Rabu, Juli 12, 2006

Busuk

adakah nurani telah tertutup
duri-duri fanatisme yang selalu menyakiti
sejak beberapa abad agamaku ada
bahkan sekarang sudah menggurita
tak tahu apa yang dikatakan seorang suci
menganggap kebenaran suatu kekotoran
tak tahu apa kata pengikutnya
seperti anjing yang terus menyalak gila
benar adalah benar, salah adalah salah
kenapa harus membenarkan yang salah
sedangkan yang benar diinjak-injak
tak cukupkah dengan kata tulisan setan?
ataukah agamaku harus dibuang
seperti anak kecil yang membuang emas
tak pernah tahu apa nilai dari kebenaran
tak sadar arti satu penghargaan
oh, adakah nurati telah tertutup
seperti mata, telinga dan mulut yang tersumpal
aku melihat semua seperti bisikan iblis
yang menggeliat di atas sarang laba rapuh
muak aku benci
andai mulut2 itu ditusuk jarum beracun
muak aku benci
semoga tuhanku tak sekejam pikiranku

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Membaca puisi adalah mendalami hati penulisnya. Karena puisi adalah bahasa paling rahasia setiap manusia. Kecuali itu, puisi bahkan merupakan cerminan penulisnya. Begitulah ketika membaca larik-larik puisi Mas Azhar Amrullah, kita terseret arus penulisnya yang begitu gusar dan resah dengan beberapa oknum atau bahkan sebagian umat manusia yang menuduh agama (tepatnya Islam sebagaimana keyakinan Mas Azhar) sebagai biang teroris. Kegusaran ini tampak pada bait-bait yang dengan lihai menggambarkan agama sebagai entah apa. {ataukah agamaku harus dibuang seperti anak kecil yang membuang emas tak pernah tahu apa nilai dari kebenaran tak sadar arti satu penghargaan}, sebentar lagi Mas Azhar bisa saja 'kalau bekerja lebih keras lagi' akan mensejajarlan diri dengan penyair-penyair religius seperti Emha, Abdul Hadi WM dan lainnya. (Leo K)

hafiz mengatakan...

HEHEHE, MAKASIH WAT KOMENTARNYA. DO'AKAN SAJA YAH:)