Al-Quran.

Dalam beberapa kesempatan, ruwak-ruwak tersebut mengadakan daurah - seperti daurah shaifiyyah yang diselenggarakan musim panas setiap tahunnya - untuk menghatamkan beberapa kitab yang kemudian akan diberi ijazah.

Sistem pembelajaran seperti inilah yang kemudian membuat Al-Azhar berbeda dengan lembaga lain. Ketika lembaga-lembaga keislaman yang lain berlomba-lomba untuk meniru sistem pendidikan barat yang dianggap lebih profesional dan metodologis, Al-Azhar tetap dengan tradisi ruwak dengan seorang guru yang membaca dan menerangkan turast pada muridnya..

Sistem ruwak ini pula yang dikritik oleh Muhammad Abduh yang akhirnya berinisiatif untuk medirikan lembaga baru yang kemudian dikenal dengan darul ulum. Kritikan tidak berhenti di Muhammad Abduh saja, banyak lagi cendikiawan Mesir yang memberikan kritikan-kritikan tajam terhadap sistem Al-Azhar baik itu secara lembaga, universitas maupun masjid untuk kemashlahatan umat secara umum. Dari sini kemudian Al-Azhar melakukan perbaikan-perbaikan mulai dari beberapa perubahan kurikulum, memperbaiki administrasi lembaga dan hal-hal lain yang dianggap perlu.

Selain Al-Azhar sebagai sebuah masjid, Al-Azhar juga adalah termasuk universitas tertua di dunia. Seperti kebanyakan universitas yang lain, Al-Azhar membuka banyak fakultas baik itu agama maupun umum. Namun, kalau kita telisik lebih dalam lagi dan kita fokuskan pada fakultas keagamaan, maka kita akan menemukan kenyataan bahwa sistem pembelajarannya adalah sama dengan sistem pembelajaran di ruwak.

Dari segi materi yang diajarkan juga kita temukan bahwa, materi-materi yang di ajarkan di universitas Al-Azhar pada fakultas-fakultas agamanya yaitu : Ushuluddin, Syariah, Bahasa, Dirasah Islamiah rata-rata adalah pengulangan terhadap materi-materi yang diajarkan di Ma'had Tsanawiyah Azhariah (MA) walaupun dengan beberapa penambahan dan pendalaman di materinya masing-masing.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa hasil pembelajaran seperti ini akan terasa nanti setelah murid menginjak strata dua. Sama seperti filsafat mengisi dulu baru mengelaborasi kemudian membagi, Al-Azhar memfokuskan pengisian terlebih dahulu lalu pengulangan secara sistematis dari tsanawiyah sampai strata satu kemudian pengelaborasian di tingat S2 dan S3.

Walaupun universitas Al-Azhar masih terlihat kumuh dan tidak sistematis, namun hemat penulis disinilah letak seorang penuntut ilmu dituntut kesabarannya. Karena, ilmu tidak mungkin datang secara suka rela kecuali jika penuntut ilmu tersebut mencarinya. Nah, dari sini bisa kita rasakan filsafat bahasa arab dengan thalabul ilmi-nya.

Dari titik ini kemudian penulis heran dengan sikap apriori sebagian mahasiswa kita yang cenderung menganggap Al-Azhar adalah barang rongsokan yang tidak memiliki kelebihan apa-apa. Padahal mereka tidak secara penuh mengikuti gaya permainan sistem pendidikan Al-Azhar. Mereka hanya sekali dua kali hadir mengikuti kuliah dan pengajian di ruwak. Seakan Al-Azhar adalah seorang tua yang sebentar lagi akan meninggal, mereka membanding-bandingkan sistem, administrasi dan infrastruktur Al-Azhar dengan universitas-universitas elit di Asia dan Eropa.

Mereka lupa bahwa Al-Azhar dibangun atas dasar keikhlasan, bukan dengan uang seperti yang banyak kita saksikan ditanah air kita, dimana pendidikan sudah menjadi bisnis menggiurkan. Bahkan Al-Azhar bukan sampai pada tahap ini saja, ia masih memberikan beasiswa pada ribuan mahasiswa asing dan lokal.

Seharusnya sebagai santri Al-Azhar, anggapan-anggapan sinis dan apriori terhadap Al-Azhar harus proporsional. Dalam artian harus sesuai dengan dengan sistem yang dipakai. Jangan sampai kita mengkritisi sistem tanpa tahu secara mendalam tentang sistem tersebut. Pelajari dulu sistemnya baru setelah menguasai adakan komparasi dan perbaikan.

Akhirnya penulis mengajak diri penulis khususnya dan pembaca secara umum untuk selalu bangga berstatus sebagai santri Al-Azhar. Karena berapa banyak keinginan orang untuk belajar dan mengais ilmu dari lembaga keislaman yang berwibawa ini namun hanya beberapa orang saja yang bisa sampai di negeri kinanah ini. Oleh karena itu, mari kita selalu mencari dan mencari mutiara-mutiara yang tersimpan di kampus kumuh Al-Azhar, karena penulis yakin mutiara ilmu itu tidak mungkin didapatkan kecuali dengan perjuangan dan usaha yang keras.

Tidak ada komentar: