Kamis, Agustus 24, 2006

Meneropong shalat sebagai agen of change

Keutamaan Shalat
(Meneropong shalat sebagai agen of change)
Oleh : Azhar Amrullah Hafizh

27 Rajab ini kembali kita memperingati sebuah momen besar yang diabadikan oleh Al-Quran dalam sebuah suratnya surat Al-Isra’ (Bani Israil) yaitu peristiwa isra’ mi’raj. Peristiwa ini merupakan sebuah kejadian yang bisa dijadikan acuan keimanan seseorang kepada Rasulullah dan apa yang dibawanya.

Dalam peristiwa ini, perintah shalat diturunkan. Sebuah ibadah yang kemudian menjadi salah satu rukun islam. Shalat secara bahasa berarti do’a. banyak ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan pengertian ini. Kemudian arti shalat mengalami pengkhususan menjadi ritual tertentu dengan tatacara khusus diwaktu khusus pula. Kemudian pengertian ini menjadi istilah primer bagi kata shalat.

Shalat dengan berbagai macam ritualnya merupakan sebuah kumpulan gerakan yang dilakukan oleh malaikat. Sujud, rukuk dan lain sebagainya merupakan gerakan-gerakan malaikat ketika beribadah pada Allah di Bait Al-Makmur. Kemudian gerakan-gerakan ini dikumpulkan untuk sebagai kehormatan pada kekasih Allah, Muhammad s.a.w. dan umatnya.

Dalam syariat islam, shalat memiliki keistimewaan tersendiri karena ia adalah batas yang membedakan seorang mukmin (tunduk) dan kafir (menentang). Pada awalnya, shalat disyariatkan dengan lima puluh raka’at, Namun setelah kekasih Allah, Muhammad s.a.w meminta keringanan maka diperingan menjadi lima raka’at dengan lima puluh ganjaran.

Karena, dalam syariat islam satu kebaikan diganjar dengan sepuluh pahala. Namun satu kesalahan dihitung satu dosa. Bila kesalahan tersebut gagal dikerjakan maka tidak ditulis dosa sampai dikerjakan. Bahkan, jika kesalah itu ditinggalkan karena takut pada Allah maka akan ditulis sebagai satu kebaikan.

Keutamaan shalat terlihat ketika ia diletakkan sebagai tiang agama. Agama diibaratkan sebuah bangunan dengan shalat sebagai tiangnya. Sama halnya dengan sebuah bangunan tanpa tiang yang menyebabkan bangunan tersebut roboh, begitupula agama, tanpa shalat ia akan rapuh dan kemudian roboh.

Penggambaran Rasulullah tentang shalat bahwa ia adalah tiang agama menyiratkan sebuah penekanan yang sangat dalam akan urgensi shalat. Bahkan, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa amalan pertama yang dihitung ketika kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka semua amalannya juga baik, namun bila sebaliknya maka kesengsaraan akan menunggunya di jahannam. Nah, dari sini kita bisa melihat bagaimana syariat memposisikan shalat. Sebuah posisi strategis yang bisa menentukan kebaikan amal seseorang ataupun tidak. Kalau saya umpamakan seperti hati yang menjadi penentu baik-buruk tingkah laku manusia.

Nah, bagaimana sekarang setelah kita sedikit tahu keutamaan shalat. Tentunya sebagai agamawan yang masih berakal sehat, kita harus menjaga dan memperhatikan shalat kita. Dari ritual-ritual pra, ketika dan pasca sholat. Hal ini tentu membutuhkan pemahaman mendalam terhadap sumber-sumber ritual shalat itu sendiri, dalam hal ini Al-Quran, Hadist, Ijma’ dan Qiyas.

Sudah banyak ulama fiqh yang mengarang buku fiqih yang berisi pemahaman mereka tentang shalat dari Al-Quran dan Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Tentunya merupakan tugas kita untuk mendalami pendapat-pendapat tersebut, untuk kemudian kita ambil pendapat yang terkuat menurut kita lalu kita aplikasikan semaksimal mungkin dalam ritual shalat.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan, apa fungsi shalat tersebut dalam realita kemasyarakatan selain keutamaan-keutamaan diatas? Dalam Al-Quran disebutkan dengan tegas dan jelas tentang fungsi shalat didalam kehidupan kita sehari-hari yaitu shalat dapat mencegah kemungkaran.

Dalam hal ini shalat bisa menjadi polisi jiwa, karena ia adalah bentuk totalitas ketundukan manusia kepada penciptanya. Maka, ketika jiwa manusia sudah merasakan kebesaran dzat pencipta maka dia akan merasakan pengawasan (maiyyah). Dari sini kemudian inna shalata tanha ‘anil fahsyai wal mungkari ada.

Shalat kemudian bukan hanya menjadi ritual bisu yang mandul tanpa bisa berbuat apa-apa ketika dibenturkan pada realitas, ia bahkan menjadi motor kemajuan. Kemudian timbul sebuah pertanyaan, jika memang fungsi shalat sedemikian wah, namun kenapa kita melihat umat islam terbelakang padahal mereka shalat?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut penulis hendak mengajukan sebuah pertanyaan balik, apakah mayoritas umat islam sudah melaksanakan shalat yang benar-benar shalat? Jangan-jangan mayoritas umat islam hanya shalat karena bapak dan ibunya juga shalat. Dalam artian kebanyakan umat islam tidak mengetahui arti dan urgensi dari shalat secara sadar.

Sadar disini penulis artikan dengan ilmu, paham dan mengerti. Sadar bahwa shalat mengajarkan kita untuk on time (tepat waktu), melatih kita untuk bersatu, menunjukkan kita bagaimana menjadi pemimpin dan rakyat yang baik, dan banyak lagi pesan-pesan shalat yang kita abaikan secara tidak sadar.

Akhirnya dengan tulisan ini penulis mengajak diri penulis khususnya dan pembaca secara umum, untuk selalu menjaga shalat kita dan berusaha untuk mengerjakan pesan-pesan shalat, sehingga shalat benar-benar menjadi agen of change dan agen of control dalam masyarakat. Dalam sebuat riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah hendak wafat, salah satu wasiat beliau adalah shalat. So, mari bersama-sama kita perbaiki shalat kita.


Kairo, 23 Agustus 2006

Tidak ada komentar: