Rabu, Juli 12, 2006

Bahasa Kemanusiaan

Bahasa kemanusiaan itu sama. setidaknya itu salah satu poin yang saya dapatkan kemaren ketika berbincang santai dengan beberapa teman sejawat disebuah rumah penuh kesadaran yang sepi.

Semua manusia paham bahwa ketika ada seseorang yang jatuh cinta maka ia akan berbuat sesuatu yang mungkin bisa dianggap bodoh, semua manusia tahu bahwa ia sedang jatuh cinta. Begitupula semua manusia mengerti bahwa mempertontonkan hal-hal yang membangkitkan syahwat, bergerak erotis sehingga banyak menimbulkan fitnah adalah sebuah ketidaksenonohan yang patut dijauhi, semua manusia paham karena itu semua adalah bahasa kemanusiaan.

Bahasa kemanusiaan adalah bahasa nurani. Ia tidak mungkin berbohong walaupun otak memberontak. Ia biasanya disebut fitrah, karena ia adalah bahasa manusia sejak ia menghirup udara. Bahasa kemanusiaan adalah bahasa murni jiwa yang bisa menentukan baik dan buruk.

Namun sayangnya, seiring dengan perkembangan manusia yang terpengaruh dengan lingkungan yang membentuknya, bahasa kemanusiaan akan kehilangan kemurniannya. Maka kita bisa mendengar bahwa seorang anak SD berani bunuh diri karena baju sekolahnya belum kering, itu karena ia sudah kehilangan bahasa kemanusiaanya, ia sudah terpengaruh oleh lingkungan, televisi dan media lainnya.

Tayangan-tayangan yang menyajikan kekerasan, pornografi, pornoaksi, hedonisme dan semua hal yang ternyata bisa mempengaruhi bahasa kemanusiaan bisa dengan mudah ia akses. Sehingga ia harus membunuh dirinya karena televisi mengajarkan yang demikian untuk menyelesaikan semua masalahnya.

Sebagai warga yang hidup dibawah naungan sebuah negara, semua warga berhak untuk mendapatkan perlindungan, salah satunya perlindungan dari hal-hal yang merusak fitrah. Maka semua perundang-undangan yang memihak pada kepentingan warga harus didukung. Salah satunya adalah undang-undang anti pornografi dan pornoaksi.

Herannya, beberapa orang yang mengaku pembela kepentingan rakyat dengan sangat keras menolak undang-undang ini. Padahal merekalah yang seharusnya menjadi pelopor undang-undang tersebut. Sebuah ironi yang menohok kemanusiaan kita semua.

Bahasa kemanusiaan adalah sama, karena bahasa kemanusiaan adalah bahasa jiwa. "Setiap jiwa dilahirkan secara fitrah, kedua orang tuanyalah yang meyahudikan, menasranikan, dan memajusikannya".

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Cinta ibarat pohon yang tumbuh di hati, tonggaknya adalah menghinakan diri di hadapan yang dicintai, batangnya adalah ma'rifah kepadaNya sedangkan dahannya adalah rasa takut, daunnya adalah rasa malu, buahnya adalah taat, air yang menyuburkannya adalah dzikir kepadaNya, maka tatkala cinta kehilangan salah satu di antara hal-hal tersebut, hilanglah sifat kesempurnaannya. (Ibnul Qayyim al Jauziyyah)
kweh saya harap empean bisa menggabungkan kesemua yang ada dalam cinta itu sendir, hanya usaha dan tawakkal, dan kesungguhan kita bernilai ibadah makanya tajdidunniah yang terpenting, Salam....

hafiz mengatakan...

iya kweh. bahasa kemanusiaan intinya adalah cinta, perdamaian dan keamanan. Manusia modern sudah mulai lupa akan bahasa ini...