Senin, Juli 31, 2006

Islam Hadhari; Menuju Islam Kaffah

"Indeed, Islam is more than just a religion. It is a civilization."

Kalau memang demikian pandangan ide islam hadhari maka islam dapat dihadirkan bukan hanya pada ritual-ritual keagamaan saja, namun lebih dari itu, islam akan merambah seluruh aspek kehidupan manusia termasuk juga politik dan negara.

Nah, kemudian kita akan kembali dibenturkan dengan pro-kontra antara bisa tidaknya islam menyentuh ranah ini. Permasalahan hemat saya bermula ketika islam dianggap tidak bisa untuk mengatur politik dan negara. Hal yang sering diwacanakan oleh kaum liberal-sekular. Bahkan dalam beberapa kesempatan mereka menuding kelompok islam politik sama halnya dengan kaum yahudi dengan ideology (al-ghayah tubarrirul wasilah) nya.

Aksi-aksi kaum liberal-sekuler ini memang sudah sangat biasa dan mungkin sudah menjadi genre pemikiran mereka. Budaya hitam-putih kaum liberal sekular kemudian menjadikan semua opini yang diwacanakan bersifat subyektif-provokatif.

Tak dapat dipungkiri bahwa kalangan fundamentalis islam menjadikan islam politik sebagai salah satu upaya ikut serta meramaikan demokrasi yang ada. Namun tuduhan kaum liberal-sekular dengan pernyataan hitam-putuhnya bahwa islam politik adalah agama dari kaum fundamentalis sangatlah berlebihan dan provokatif.

Kalau kita mau secara fair melihat realita islam politik yang ada di dunia islam, seperti Mesir contohnya. Maka, kita tidak akan pernah melihat tuduhan-tuduhan kaum liberal-sekular menemukan kebenaran. Dalam pemilu tahun ini misalnya, partai ikhwan muslimin patuh dengan sistem demokrasi yang ada di mesir dengan mengikuti pemilu, bahkan walau mereka tahu bahwa partai sosialis demokrat pimpinan Mubarak tidak akan tinggal diam. Tapi mereka tetap tunduk dengan konstitusi yang ada.

Lain Mesir lain Palestina, Hamas sebagai pemenang pemilu mengalami banyak kendala karena kemenangannya tidak diinginkan dunia khususnya Amerika dan Israel.

Islam Politik saya kira tidak seseram yang digambarkan kaum liberal-sekular. Bahkan islam politik kalau kita melihat dengan jernih merupakan sebuah gerakan anti rezim otoriter dalam negara islam dengan dukungan penuh rakyat. Islam politik juga merupakan salah satu dari konsekuensi islam sebagai peradaban yang mampu menjawab segala kebutuhan manusia dari segala aspeknya.

Pak Sayur

Saya terkejut ketika tadi sedang membeli sayur di toko sayur. Pak sayur yang selama ini saya lihat sebagai orang kampung biasa, yang mungkin tak pernah tahu dengan apa yang sedang terjadi di dunia, saya lihat dia sedang berbicara serius dengan para pembeli tentang agresi israel di Palestina dan Libanon.

Diiringi dengan siaran televisi yang mengabarkan jatuhnya warga sipil lagi di sebuah desa Lebanon selatan, salah satunya adalah 13 orang anak-anak. Pak tua itu sesekali membaca salawat, takbir dan tahmid. Dari nadanya seakan-akan ia begitu membenci sikap arogan Israel tersebut, namun apalah daya, ia hanya seorang pedagang sayur.

Seorang lelaki setengah baya datang, ia lalu memilah-milih sayur yang dibutuhkannya. Pak tua tukang sayur itu lalu berceloteh "jika negara-negara arab semua bersatu melawan Israel, nggak mungkin israel searogan seperti sekarang ini". Lelaki setengah baya tersebut nyeletuk "mudah-mudahan negara kita aman". Deg! Hati saya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya, ternyata seorang tua dan lelaki setengah baya yang dari segi penampilan adalah orang-orang 'biasa' yang tak mungkin berbicara demikian. Namun ternyata mereka masih lebih baik dari para pemimpin arab yang masih berfikir sangat panjang dengan solusi yang tak pernah akan berhasil menghentikan kebiadaban Israel.

Mereka hanya rakyat biasa yang tak bisa melihat pembunuhan seperti kacang goreng, begitu renyah dan murah. Mereka hanya tahu bahasa "tolonglah orang-orang yang teraniaya" tanpa ada pertimbangan politik atau kepentingan. Kerena hemat saya mereka adalah orang-orang yang masih punya nurani.

Seorang Ibu tua kemudian datang. Lagi-lagi tukang sayur tersebut berucap "dunia diam melihat kekejaman Israel" ibu itupun menambahkan "bahkan dunia seperti setuju atas apa yang Israel perbuat". Yah, semuanya tahu. Bahkan seorang pedagang sayur yang selalu saya lihat dan anggap sebagai seorang "rendahan" bahwa dunia diam melihat arogansi Israel.

Pak tua itupun kemudian membuat prediksi2 yang mencengangkan, katanya : Negara-negara arab seperti saudi enggan membantu hizbullah hanya karena mereka syi'ah, tapi merekan kan juga manusia!!! Sungguh luar biasa analisa pak tua ini. Dan ia hanya penjual sayur.

Saya hanya bisa tersenyum melihat tukang sayur langgananku tersebut. Bergegas saya pilih sayur mayur kebutuhanku, karena saya harus masak tumis hari ini. Nah, ketika saya ingin menyerahkan uang pas LE 5, 50 ia bilang biar lima Pound saja. wah, jangan-jangan ia juga sudah tahu bahwa di negaraku sedangan banyak musibah:)

Minggu, Juli 30, 2006

Menyanyi Dengan Nurani

Menyanyi dengan hati nurani? Siapa bisa. Di zaman penuh kekelaman ini siapa yang masih mau mendengar bahasa nurani? Mungkin penggalan bait lagu tadi merupakan sebuah harapan. Yah, harapan yang mungkin mustahil untuk terealisasikan.

Menyanyi dengan bahasa nurani memerlukan keikhlasan dari sang penyanyi, pendengar dan semua yang berhubungan dengan lagu tersebut. Lagu lantunan semedi dzikir ini memang sarat dengan nilai2 spiritual-sosial yang mampu memberikan kritik-kritik tajam ditengah kegersangan nilai-nilai spiritualitas akibat hegemoni globalisasi dengan ideologi material-kapitalisnya.

Dalam istilah Iwan Fals disebut suara hati, sebuah judul lagu yang mempertanyakan eksistensi dari suara hati. Kenapa suara hati pergi? Apakabar suara hati? Apakah ia telah mati? Ah, sudahlah semua sudah terjadi, dan kita hanya bisa menangis. Mencari suara hati.

Menyanyi dengan nurani merupakan awal inspirasi seorang penyanyi. Ia ibarat asas dari eksistensi nyanyian itu sendiri. Dulu, nyanyian merupakan sebuah media ampuh untuk membantu kemajuan suatu komunitas. Selain dari hiburan, nyanyian juga berfungsi sebagai penyemangat dalam peperangan. Bahkan lirik2 nyanyian bisa melahirkan revolusi hebat, seperti yang terjadi di jaman rasul ketika hijrah.

Nah, kalau kita melihat perkembangan arah nyanyian modern maka sungguh sangat melenceng dari tujuan awal terciptanya nyanyian itu sendiri. Nyanyian sudah dipengaruhi oleh nilai-nilai hedonisme yang menjurus pada hura-hura. Nyanyian bukan lagi bahasa nurani, ia pun tak luput dari bias-bias politik dan kepentingan. Nyanyian juga dijadikan barang komersial yang mampu mendatangkan jutaan dollar.

Ah, saya pribadi sudah pesimis dengan masa depan nyanyian. Pertanyaan demi pertanyaan selalu memenuhi bagian otak saya. semoga ada yang bisa memberikan jawaban : Bisakah kita menyanyi dengan hati nurani? Tanpa ada kepentingan dibaliknya, dengan ikhlas dan bebas.

Minggu, Juli 23, 2006

Malu

Aku malu melihat bulan
Walau ia selalu mengintipku malu
Namun malu adalah hidupku
Aku akan terus seperti ini, malu

Aku selalu malu bahkan
Melihat bayanganku pun tak mampu
Aku malu dari jari kami sampai ubun
Karena malu adalah bahasaku

Aku malu karena malu
Bukan karena takut
Walau banyak celotehan mengutukku
Dan mencelaku seorang penakut

Aku tak pernah takut
Apalagi dibelakang kebenaran
Aku hanya malu, itu saja
Jangan paksa aku tuk ucapkan kebohongan

Kenapa semua tak pernah paham
Bahwa aku memang seorang pemalu
Bahkan bulan, semoga saja dia tahu
Bahwa malu adalah diriku

Dunia Gila...

Perang Israel-Lebanon sudah memasuki hari yang kesebelas. Sudah banyak korban tak bersalah yang berjatuhan. Namun, peperangan tak kunjung ada titik selesai. Bahkan, serangan makin mematikan dan menggila. Dan yang mengherankan, Amerika akan mengirimkan senjata pembunuh massal ke Israel dan dunia diammmmmmmmmm!!!

Yah, dunia memang gilaaaaaaaaa. Gilaaaaaaaaaaaaaaaaa...Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaa...Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Israel Vis a Vis Lebanon




















Rabu, Juli 19, 2006

Adakah Cinta

Kasih, andai kau tahu bahwa
Aku sangat merindukanmu, rindu...
Senyummu mawar, tawamu madu
Kau selalu menatap malu

Kau buat hatiku kelu
Meretas jalannya rasa
Merindu datangnya cinta
Karena kau selalu menatapku malu

Kasih i love you...

Selasa, Juli 18, 2006

Israel Gila...

Israel semakin menggila. Negara zionis ini seakan tak mau tahu, harga nyawa manusia yang meninggal setiap harinya akibat agresi yang mereka lancarkan di Palestina dan Libanon. Bahkan mereka mengancam Syiria kalau ikut campur. Israel memang gila'...

Seakan mendapat lampu hijau dari sekutu abadinya Amerika, PBB pun sampai tidak digubris. Kutukan, seruan dan ancaman banyak pihak malah membuat darah binatang negara zionis ini semakin mendidih.

Israel memang gila. Negara-negara Arab diam. Sepertinya politik binatangnya dengan Amerika sukses besar. Negara-negara yang berpengaruh di timur tengah seperti Mesir, Saudi Arabia dan Yordan seakan bungkam. Ada apa ini? Dimana orang arab?

Malah Iran yang sangat bersemangat melawan agresi ini. Apakah karena Hizbullah kelompok Syiah? Atau apa? Takutkan negara-negara Arab pada Amerika? Seingat saya Iran bukan negara Arab, tapi Persia. Ah, lagi2 saya bingung karena sekarang rezim negara2 arab sangat bencong...

Jumat, Juli 14, 2006

Zidaneku Malang

Insiden Zidane seakan menjadi insiden yang sangat manarik pecinta bola setelah usainya perhelatan piala dunia. Semua insan bola seluruh dunia menanti-nanti kebenaran kata-kata yang memprovokasi Zidane sehingga ia menanduk Materazi hingga roboh.

Banyak kantor2 berita yang sampai mendatangkan ahli pembaca isyarat, yang hasilnya bahwa Materazi benar-benar menghina Zidane dengan kata-kata yang mengandung SARA. Para pencari berita kemudian mencoba untuk mengklarifikasi hal tersebut langsung pada Materazi. Namun si aktor hanya mengaku bahwa ia mengejek saja, tanpa ada kata2 yang berbau SARA.

Namun Pers tidak puas dengan pernyataan Materazi sebelum Zidane angkat bicara. Beberapa hari yang lalu Zidane menyatakan dalam jumpa pers bahwa Materazi menghina ibu dan adik perempuannya. Zidane juga menanggapi kemungkinan dicabutnya status pemain terbaik piala dunia 2006 oleh FIFA bahwa, yang patut dihukum adalah orang yang memprovokasi bukan reaktor.

Berita terakhir yang saya baca di internet, bahwa Materazi tetap tidak mengakui bahwa ia mengejek ibu dan adik perempuan Zidane. Ia juga mengharap FIFA tidak mencabut status Zidane sebagai pemain terbaik.

Insiden ini sepertinya masih tetap akan berlanjut, sampai ada keputusan final dari FIFA. Siapa yang benar, siapa yang salah. Namun harapan saya sebagai salah satu dari insan bola adalah bahwa FIFA harus fair dan adil dalam menentukan keputusan. Saya tidak ingin nasib Zidane sebagai pemain bola profesional tercoreng hanya karena sebuah insiden kecil akibat provokasi dari Materazi.

Sudah saatnya kita harus menilai dengan obyektif. Jangan sampai keputusan FIFA terpengaruh dengan kecendrungan Islamphobia yang sedang marak di dunia internasional belangan ini. Jangan sampai, hanya karena Zidane adalah seorang muslim maka ia tidak berhak untuk menjadi maestero yang seharusnya dikenang manis oleh generasi pecinta bola sedunia.

Nah, mari kita saksikan episode insiden Zidane dengan Materazi. Apa yang akan terjadi? Mudah-mudahan saja kebenaran yang akan terkuak, bukan kepentingan dan hal-hal yang berbau Islamphobia. semoga.

Kamis, Juli 13, 2006

Siapakah yang benar-benar teroris?

Siapakah yang benar-benar teroris? saya tidak tahu jawaban yang pas untuk pertanyaan sulit itu. Tapi yang jelas, kata teroris sendiri mengisyaratkan ketakutan mendalam. Teror berarti mengganggu ketenangan, stabilitas dan kedamaian. Teror juga berarti pembunuhan, pemerkosaan dan hal-hal yang melanggar HAM. Teror juga berarti invasi, intervensi dan arogansi.

Siapa yang benar-benar teroris? Lagi2 saya bingung. Mumbai (klo dalam film India Bombay) diguncang bom, semua dunia mengutuk. Spekulasi-spekulasi tentang siapa yang melancarkan serangan terorisme tersebut masih dilakukan. Semoga saja dunia tidak terlalu dini mengklaim bahwa bom tersebut berkaitan erat dengan gerakan al-Qaeda internasional.

Pada hari yang sama, pasukan AS di Irak sedang melakukan kejahatan paling besar sepanjang sejarah kemanusiaan. Invasi, intervensi dan arogansi terhadap hak2 warga Irak. Dengan dalih menegakkan demokrasi, sampai detik ini darah orang Irak berserakan dimana-mana. Amerika kemudian membawa demokrasi pecah belah (klo dalam politik Belanda dulu kita kenal dengan politik belah bambu). Pembagian kekuasaan antara Sunni, Syiah dan Kurdi kemudian menimbulkan perpecahan dan perang saudara yang wallhu 'alam kapan akan berhenti.

Siapakan yang benar2 Teroris? Israel kah? Dengan dalih membebaskan satu orang marinir Israel memborbardir Palestina dari segala arah. Depan, belakang, atas dan bawah. Tank-tank dan senjata pembunuh massal yang lebih cangggih dari apa yang dituduhkan ke Irak, berbondong-bondong di arahkan ke Gaza. Sebuah kota yang beberapa bulan yang lalu ditinggalkan Israel.

Ternyata penarikan pasukan tersebut hanyalah politik Israel untuk membumihanguskan bumi Palestina. Apakah darah satu orang Yahudi sebanding dengan ratusan bahkan ribuan darah Muslim? logika apa yang dipakai Israel dalam menentukan kebijakan politiknya? Bukankan warga2 tak berdosa tersebut juga manusia? lalu kemudian kemana suara2 dunia melihat arogansi Israel? Mana PBB? Apakah benar PBB sudah menjadi boneka Amerika dan Israel?

oh, adakah yang tahu kemudian siapakan yang benar2 teroris? Apakah dunia sudah menjadi terbalik? Yang baik menjadi jahat, yang jahat menjadi baik? Apakah Dajjal sudah datang, sehingga syurga menjadi neraka dan neraka menjadi syurga? Oh, semoga kita tetap sadar dan paham bahwa kiamat memang sudah dekat.

Rabu, Juli 12, 2006

Islam Sebagai Alternatif


Islam alternatif adalah keniscayaan untuk umat islam. Islam sebagai sebuah ideologi dari lahirnya hingga saat ini memang memberikan alternatif keharusan bagi manusia. Islam yang berarti ketundukan merupakan kesadaran manusia untuk mengakui bahwa ia adalah makhluk Allah yang lemah. inti dari ajaran islam yaitu tauhid, mengesakan allah dan menjadikan allah diatas segalanya.

Sejak pertama agama islam lahir, ia memberikan sebuah gambaran pada manusia bagaimana cara berinteraksi dengan tuhan, manusia dan alam. Al-Quran mengilustrasikan bahwa sejak dari dalam kandungan manusia sudah berjanji bahwa ia akan menjadi seorang muslim. nah, hal ini kemudian yang lebih familiar disebut fitrah.

Secara fitrah manusia dilahirkan lurus. Ia akan mengetahui baik dan buruk. Namun akhirnya konsep ta'tsir dan taatsur (keterpengeruhan) akan mengubah fitrah manusia. Dalam sebuah hadistnya Rasulullah bersabda bahwa setiap bayi adalah fitrah, kedua orang tuanyalah yang mempengaruhi kefitrahannya tersebut sehingga ia menjadi yahudi, nasradi atau majusi.

Maka dari itu allah mengutus seorang rasul, sebagai penyampai pesan allah pada manusia juga untuk menjaga orisinalitas kefitrahan manusia sendiri. innama bu'isttu li utammima makarimal akhlak (saya diutus untuk menyempurnakan moral).

Kalau kita meneliti kembali bagaimana tumbuhnya islam pada masa rasulullah, maka kita akan melihat bahwa ternyata islam memang selalu membenturkan diri dengan ideologi yang ada pada saat itu (paganisme). Rasulullah sebagai utusan pembawa islam dan pemeluk islam minoritas kala itu, mendapat perlakuan yang sangat tidak manusiawi. dilempar kotoran, dijemur diatas batu yang panas, sampai pada tahap pembunuhan dengan kejam (kasus Summayyah ibu dari sahabat Ammar).

Sampai pada puncak penyiksaan yang dirasakan oleh muslim minoritas kala itu, turunlah perintah allah untuk berhijrah, dari mekah ke madinah, dari tempat musuh ketempat yang lebih kondusif yaitu madinah. nah, dari sinilah kemudian rasulullah membangun sebuah tatanan komunitas yang akhirnya banyak dikenal dengan negara madinah.

Negara madinah yang saya sebutkan diatas bukan hanya sekedar klaim, namun itu adalah relita sejarah. dari adanya seorang pemimpin yang ditaati, kemudian sistem pemerintahan yang didengar dan terakhir kaum(penduduk yang sangat majemuk) dan tempat yang membentang.

Negara madinah dengan rasulullah sebagai kepala negara dan sistem islam yang dianut ternyata mampu untuk menggetarkan dua kekuatan adidaya waktu itu, romawi dan persia. bahkan heraclius yang sempat menanyakan keadaan rasul baru di jazirah arabia pada Abu Sufyan berkata, jika apa yang kau katakan itu benar wahai Abu Sufyan, maka kekuatannya(rasul) akan sampai di singgasanaku ini. dan itu terbukti pada masa khalifah Umar bin Khattab.

Ajaran islam pada perkembangannya bukan hanya sebagai alternatif. ia malah menjadi sebuah realitas hidup yang tergambar dari ajarannya yang kompleks dari aqidah(ideologi), syariah(hukum/system) dan akhlak(moral/tata prilaku).

Ajaran-ajaran kompleks tersebut semua bersumber dari Al-Quran dan Hadis (perkataan, perbuatan dan pernytaan nabi). Nah, sebagai penganut ajaran baru, umat islam pada masa itu berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan ajaran islam. Karena mereka yakin akan kebenaran agama tersebut. Dari sinilah kemudian zaman keemasan islam dimulai. Rasulullah bersabda, sabaik-baiknya masa adalah masaku, kemudian masa selanjutnya, kemudian masa selanjutnya, kemudian menyebarlah kebohongan-kebohongan. maksudnya adalah, masa sahabat, tabi'ien. tabi' tabi'ien.

Islam sebagai akidah, islam sebagai syariah dan islam sebagai akhlak (dengan kedua sumbernya) kemudian memberikan inspirasi bagi cendikia-cendikia muslim untuk mengembangkan ilmu-ilmu baru keislaman seperti ilmu hadist, tafsier, fiqh, akhlak, sejarah, sosiologi, kedokteran, kimia, aljabar, tasawuf, tauhid dan lain sebagainya. Yang semua ilmu-ilmu itu adalah ilmu islam yang disarikan dari dua sumber tadi ato terjemahan dari yunani yang kemudian dikembangkan sesuai dengan metode islam (al-quran dan sunnah).

Kemudian setelah itu datang masa kemunduran islam (dengan jatuhnya Andalusia) dan kejayaan eropa dengan pencerahan teknologinya disertai semangat dendam perang salib yang kemudian mengilhami eropa untuk menyerang negara-negara islam (ekspansi). Kemudian bangsa eropa (yang dulunya berguru ke andalusia) mencoba mengolaborasikan apa yang mereka ketahui dengan kenyataan yang mereka alami(mereka adalah ilmuan yang selalu dikekang oleh gereja katolik/roma). maka muncullah ilmu-ilmu yang 'berbeda' seperti ilmunya darwin tentang evolusi, ilmunya freud tentang psikoanalisanya, dan selanjutnya muncul ilmu hermeneutik(yang saya kira sangat tidak cocok untuk menyamai tafsier, karena hermeneutik berasas skeptisme dan tafsier berasas kepercayaan/iman).

Sampai kemudian pada zaman modernis dan posmodernisme dengan dua kutub ideologi yang begitu kuat, sosialisme dan kapitalisme datang. Dua ideologi yang saling berusaha untuk menguasai dunia. Sampai ketika sosialisme kalah dengan runtuhnya Uni Soviet para pendukung kapitalisme kemudian menjadikan sebuah penelitian yang ditulis oleh Hungtinton dengan judul the clash of civilitation untuk menjustifikasi bahwa musuh kapitalisme setelah sosalisme adalah islam.

Nah, klo kita melihat realitas hegemoni kapitalisme yang menguasai hampir seluruh gerak gerik manusia modern, maka kita akan berkesimpulan bahwa kapitalisme telah gagal untuk membawa manusia menuju kebahagiaan. sistem kapitalisme yang berasas siapa kuat dia menang sudah tidak mampu lagi untuk menjadi satu2nya sistem manusia modern. Maka, tidaklah salah ketika sebagian umat islam kemudian berusaha untuk mengembalikan realitas islam.

Karena islam adalah sebuah realitas hidup yang dulu pernah membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia keseluruhan.

Al-Quran dan Sunnah sudah jelas berada didepan kita, namun kenapa kita masih latah ingin mengambil dari orang lain (kecuali hal-hal yang tidak berbenturan dengan akidah, syariah dan akhlak islam seperti usul parit yang diterima oleh rasulullah) dalam suatu riwayat disebutkan bahwa suatu ketika rasulullah melihat sahabt Umar sedang membaca taurat. Rasulullah kemudian marah dan berkata, seandainya musa hidup maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengikuti ajaranku (islam). sekian dulu wallahu 'alam bishowab.

Bau Mulut

bau mulutmu anyir darah
menyeruak menembus tujuh dinding
banyak orang ingin muntah
tapi kau tertawa bebas
oh, bau mulutmu semakin anyir
tapi tawamu makin keras
menggelitik hingga tujuh langit
bahkan anak2mu riang bertepuk tangan
mulutmu anyir tapi kau bahagia
pun anakmu selalu menggonggong
seperti anjing2 jalanan
melihat anyir darah segar

Busuk

adakah nurani telah tertutup
duri-duri fanatisme yang selalu menyakiti
sejak beberapa abad agamaku ada
bahkan sekarang sudah menggurita
tak tahu apa yang dikatakan seorang suci
menganggap kebenaran suatu kekotoran
tak tahu apa kata pengikutnya
seperti anjing yang terus menyalak gila
benar adalah benar, salah adalah salah
kenapa harus membenarkan yang salah
sedangkan yang benar diinjak-injak
tak cukupkah dengan kata tulisan setan?
ataukah agamaku harus dibuang
seperti anak kecil yang membuang emas
tak pernah tahu apa nilai dari kebenaran
tak sadar arti satu penghargaan
oh, adakah nurati telah tertutup
seperti mata, telinga dan mulut yang tersumpal
aku melihat semua seperti bisikan iblis
yang menggeliat di atas sarang laba rapuh
muak aku benci
andai mulut2 itu ditusuk jarum beracun
muak aku benci
semoga tuhanku tak sekejam pikiranku

Fana...
















Daun itu mengerut tipis
Kemudian kering luluh
Hancur lalu hilang
Fana...
Fana lalu tersiksa atau bahagia
Membayar semua perkara
Baik, buruk dari kecil sampai besar
Fana...lalu ada kembali
Seperti pucuk daun, hidup dan ada...
Lalu hisab, mizan dan sirat
Bahagia atau celaka
Lalu fana menjadi abadi...
Yang ini tertawa
Yang itu menangis
Mengharapkan kebahagiaan abadi
Merengek kefanaan pertama...
Tak ada penyesalan lagi
Karena kefanaan tak mungkin kembali
Fana, abadi lalu tak tahu
Karena fana dan abadi hanyalah kefanaan yang lain...

Perda Syariat Adalah Hasil Demokrasi

Perbincangan tentang Perda Syariat tiba-tiba kembali menguak disebabkan aksi 56 anggota DPR pusat yang merekomendasikan penghapusan perda tersebut. Aksi itu kemudian memunculkan aksi balik sekitar 134 anggota DPR dari berbagai fraksi.

Aksi sebagian anggota DPR tersebut memunculkan sebuah tanya tentang otonomi daerah yang sudah berjalan. Penolakan Perda-Perda tersebut seakan-akan kembali mementahkan otonomi daerah, karena pemerintah pusat seperti kembali ke masa rezim Orba dengan sentralisasi kekuasaan yang nantinya menyebabkan sikap otoriter pemerintah pusat.

Memang benar, negara Indonesia terbentuk dari berbagai macam suku, ras dan agama. Namun perlu diingat bahwa sistem yang dianut negara ini adalah demokrasi pancasila yang salah satu silanya berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa", dari sini bisa kita lihat bahwa asas pertama dibentuknya negara Indonesia adalah asas ketuhanan yang mengisyaratkan negara ini bukanlah negara sekuler.

Dalam sistem demokrasi yang menyerahkan keputusan pada hasil musyawarah untuk mufakat dan voting ini, mayoritas memiliki wewenang untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Jika mayoritas menginginkan berlakunya syariat islam, maka minoritas harus menerima dengan lapang dada sebagai konsekuensi dari demokrasi itu sendiri.

Penolakan perda syariat tersebut bisa dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Pertama, Islam Phobia. Hal ini bisa terjadi mengingat ketakutan sebagian pihak jika Republik Indonesia menjadi negara islam, maka dengan berbagai macam cara hal-hal yang berbau islam akan disingkirkan, walaupun itu bertentangan dengan demokrasi.

Kedua, sekularisasi NKRI. Hal ini sangat kentara sekali ketika ada sebagian anggota DPR penolak beralasan bahwa harus ada pemisahan antara ranah agama dan negara. Alasan-alasan tersebut hemat penulis mewakili golongan nasionalis sekuler yang begitu bernafsu untuk menjadikan Republik ini menjadi negara sekuler walaupun bertentangan dengan semangat demokarasi pancasila.

Hemat penulis, seharusnya sebagai negara demokrasi, pemerintah harus mendengarkan suara mayoritas selama itu tidak merugikan minoritas. Pengetrapan perda syariat islam saya kira sama sekali tidak merugikan kelompok minoritas, karena agama islam adalah agama yang mengajak kepada kebaikan bersama.

Pun dalam sejarah kekuasaan islam selama berabad-abad tidak ditemukan aksi penindasan terhadap kelompok minoritas, bahkan perlindungan terhadap kelompok minoritas mendapat perhatian lebih. Rasulullah bersabda bahwa menyakiti dzimmy (non muslim yang hidup di negara islam) dosanya lebih besar dari pada menyakiti seorang muslim.

Bahasa Kemanusiaan

Bahasa kemanusiaan itu sama. setidaknya itu salah satu poin yang saya dapatkan kemaren ketika berbincang santai dengan beberapa teman sejawat disebuah rumah penuh kesadaran yang sepi.

Semua manusia paham bahwa ketika ada seseorang yang jatuh cinta maka ia akan berbuat sesuatu yang mungkin bisa dianggap bodoh, semua manusia tahu bahwa ia sedang jatuh cinta. Begitupula semua manusia mengerti bahwa mempertontonkan hal-hal yang membangkitkan syahwat, bergerak erotis sehingga banyak menimbulkan fitnah adalah sebuah ketidaksenonohan yang patut dijauhi, semua manusia paham karena itu semua adalah bahasa kemanusiaan.

Bahasa kemanusiaan adalah bahasa nurani. Ia tidak mungkin berbohong walaupun otak memberontak. Ia biasanya disebut fitrah, karena ia adalah bahasa manusia sejak ia menghirup udara. Bahasa kemanusiaan adalah bahasa murni jiwa yang bisa menentukan baik dan buruk.

Namun sayangnya, seiring dengan perkembangan manusia yang terpengaruh dengan lingkungan yang membentuknya, bahasa kemanusiaan akan kehilangan kemurniannya. Maka kita bisa mendengar bahwa seorang anak SD berani bunuh diri karena baju sekolahnya belum kering, itu karena ia sudah kehilangan bahasa kemanusiaanya, ia sudah terpengaruh oleh lingkungan, televisi dan media lainnya.

Tayangan-tayangan yang menyajikan kekerasan, pornografi, pornoaksi, hedonisme dan semua hal yang ternyata bisa mempengaruhi bahasa kemanusiaan bisa dengan mudah ia akses. Sehingga ia harus membunuh dirinya karena televisi mengajarkan yang demikian untuk menyelesaikan semua masalahnya.

Sebagai warga yang hidup dibawah naungan sebuah negara, semua warga berhak untuk mendapatkan perlindungan, salah satunya perlindungan dari hal-hal yang merusak fitrah. Maka semua perundang-undangan yang memihak pada kepentingan warga harus didukung. Salah satunya adalah undang-undang anti pornografi dan pornoaksi.

Herannya, beberapa orang yang mengaku pembela kepentingan rakyat dengan sangat keras menolak undang-undang ini. Padahal merekalah yang seharusnya menjadi pelopor undang-undang tersebut. Sebuah ironi yang menohok kemanusiaan kita semua.

Bahasa kemanusiaan adalah sama, karena bahasa kemanusiaan adalah bahasa jiwa. "Setiap jiwa dilahirkan secara fitrah, kedua orang tuanyalah yang meyahudikan, menasranikan, dan memajusikannya".