Minggu, Juli 30, 2006

Menyanyi Dengan Nurani

Menyanyi dengan hati nurani? Siapa bisa. Di zaman penuh kekelaman ini siapa yang masih mau mendengar bahasa nurani? Mungkin penggalan bait lagu tadi merupakan sebuah harapan. Yah, harapan yang mungkin mustahil untuk terealisasikan.

Menyanyi dengan bahasa nurani memerlukan keikhlasan dari sang penyanyi, pendengar dan semua yang berhubungan dengan lagu tersebut. Lagu lantunan semedi dzikir ini memang sarat dengan nilai2 spiritual-sosial yang mampu memberikan kritik-kritik tajam ditengah kegersangan nilai-nilai spiritualitas akibat hegemoni globalisasi dengan ideologi material-kapitalisnya.

Dalam istilah Iwan Fals disebut suara hati, sebuah judul lagu yang mempertanyakan eksistensi dari suara hati. Kenapa suara hati pergi? Apakabar suara hati? Apakah ia telah mati? Ah, sudahlah semua sudah terjadi, dan kita hanya bisa menangis. Mencari suara hati.

Menyanyi dengan nurani merupakan awal inspirasi seorang penyanyi. Ia ibarat asas dari eksistensi nyanyian itu sendiri. Dulu, nyanyian merupakan sebuah media ampuh untuk membantu kemajuan suatu komunitas. Selain dari hiburan, nyanyian juga berfungsi sebagai penyemangat dalam peperangan. Bahkan lirik2 nyanyian bisa melahirkan revolusi hebat, seperti yang terjadi di jaman rasul ketika hijrah.

Nah, kalau kita melihat perkembangan arah nyanyian modern maka sungguh sangat melenceng dari tujuan awal terciptanya nyanyian itu sendiri. Nyanyian sudah dipengaruhi oleh nilai-nilai hedonisme yang menjurus pada hura-hura. Nyanyian bukan lagi bahasa nurani, ia pun tak luput dari bias-bias politik dan kepentingan. Nyanyian juga dijadikan barang komersial yang mampu mendatangkan jutaan dollar.

Ah, saya pribadi sudah pesimis dengan masa depan nyanyian. Pertanyaan demi pertanyaan selalu memenuhi bagian otak saya. semoga ada yang bisa memberikan jawaban : Bisakah kita menyanyi dengan hati nurani? Tanpa ada kepentingan dibaliknya, dengan ikhlas dan bebas.

1 komentar:

KoyanK mengatakan...

Menyanyi dengan nurani. Bisakah kita membedakan mana yang nurani dan mana yang nafsu. Sulit membedakannya.

Akhir2 ini banyak orang yang mengaku bahwa dia menyanyi dengan hati nuraninya, padahal dia menyanyi demi perut buncitnya.