Sabtu, Desember 02, 2006

Toleransi Islam

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca tulisan Dr. Abou El-Fadl tentang toleransi dalam islam. Salah satu yang sempat saya tangkap dari tulisannya adalah tentang pemahaman teks keagamaan yang menurut beliau tidak dapat dipisahkan dari aspek historitas teks (asbab nuzul). Beliau juga mengatakan bahwa Teks Alquran selalu tergantung terhadap pemahaman moral masing-masing pembaca. Seakan Teks keagamaan adalah rumah kosong yang bisa dikuasai siapa saja yang mendiaminya.

Historitas Teks sangat diperlukan dalam pemahaman teks keagamaan agar tidak menyebabkan pemahaman yang harfiy. Dalam hal ini El-Fadl mengkritik pemahaman kelompok ekstrimis islam yang dalam pemahamannya terhadap teks lebih mengedepankan pemahaman tekstualis dan mengesampingkan rasionalitas pemahaman.

Terhadap fenomena Terorisme akhir-akhir ini, El-Fadl mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya adalah akibat tekanan internal dan eksternal. Internal dari pihak penguasa yang selalu memarjinalkan kelompok islam, eksternal dari berbagai intervensi asing dalam berbagai aktivitas kelompok islam.

Menyikapi doktrin toleransi dalam islam, Abou El-Fadl mengatakan bahwa Alquran sama sekali tidak memberikan kata pasti dalam kata-kata Fa'dilu dalam Alquran, karena ia masih bersifat relatif sesuai pemahaman pembaca terhadap nilai moral dan penguasaan historitas teks.

Disini saya melihat satu celah dari pemikiran Abou El-Fadl, bahwa seharusnya dalam menetapkan arti dan pemahaman dari teks-teks relatif haruslah dikembalikan pada arti linguistik teks tersebut dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perjalanan makna teks tersebut. Karena Kaedah kebahasaan sifatnya adalah tetap dan yakiny.

Relativisme pemahaman teks ini kemudian menggiring El-Fadl pada sebuah ketidakjelasan pelabelan obyek ekstrimis islam, sehingga kadang label ekstrimis islam dialamatkan kepada alamat yang salah. Sebagai contoh kritik El-Fadl terhadap wahabiyah dan salafiyah yang diklaim menggunakan pemahaman tekstualis (harfiyah) dan menjadi bibit terorisme modern dengan Al-Qaedah sebagai tertuduh.

El-Fadl Mengatakan bahwa wahabiyah dan salafiyah adalah dua kelompok yang mengklaim bahwa pemahaman dan tafsiran mereka terhadap agama adalah yang paling benar, sehingga penafsiran diluar mereka adalah penafsiran yang salah dan sesat. Nah, dari sini kemudian tumbuh sikap fanatisme, ekstrimisme bahkan sampai pada tinggal terorisme.

Menurut hemat saya, perlu adanya pengurutan cara penafsiran setiap kelompak terhadap agama  secara runtut dan sistemasis. Sehingga kita benar-benar tahu mana tafsiran agama yang paling mendekati kebenaran orisinal islam dan mana yang bukan. Sependek pengetahuan saya terhadap kelompok teology islam, para salaflah yang disepakati para ulama sebagai tafsiran agama yang paling dekat dengan kebenaran.

Nah, setelah mengetahui cara penafsiran keagamaan yang paling mendekati kebenaran mari kita kembali memaknai arti 'salah' dan 'sesat'. Kata 'salah' menyiratkan suatu hal yang tidak seharusnya dikerjakan, sedangkan 'sesat' menyiratkan tidak adanya pengetahuan dalam apa yang dikerjakan.

Dari sini bisa kita simpulkan klaim sesat dan salah dari kelompok yang paling mendekati orisinal islam (para salafush-sholeh) terhadap pemahaman lain yang menyimpang adalah sah adanya. Hal ini untuk menjaga orisinal islam dari penambahan dan pengurangan.

Adapun terhadap aksi sebagian pengikut pemahaman ini yang cenderung ekstrem dan beberapa tahun terakhir ini terlihat berbau terorism, maka perlu dilihat juga obyek dari aksi tersebut serta kenapa harus obyek itu yang menjadi sasaran. Tidak akibat tanpa sebab. Nah, dari sini kita harus melihat, menilai dan menyimpulkan baik itu dari sisi subyek, obyek maupun sebab sehingga nantinya pelabelan kita terhadap kelompok ekstremis teroris tidak salah dan rancu. Pun juga perlu dibedakan antara pemahaman salafush-sholeh dan pemahaman orang-orang yang hanya mengklaim sebagai pengikut salaf tetapi pekerjaannya tidak sesuai dengan akhlak para salaf.

Rabu, Oktober 11, 2006

Rindu

rindu ini rindu mati
mendekapku sepanjang musim
selalu datang bersama dara-dara liar
berterbangan di balkon apartemenku

sering aku bermimpi
bertemu senyum ibuku, bapakku dan adik-adikku
keluarga, tetangga dan tanahku
namun mimpi itu hanya sesaat

ketika bangun, tak pernah kutemukan senyuman-senyuman itu
yang ada hanya bangsat-bangsat kekenyangan dengan darahku
akupun hanya bisa terus bermimpi
disini, dinegeri atas langit

rindu ini masih tertancap dalam dijiwaku
tak tahu harus bagaimana
apakah aku harus menangis
ataukah berteriak memanggil mimpi-mimpi tersebut

namun suaraku tak mungkin sampai menembus ribuan mil
menjelajah seperti dara-dara itu
bahkan tuk sekedar terbangpun, aku tak sanggup
aku pemimpi dan selamanya adalah pemimpi

namun aku yakin
suatu saat nanti aku pasti terbang
menggapai mimpi-mimpi itu
tersenyum bersama tawa semua orang

Senin, Oktober 09, 2006

Pulang

aku akan pulang
dengan sepotong roti dan segelas air
tersenyum riang penuh canda tawa
kembali melihat hijau daun desaku

aku pasti kembali
dengan impian-impian itu
melangkah gagah ditengah decak kagum anak-anak ingusan
kembali menghirup udara desa yang tak pernah mengenal kotoran

namun aku ragu
mungkinkah aku tetap menemukan semua sama
persis ketika dulu ku tinggalkan tanah itu
dengan berjuta bara berkobar

apakah nanti aku akan bertemu dengan senyummu
ataukah semua telah berubah menjadi tangis yang tiada henti
atau bahkan aku takkan pernah bertemu denganmu lagi
karena semua sudah terbakar tsunami kejahatan

namun kuharap, badai tak cepat menyapumu
meratakanmu sekejap mata
menjadikanmu tanah tandus tak berpenghuni
sepi, rusak dan binasa

tunggulah aku barang sekejap
menghiasmu bak pengantin rajaa
ku yakin aku bisa
walau dengan sepotong roti dan segelas air

tunggulah aku sebentar lagi
mencari arti hiaskan diri
mengeruk, mendaki dan menyelam
agar kamu tak bisa tenggelam

Senin, Oktober 02, 2006

Puisi Cahaya Bulan

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap sambil membenarkan letak leher kemejaku

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah pandalawangi
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan” yg menjadi suram
meresapi belaian angin yg menjadi dingin

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat

apakau kau masih akan berkata
kudengar dekap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tahu dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

Senin, September 11, 2006

Kawan...

Oh... betapa aku tak bisa
Tersenyum apalagi berkata
Sungguh malu aku merana
Diterpa sunyi bersiram durja

Kenapa sepi selalu ada
Kenapa hati suram menyapa
Bisakah sejenak aku tertawa
Rasakan cinta hadir di jiwa

Kawan datang musuh tiada
Membawa damai hilangkan murka
Tersenyum tertawa riang bersama
Coba obati luka menganga

Baiklah kawan ini ridanya
Moga nanti dapat senyumnya
Biarkan hati perih terluka
Asal kawan tetap terjaga
Kawan bahagia akupun juga
Satu rasa seiya kata
Seperti tubuh satu terluka
Terasa sakit sampai ke muka

Minggu, September 10, 2006

Maktabah Usroh 2006

Maktabah Usroh 2006
(menciptakan pembaca yang toleran)
Maktabah Usroh lagi-lagi muncul dengan buku-buku berkualitas berharga murah. Bayangkan saja, dengan cuma uang LE 1.5 (kira-kira Rp. 2000,-) kita sudah bisa menikmati buku-buku berkualitas. Dari buku-buku terjemahan, turast, buku sosial, sastra, teknologi dan tema-tema lain.

Program maktabah usroh ini memang menjadi program tahunan pemerintah di Mesir atas inisiatif dan pengawasan ibu Negara Suzan Mubarak. Program yang bertujuan untuk membumikan budaya membaca ini memang berdampak besar terhadap perkembangan kebudayaan dan pemikiran di Mesir ini.

Untuk tahun ini (2006) tema besar yang yang diangkat maktabah usroh adalah “kebudayaan adalah bahasa perdamaian”. Sebanyak 300 judul buku akan diterbitkan dengan tujuan terciptanya iklim kedudayaan dan pemikiran yang kondusif terhadap perdamaian dan toleransi serta memperdalam arti berbangsa dan bernegara. Juga untuk memahamkan nilai keikutsertaan wanita dalam ranah publik, reformasi kebudayaan, pemikiran kritis, dialog dan kerjasama dengan masyarakat dunia yang lain.

Hal ini hemat penulis merupakan sebuah contoh konkrit campur tangan pemerintah untuk turut serta membangun perdamaian nasional dan global. Karena, seperti yang kita tahu banyak kelompok-kelompok ekstrimis garis keras yang berpusat di negeri seribu menara ini. Dan salah satu cara untuk membendung pemikiran ekstrim adalah dengan menyebarkan bacaan-bacaan yang toleran dan moderat.

Untuk mahasiswa Indonesia di Mesir, proyek ini bukan hanya sebagai berkah karena buku-buku tersebut berkualitas namun juga bisa mengirit pengeluaran. Karena kalau kita selidiki, ternyata harga aseli buku-buku yang dimaktabah usroh-kan tersebut lumayan menguras isi dompet. Namun, karena ada subsidi pemerintah maka harganya menjadi miring.

Sayangnya, buku-buku tersebut sudah jarang kita temui di toko2 kecil di pinggir jalan. Bagi yang berminat bisa memburunya di pusat-pusat penjualannya. Yang penulis tahu hanya satu yaitu disamping perpustakaan darul kutub (hayah ammah) di tahrir.

Selanjutnya silahkan anda-anda mencarinya sendiri… selamat berburu J!!!

Al-Azhar Jami' wa Jami'ah

Al-Azhar sebagai salah satu lembaga keislaman tertua di dunia merupakan sebuah mercusuar islam yang disegani kawan maupun lawan. Ia bukan hanya kiblat kaum sunni, tapi juga syi'ah dan umat islam secara keseluruhan. Al-Azhar juga memiliki sejarah panjang bukan hanya dalam bidang keislaman saja, bahkan ia adalah motor pergerakan pembaharuan Mesir dan negeri-negeri islam lainnya dengan lahirnya seorang Muhammad Abduh dari rahimnya.

Bahkan dalam beberapa dekade terakhir ini Al-Azhar memiliki peranan penting dalam menjembatani hubungan islam-barat yang makin memburuk. Banyak tulisan-tulisan ulama Al-Azhar yang berusaha untuk mengenalkan islam yang damai kepada khalayak barat yang selalu menganggap islam adalah agama teror yang harus dimusuhi.

Dalam bidang keislaman, Al-Azhar adalah lembaga yang berusaha menjaga islam otentik, dengan tidak menutup mata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan teologi salafi-asy'ary, Al-Azhar berusaha untuk menafsirkan setiap fenomena yang terjadi dengan kacamata islam yang moderat. Yaitu islam yang bisa menjembatani fundamentalisme dan sekularisme yang sedang marak di dunia intelektual islam secara umum.

Dengan jargon islam moderat yang dibawanya, ternyata Al-Azhar mampu menjadi magnet keilmuan islam yang menarik banyak minat pelajar asing dari berbagai penjuru dunia untuk menuntut ilmu keislaman. Bahkan banyak kajian dan buku-buku orientalis yang menyebutkan bahwa Al-Azhar adalah Oxford dari timur dikarenakan ia memiliki ciri khusus dan sejarah panjang melebihi lembaga-lembaga keislaman lainnya.

Konsep ruwak - yang kemudian diadopsi oleh sistem pengajaran seluruh universitas di seluruh dunia dengan fakultas - merupakan sebuah bentuk awal sistem pendidikan di Al-Azhar. Dari ruwak ini pula bermunculan banyak ulama-ulama sekaliber Muhammad Abduh, Al-Maraghi, Azzarqani, Mahmud Syaltut, Abdul Halim Mahmud dan Sya'rawi dengan berbagai macam spesialisasi keilmuan masing-masing.

Sekarang, ruwak-ruwak tersebut telah dimodifikasi menjadi fakultas-fakultas agama dan umum seperti sistem universitas di seluruh dunia. Namun hal ini tidak lalu menjadikan Al-Azhar menghapus sistem ruwak dari sistem pendidikannya. Ruwak-ruwak tersebut masih bisa kita saksikan dan ikuti di masjid Al-Azhar. Karena Al-Azhar masih menjaga tradisi ruwak tersebut maka tak heran jika kita sering mendengar slogan Al-Azhar Jami'un wa Jami'ah, Al-Azhar adalah masjid dan universitas.

Slogan diatas menyiratkan bahwa, ketika kita belajar di Al-Azhar maka tidak cukup kita belajar di universitasnya saja karena Al-Azhar juga adalah masjid dengan ruwak-ruwaknya yang bersejarah. Sistem pengajaran ruwak kalau kita perhatikan hampir sama dengan sistem pengajian kitab kuning yang diterapkan di pesantren-pesantren salaf di Indonesia. Sampai sekarang masih tersisa beberapa ruwak di masjid Al-Azhar. Ruwak-ruwak tersebut tidak hanya dipergunakan untuk mendalami kitab turast, namun ada beberapa yang dipergunakan untuk menghafal Al-Quran.

Dalam beberapa kesempatan, ruwak-ruwak tersebut mengadakan daurah - seperti daurah shaifiyyah yang diselenggarakan musim panas setiap tahunnya - untuk menghatamkan beberapa kitab yang kemudian akan diberi ijazah.

Sistem pembelajaran seperti inilah yang kemudian membuat Al-Azhar berbeda dengan lembaga lain. Ketika lembaga-lembaga keislaman yang lain berlomba-lomba untuk meniru sistem pendidikan barat yang dianggap lebih profesional dan metodologis, Al-Azhar tetap dengan tradisi ruwak dengan seorang guru yang membaca dan menerangkan turast pada muridnya..

Sistem ruwak ini pula yang dikritik oleh Muhammad Abduh yang akhirnya berinisiatif untuk medirikan lembaga baru yang kemudian dikenal dengan darul ulum. Kritikan tidak berhenti di Muhammad Abduh saja, banyak lagi cendikiawan Mesir yang memberikan kritikan-kritikan tajam terhadap sistem Al-Azhar baik itu secara lembaga, universitas maupun masjid untuk kemashlahatan umat secara umum. Dari sini kemudian Al-Azhar melakukan perbaikan-perbaikan mulai dari beberapa perubahan kurikulum, memperbaiki administrasi lembaga dan hal-hal lain yang dianggap perlu.

Selain Al-Azhar sebagai sebuah masjid, Al-Azhar juga adalah termasuk universitas tertua di dunia. Seperti kebanyakan universitas yang lain, Al-Azhar membuka banyak fakultas baik itu agama maupun umum. Namun, kalau kita telisik lebih dalam lagi dan kita fokuskan pada fakultas keagamaan, maka kita akan menemukan kenyataan bahwa sistem pembelajarannya adalah sama dengan sistem pembelajaran di ruwak.

Dari segi materi yang diajarkan juga kita temukan bahwa, materi-materi yang di ajarkan di universitas Al-Azhar pada fakultas-fakultas agamanya yaitu : Ushuluddin, Syariah, Bahasa, Dirasah Islamiah rata-rata adalah pengulangan terhadap materi-materi yang diajarkan di Ma'had Tsanawiyah Azhariah (MA) walaupun dengan beberapa penambahan dan pendalaman di materinya masing-masing.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa hasil pembelajaran seperti ini akan terasa nanti setelah murid menginjak strata dua. Sama seperti filsafat mengisi dulu baru mengelaborasi kemudian membagi, Al-Azhar memfokuskan pengisian terlebih dahulu lalu pengulangan secara sistematis dari tsanawiyah sampai strata satu kemudian pengelaborasian di tingat S2 dan S3.

Walaupun universitas Al-Azhar masih terlihat kumuh dan tidak sistematis, namun hemat penulis disinilah letak seorang penuntut ilmu dituntut kesabarannya. Karena, ilmu tidak mungkin datang secara suka rela kecuali jika penuntut ilmu tersebut mencarinya. Nah, dari sini bisa kita rasakan filsafat bahasa arab dengan thalabul ilmi-nya.

Dari titik ini kemudian penulis heran dengan sikap apriori sebagian mahasiswa kita yang cenderung menganggap Al-Azhar adalah barang rongsokan yang tidak memiliki kelebihan apa-apa. Padahal mereka tidak secara penuh mengikuti gaya permainan sistem pendidikan Al-Azhar. Mereka hanya sekali dua kali hadir mengikuti kuliah dan pengajian di ruwak. Seakan Al-Azhar adalah seorang tua yang sebentar lagi akan meninggal, mereka membanding-bandingkan sistem, administrasi dan infrastruktur Al-Azhar dengan universitas-universitas elit di Asia dan Eropa.

Mereka lupa bahwa Al-Azhar dibangun atas dasar keikhlasan, bukan dengan uang seperti yang banyak kita saksikan ditanah air kita, dimana pendidikan sudah menjadi bisnis menggiurkan. Bahkan Al-Azhar bukan sampai pada tahap ini saja, ia masih memberikan beasiswa pada ribuan mahasiswa asing dan lokal.

Seharusnya sebagai santri Al-Azhar, anggapan-anggapan sinis dan apriori terhadap Al-Azhar harus proporsional. Dalam artian harus sesuai dengan dengan sistem yang dipakai. Jangan sampai kita mengkritisi sistem tanpa tahu secara mendalam tentang sistem tersebut. Pelajari dulu sistemnya baru setelah menguasai adakan komparasi dan perbaikan.

Akhirnya penulis mengajak diri penulis khususnya dan pembaca secara umum untuk selalu bangga berstatus sebagai santri Al-Azhar. Karena berapa banyak keinginan orang untuk belajar dan mengais ilmu dari lembaga keislaman yang berwibawa ini namun hanya beberapa orang saja yang bisa sampai di negeri kinanah ini. Oleh karena itu, mari kita selalu mencari dan mencari mutiara-mutiara yang tersimpan di kampus kumuh Al-Azhar, karena penulis yakin mutiara ilmu itu tidak mungkin didapatkan kecuali dengan perjuangan dan usaha yang keras.

Kamis, Agustus 24, 2006

Meneropong shalat sebagai agen of change

Keutamaan Shalat
(Meneropong shalat sebagai agen of change)
Oleh : Azhar Amrullah Hafizh

27 Rajab ini kembali kita memperingati sebuah momen besar yang diabadikan oleh Al-Quran dalam sebuah suratnya surat Al-Isra’ (Bani Israil) yaitu peristiwa isra’ mi’raj. Peristiwa ini merupakan sebuah kejadian yang bisa dijadikan acuan keimanan seseorang kepada Rasulullah dan apa yang dibawanya.

Dalam peristiwa ini, perintah shalat diturunkan. Sebuah ibadah yang kemudian menjadi salah satu rukun islam. Shalat secara bahasa berarti do’a. banyak ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan pengertian ini. Kemudian arti shalat mengalami pengkhususan menjadi ritual tertentu dengan tatacara khusus diwaktu khusus pula. Kemudian pengertian ini menjadi istilah primer bagi kata shalat.

Shalat dengan berbagai macam ritualnya merupakan sebuah kumpulan gerakan yang dilakukan oleh malaikat. Sujud, rukuk dan lain sebagainya merupakan gerakan-gerakan malaikat ketika beribadah pada Allah di Bait Al-Makmur. Kemudian gerakan-gerakan ini dikumpulkan untuk sebagai kehormatan pada kekasih Allah, Muhammad s.a.w. dan umatnya.

Dalam syariat islam, shalat memiliki keistimewaan tersendiri karena ia adalah batas yang membedakan seorang mukmin (tunduk) dan kafir (menentang). Pada awalnya, shalat disyariatkan dengan lima puluh raka’at, Namun setelah kekasih Allah, Muhammad s.a.w meminta keringanan maka diperingan menjadi lima raka’at dengan lima puluh ganjaran.

Karena, dalam syariat islam satu kebaikan diganjar dengan sepuluh pahala. Namun satu kesalahan dihitung satu dosa. Bila kesalahan tersebut gagal dikerjakan maka tidak ditulis dosa sampai dikerjakan. Bahkan, jika kesalah itu ditinggalkan karena takut pada Allah maka akan ditulis sebagai satu kebaikan.

Keutamaan shalat terlihat ketika ia diletakkan sebagai tiang agama. Agama diibaratkan sebuah bangunan dengan shalat sebagai tiangnya. Sama halnya dengan sebuah bangunan tanpa tiang yang menyebabkan bangunan tersebut roboh, begitupula agama, tanpa shalat ia akan rapuh dan kemudian roboh.

Penggambaran Rasulullah tentang shalat bahwa ia adalah tiang agama menyiratkan sebuah penekanan yang sangat dalam akan urgensi shalat. Bahkan, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa amalan pertama yang dihitung ketika kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka semua amalannya juga baik, namun bila sebaliknya maka kesengsaraan akan menunggunya di jahannam. Nah, dari sini kita bisa melihat bagaimana syariat memposisikan shalat. Sebuah posisi strategis yang bisa menentukan kebaikan amal seseorang ataupun tidak. Kalau saya umpamakan seperti hati yang menjadi penentu baik-buruk tingkah laku manusia.

Nah, bagaimana sekarang setelah kita sedikit tahu keutamaan shalat. Tentunya sebagai agamawan yang masih berakal sehat, kita harus menjaga dan memperhatikan shalat kita. Dari ritual-ritual pra, ketika dan pasca sholat. Hal ini tentu membutuhkan pemahaman mendalam terhadap sumber-sumber ritual shalat itu sendiri, dalam hal ini Al-Quran, Hadist, Ijma’ dan Qiyas.

Sudah banyak ulama fiqh yang mengarang buku fiqih yang berisi pemahaman mereka tentang shalat dari Al-Quran dan Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Tentunya merupakan tugas kita untuk mendalami pendapat-pendapat tersebut, untuk kemudian kita ambil pendapat yang terkuat menurut kita lalu kita aplikasikan semaksimal mungkin dalam ritual shalat.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan, apa fungsi shalat tersebut dalam realita kemasyarakatan selain keutamaan-keutamaan diatas? Dalam Al-Quran disebutkan dengan tegas dan jelas tentang fungsi shalat didalam kehidupan kita sehari-hari yaitu shalat dapat mencegah kemungkaran.

Dalam hal ini shalat bisa menjadi polisi jiwa, karena ia adalah bentuk totalitas ketundukan manusia kepada penciptanya. Maka, ketika jiwa manusia sudah merasakan kebesaran dzat pencipta maka dia akan merasakan pengawasan (maiyyah). Dari sini kemudian inna shalata tanha ‘anil fahsyai wal mungkari ada.

Shalat kemudian bukan hanya menjadi ritual bisu yang mandul tanpa bisa berbuat apa-apa ketika dibenturkan pada realitas, ia bahkan menjadi motor kemajuan. Kemudian timbul sebuah pertanyaan, jika memang fungsi shalat sedemikian wah, namun kenapa kita melihat umat islam terbelakang padahal mereka shalat?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut penulis hendak mengajukan sebuah pertanyaan balik, apakah mayoritas umat islam sudah melaksanakan shalat yang benar-benar shalat? Jangan-jangan mayoritas umat islam hanya shalat karena bapak dan ibunya juga shalat. Dalam artian kebanyakan umat islam tidak mengetahui arti dan urgensi dari shalat secara sadar.

Sadar disini penulis artikan dengan ilmu, paham dan mengerti. Sadar bahwa shalat mengajarkan kita untuk on time (tepat waktu), melatih kita untuk bersatu, menunjukkan kita bagaimana menjadi pemimpin dan rakyat yang baik, dan banyak lagi pesan-pesan shalat yang kita abaikan secara tidak sadar.

Akhirnya dengan tulisan ini penulis mengajak diri penulis khususnya dan pembaca secara umum, untuk selalu menjaga shalat kita dan berusaha untuk mengerjakan pesan-pesan shalat, sehingga shalat benar-benar menjadi agen of change dan agen of control dalam masyarakat. Dalam sebuat riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah hendak wafat, salah satu wasiat beliau adalah shalat. So, mari bersama-sama kita perbaiki shalat kita.


Kairo, 23 Agustus 2006

Minggu, Agustus 13, 2006

Surat Buat Perempuan Bermata Indah

Mata adalah pintu hati
Dengannya kamu mewarnai dunia
Pula dengannya kamu menaklukkan
Siapa saja yang menatapnya

Aku laki-laki biasa
Tak bisa melihat pancaran mata
Dengan berjuta rasa rahasia
Apalagi mata itu indah lentik

Sungguh matamu mematikanku
Membuatku terpaku senyap terpana
Tusukan matamu melebihi sembilu
Seakan merasuk hingga ujung jiwa terdalam

Aku memang bukan seorang puitis
Tak bisa merangkai kata
Tuk lukiskan keindahan matamu
Aku hanya bisa menulis surat ini

Dengan setulus perasaan
Semoga kamu bisa memahami
Gejolak jiwa yag kini mendidih
Karena mata, ya matamu yang indah penuh warna

Kadang aku merasa bodoh
Karena aku tak bisa berkata lebih
Kecuali kalimat-kalimat biasa
Yang semua orang bisa mengatakannya

Tapi aku tetap mencoba, karena matamu itu
Ia menjadi inspirasi
Walau kekuatanku hanya sampai disini
Di kata-kata ini...yang dangkal

Aku memang tak bisa menguntaikan kata manis
Penuh rahasia mengundang tanya
Yah...tapi aku akan berusaha
Karena mata itu sudah menjadi bagian hidupku.

Jumat, Agustus 11, 2006

Wanita Besi

Aku punya cerita tentang wanita besi
Wanita yang tak kenal lelah
Walau ujian silih berganti menyapanya
Dalam sedih dia tersenyum

Yah, wanita besiku selalu tertawa
Seakan ia hendak mengatakan
Tuhan, berapa ujian lagi yang kau persiapkan
Tapi aku takkan pernah menyerah, karena aku wanita besi

Tuhan pun tahu wanita besi punya ketahanan istimewa
Ujian beruntunpun ditimpakanlah padanya
Namun tuhan juga tahu bahwa
Wanita besi tetap akan teguh dangan senyumnya

Suatu sore di negeri senja perempuan itu berkata padaku
Disinipun adalah tempat pelarianku mas
Aku dikejar seakan ujian itu memiliki mata
Matanya tajam melawan sinar matahari yang makin meredup

Ku lihat pantulan senja di ujung hidungnya
Nafasnya lembut seakan ada alat khusus yang mengaturnya
Wanita besi kemudian menatapku tajam
Dia tersenyum lalu tertawa lepas, seperti tawa bunda

Wanita besi penuh rahasia
Datang menawarkan rasa
Akankah dunia tertawa
Melihatku bersimpuh memberi bunga

Kamis, Agustus 03, 2006

Revolusi Mental Ala Gus Mus

Bagaimana pelaksanaan revolusi mental ala Gus Mus? Katanya tadi malam kira-kira seperti ini, jika Indonesia ingin ada perubahan harus ada revolusi mental. Caranya? potong kepala setiap orang Indonesia, terus ganti dengan kepala yang baru.

Memang universitas orde baru sangatlah canggih. Hasilnya, budaya materialisme dari atas sampai akar. Bahkan walau sang Rektor sudah lengser, namun pengaruh didikannya seakan masih menghegemoni setiap otak bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana dunk cara yang lain, selain motong kepala? Kata Gus Mus kira-kira begini : ya harus ada perubahan di sistem pendidikan kita, soalnya para pejabat korup sekarang itu hasil dari pendidikan nasional. Nah, satu-satunya sistem pendidikan yang masih original adalah pesantren.

Pesantren menurut Gus Mus merupakan sistem pendidikan aseli Indonesia yang bisa mengubah wajah pendidikan Indonesia menjadi lebih bersih. Selanjutnya Gus Mus meneruskan bahwa memang ada beberapa pesantren yang lebih terfokus pada pendidikan saja sampai pengajarannya kurang. Kemudian beliau bercerita: Dulu ketika beliau di Lirboyo, untuk menulis saja tidak ada bangku. Ya, bangkunya itu punggung teman2 katanya diikuti tawa hadirin.

Gus Mus memang unik. Tidak seperti tokoh yang lain, ia memang agak 'bebas' dalam artian kalau beliau mau ceramah tidak bisa terkungkung dalam tema yang diberikan panitia. Juga beliau memang seorang budayawan agamis yang tidak terikat oleh politik. Apa yang disampaikan beliau sangat murni dari perspektif seorang budayawan agamis, bukan karena kepentingan golongan.

Akhirnya, penulis sangat kagum dengan beberapa kritikan beliau tentang cara berfikir kita. Salah satu poin yang bisa saya tangkap tadi malam adalah bahwa kita memang harus melihat segala sesuatu dengan cara fikir mantiqy disertai bashirah (nurani) yang bisa membuat kita tahu hakikat apa yang sedang terjadi.

Senin, Juli 31, 2006

Islam Hadhari; Menuju Islam Kaffah

"Indeed, Islam is more than just a religion. It is a civilization."

Kalau memang demikian pandangan ide islam hadhari maka islam dapat dihadirkan bukan hanya pada ritual-ritual keagamaan saja, namun lebih dari itu, islam akan merambah seluruh aspek kehidupan manusia termasuk juga politik dan negara.

Nah, kemudian kita akan kembali dibenturkan dengan pro-kontra antara bisa tidaknya islam menyentuh ranah ini. Permasalahan hemat saya bermula ketika islam dianggap tidak bisa untuk mengatur politik dan negara. Hal yang sering diwacanakan oleh kaum liberal-sekular. Bahkan dalam beberapa kesempatan mereka menuding kelompok islam politik sama halnya dengan kaum yahudi dengan ideology (al-ghayah tubarrirul wasilah) nya.

Aksi-aksi kaum liberal-sekuler ini memang sudah sangat biasa dan mungkin sudah menjadi genre pemikiran mereka. Budaya hitam-putih kaum liberal sekular kemudian menjadikan semua opini yang diwacanakan bersifat subyektif-provokatif.

Tak dapat dipungkiri bahwa kalangan fundamentalis islam menjadikan islam politik sebagai salah satu upaya ikut serta meramaikan demokrasi yang ada. Namun tuduhan kaum liberal-sekular dengan pernyataan hitam-putuhnya bahwa islam politik adalah agama dari kaum fundamentalis sangatlah berlebihan dan provokatif.

Kalau kita mau secara fair melihat realita islam politik yang ada di dunia islam, seperti Mesir contohnya. Maka, kita tidak akan pernah melihat tuduhan-tuduhan kaum liberal-sekular menemukan kebenaran. Dalam pemilu tahun ini misalnya, partai ikhwan muslimin patuh dengan sistem demokrasi yang ada di mesir dengan mengikuti pemilu, bahkan walau mereka tahu bahwa partai sosialis demokrat pimpinan Mubarak tidak akan tinggal diam. Tapi mereka tetap tunduk dengan konstitusi yang ada.

Lain Mesir lain Palestina, Hamas sebagai pemenang pemilu mengalami banyak kendala karena kemenangannya tidak diinginkan dunia khususnya Amerika dan Israel.

Islam Politik saya kira tidak seseram yang digambarkan kaum liberal-sekular. Bahkan islam politik kalau kita melihat dengan jernih merupakan sebuah gerakan anti rezim otoriter dalam negara islam dengan dukungan penuh rakyat. Islam politik juga merupakan salah satu dari konsekuensi islam sebagai peradaban yang mampu menjawab segala kebutuhan manusia dari segala aspeknya.

Pak Sayur

Saya terkejut ketika tadi sedang membeli sayur di toko sayur. Pak sayur yang selama ini saya lihat sebagai orang kampung biasa, yang mungkin tak pernah tahu dengan apa yang sedang terjadi di dunia, saya lihat dia sedang berbicara serius dengan para pembeli tentang agresi israel di Palestina dan Libanon.

Diiringi dengan siaran televisi yang mengabarkan jatuhnya warga sipil lagi di sebuah desa Lebanon selatan, salah satunya adalah 13 orang anak-anak. Pak tua itu sesekali membaca salawat, takbir dan tahmid. Dari nadanya seakan-akan ia begitu membenci sikap arogan Israel tersebut, namun apalah daya, ia hanya seorang pedagang sayur.

Seorang lelaki setengah baya datang, ia lalu memilah-milih sayur yang dibutuhkannya. Pak tua tukang sayur itu lalu berceloteh "jika negara-negara arab semua bersatu melawan Israel, nggak mungkin israel searogan seperti sekarang ini". Lelaki setengah baya tersebut nyeletuk "mudah-mudahan negara kita aman". Deg! Hati saya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya, ternyata seorang tua dan lelaki setengah baya yang dari segi penampilan adalah orang-orang 'biasa' yang tak mungkin berbicara demikian. Namun ternyata mereka masih lebih baik dari para pemimpin arab yang masih berfikir sangat panjang dengan solusi yang tak pernah akan berhasil menghentikan kebiadaban Israel.

Mereka hanya rakyat biasa yang tak bisa melihat pembunuhan seperti kacang goreng, begitu renyah dan murah. Mereka hanya tahu bahasa "tolonglah orang-orang yang teraniaya" tanpa ada pertimbangan politik atau kepentingan. Kerena hemat saya mereka adalah orang-orang yang masih punya nurani.

Seorang Ibu tua kemudian datang. Lagi-lagi tukang sayur tersebut berucap "dunia diam melihat kekejaman Israel" ibu itupun menambahkan "bahkan dunia seperti setuju atas apa yang Israel perbuat". Yah, semuanya tahu. Bahkan seorang pedagang sayur yang selalu saya lihat dan anggap sebagai seorang "rendahan" bahwa dunia diam melihat arogansi Israel.

Pak tua itupun kemudian membuat prediksi2 yang mencengangkan, katanya : Negara-negara arab seperti saudi enggan membantu hizbullah hanya karena mereka syi'ah, tapi merekan kan juga manusia!!! Sungguh luar biasa analisa pak tua ini. Dan ia hanya penjual sayur.

Saya hanya bisa tersenyum melihat tukang sayur langgananku tersebut. Bergegas saya pilih sayur mayur kebutuhanku, karena saya harus masak tumis hari ini. Nah, ketika saya ingin menyerahkan uang pas LE 5, 50 ia bilang biar lima Pound saja. wah, jangan-jangan ia juga sudah tahu bahwa di negaraku sedangan banyak musibah:)

Minggu, Juli 30, 2006

Menyanyi Dengan Nurani

Menyanyi dengan hati nurani? Siapa bisa. Di zaman penuh kekelaman ini siapa yang masih mau mendengar bahasa nurani? Mungkin penggalan bait lagu tadi merupakan sebuah harapan. Yah, harapan yang mungkin mustahil untuk terealisasikan.

Menyanyi dengan bahasa nurani memerlukan keikhlasan dari sang penyanyi, pendengar dan semua yang berhubungan dengan lagu tersebut. Lagu lantunan semedi dzikir ini memang sarat dengan nilai2 spiritual-sosial yang mampu memberikan kritik-kritik tajam ditengah kegersangan nilai-nilai spiritualitas akibat hegemoni globalisasi dengan ideologi material-kapitalisnya.

Dalam istilah Iwan Fals disebut suara hati, sebuah judul lagu yang mempertanyakan eksistensi dari suara hati. Kenapa suara hati pergi? Apakabar suara hati? Apakah ia telah mati? Ah, sudahlah semua sudah terjadi, dan kita hanya bisa menangis. Mencari suara hati.

Menyanyi dengan nurani merupakan awal inspirasi seorang penyanyi. Ia ibarat asas dari eksistensi nyanyian itu sendiri. Dulu, nyanyian merupakan sebuah media ampuh untuk membantu kemajuan suatu komunitas. Selain dari hiburan, nyanyian juga berfungsi sebagai penyemangat dalam peperangan. Bahkan lirik2 nyanyian bisa melahirkan revolusi hebat, seperti yang terjadi di jaman rasul ketika hijrah.

Nah, kalau kita melihat perkembangan arah nyanyian modern maka sungguh sangat melenceng dari tujuan awal terciptanya nyanyian itu sendiri. Nyanyian sudah dipengaruhi oleh nilai-nilai hedonisme yang menjurus pada hura-hura. Nyanyian bukan lagi bahasa nurani, ia pun tak luput dari bias-bias politik dan kepentingan. Nyanyian juga dijadikan barang komersial yang mampu mendatangkan jutaan dollar.

Ah, saya pribadi sudah pesimis dengan masa depan nyanyian. Pertanyaan demi pertanyaan selalu memenuhi bagian otak saya. semoga ada yang bisa memberikan jawaban : Bisakah kita menyanyi dengan hati nurani? Tanpa ada kepentingan dibaliknya, dengan ikhlas dan bebas.

Minggu, Juli 23, 2006

Malu

Aku malu melihat bulan
Walau ia selalu mengintipku malu
Namun malu adalah hidupku
Aku akan terus seperti ini, malu

Aku selalu malu bahkan
Melihat bayanganku pun tak mampu
Aku malu dari jari kami sampai ubun
Karena malu adalah bahasaku

Aku malu karena malu
Bukan karena takut
Walau banyak celotehan mengutukku
Dan mencelaku seorang penakut

Aku tak pernah takut
Apalagi dibelakang kebenaran
Aku hanya malu, itu saja
Jangan paksa aku tuk ucapkan kebohongan

Kenapa semua tak pernah paham
Bahwa aku memang seorang pemalu
Bahkan bulan, semoga saja dia tahu
Bahwa malu adalah diriku

Dunia Gila...

Perang Israel-Lebanon sudah memasuki hari yang kesebelas. Sudah banyak korban tak bersalah yang berjatuhan. Namun, peperangan tak kunjung ada titik selesai. Bahkan, serangan makin mematikan dan menggila. Dan yang mengherankan, Amerika akan mengirimkan senjata pembunuh massal ke Israel dan dunia diammmmmmmmmm!!!

Yah, dunia memang gilaaaaaaaaa. Gilaaaaaaaaaaaaaaaaa...Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaa...Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Israel Vis a Vis Lebanon




















Rabu, Juli 19, 2006

Adakah Cinta

Kasih, andai kau tahu bahwa
Aku sangat merindukanmu, rindu...
Senyummu mawar, tawamu madu
Kau selalu menatap malu

Kau buat hatiku kelu
Meretas jalannya rasa
Merindu datangnya cinta
Karena kau selalu menatapku malu

Kasih i love you...

Selasa, Juli 18, 2006

Israel Gila...

Israel semakin menggila. Negara zionis ini seakan tak mau tahu, harga nyawa manusia yang meninggal setiap harinya akibat agresi yang mereka lancarkan di Palestina dan Libanon. Bahkan mereka mengancam Syiria kalau ikut campur. Israel memang gila'...

Seakan mendapat lampu hijau dari sekutu abadinya Amerika, PBB pun sampai tidak digubris. Kutukan, seruan dan ancaman banyak pihak malah membuat darah binatang negara zionis ini semakin mendidih.

Israel memang gila. Negara-negara Arab diam. Sepertinya politik binatangnya dengan Amerika sukses besar. Negara-negara yang berpengaruh di timur tengah seperti Mesir, Saudi Arabia dan Yordan seakan bungkam. Ada apa ini? Dimana orang arab?

Malah Iran yang sangat bersemangat melawan agresi ini. Apakah karena Hizbullah kelompok Syiah? Atau apa? Takutkan negara-negara Arab pada Amerika? Seingat saya Iran bukan negara Arab, tapi Persia. Ah, lagi2 saya bingung karena sekarang rezim negara2 arab sangat bencong...

Jumat, Juli 14, 2006

Zidaneku Malang

Insiden Zidane seakan menjadi insiden yang sangat manarik pecinta bola setelah usainya perhelatan piala dunia. Semua insan bola seluruh dunia menanti-nanti kebenaran kata-kata yang memprovokasi Zidane sehingga ia menanduk Materazi hingga roboh.

Banyak kantor2 berita yang sampai mendatangkan ahli pembaca isyarat, yang hasilnya bahwa Materazi benar-benar menghina Zidane dengan kata-kata yang mengandung SARA. Para pencari berita kemudian mencoba untuk mengklarifikasi hal tersebut langsung pada Materazi. Namun si aktor hanya mengaku bahwa ia mengejek saja, tanpa ada kata2 yang berbau SARA.

Namun Pers tidak puas dengan pernyataan Materazi sebelum Zidane angkat bicara. Beberapa hari yang lalu Zidane menyatakan dalam jumpa pers bahwa Materazi menghina ibu dan adik perempuannya. Zidane juga menanggapi kemungkinan dicabutnya status pemain terbaik piala dunia 2006 oleh FIFA bahwa, yang patut dihukum adalah orang yang memprovokasi bukan reaktor.

Berita terakhir yang saya baca di internet, bahwa Materazi tetap tidak mengakui bahwa ia mengejek ibu dan adik perempuan Zidane. Ia juga mengharap FIFA tidak mencabut status Zidane sebagai pemain terbaik.

Insiden ini sepertinya masih tetap akan berlanjut, sampai ada keputusan final dari FIFA. Siapa yang benar, siapa yang salah. Namun harapan saya sebagai salah satu dari insan bola adalah bahwa FIFA harus fair dan adil dalam menentukan keputusan. Saya tidak ingin nasib Zidane sebagai pemain bola profesional tercoreng hanya karena sebuah insiden kecil akibat provokasi dari Materazi.

Sudah saatnya kita harus menilai dengan obyektif. Jangan sampai keputusan FIFA terpengaruh dengan kecendrungan Islamphobia yang sedang marak di dunia internasional belangan ini. Jangan sampai, hanya karena Zidane adalah seorang muslim maka ia tidak berhak untuk menjadi maestero yang seharusnya dikenang manis oleh generasi pecinta bola sedunia.

Nah, mari kita saksikan episode insiden Zidane dengan Materazi. Apa yang akan terjadi? Mudah-mudahan saja kebenaran yang akan terkuak, bukan kepentingan dan hal-hal yang berbau Islamphobia. semoga.

Kamis, Juli 13, 2006

Siapakah yang benar-benar teroris?

Siapakah yang benar-benar teroris? saya tidak tahu jawaban yang pas untuk pertanyaan sulit itu. Tapi yang jelas, kata teroris sendiri mengisyaratkan ketakutan mendalam. Teror berarti mengganggu ketenangan, stabilitas dan kedamaian. Teror juga berarti pembunuhan, pemerkosaan dan hal-hal yang melanggar HAM. Teror juga berarti invasi, intervensi dan arogansi.

Siapa yang benar-benar teroris? Lagi2 saya bingung. Mumbai (klo dalam film India Bombay) diguncang bom, semua dunia mengutuk. Spekulasi-spekulasi tentang siapa yang melancarkan serangan terorisme tersebut masih dilakukan. Semoga saja dunia tidak terlalu dini mengklaim bahwa bom tersebut berkaitan erat dengan gerakan al-Qaeda internasional.

Pada hari yang sama, pasukan AS di Irak sedang melakukan kejahatan paling besar sepanjang sejarah kemanusiaan. Invasi, intervensi dan arogansi terhadap hak2 warga Irak. Dengan dalih menegakkan demokrasi, sampai detik ini darah orang Irak berserakan dimana-mana. Amerika kemudian membawa demokrasi pecah belah (klo dalam politik Belanda dulu kita kenal dengan politik belah bambu). Pembagian kekuasaan antara Sunni, Syiah dan Kurdi kemudian menimbulkan perpecahan dan perang saudara yang wallhu 'alam kapan akan berhenti.

Siapakan yang benar2 Teroris? Israel kah? Dengan dalih membebaskan satu orang marinir Israel memborbardir Palestina dari segala arah. Depan, belakang, atas dan bawah. Tank-tank dan senjata pembunuh massal yang lebih cangggih dari apa yang dituduhkan ke Irak, berbondong-bondong di arahkan ke Gaza. Sebuah kota yang beberapa bulan yang lalu ditinggalkan Israel.

Ternyata penarikan pasukan tersebut hanyalah politik Israel untuk membumihanguskan bumi Palestina. Apakah darah satu orang Yahudi sebanding dengan ratusan bahkan ribuan darah Muslim? logika apa yang dipakai Israel dalam menentukan kebijakan politiknya? Bukankan warga2 tak berdosa tersebut juga manusia? lalu kemudian kemana suara2 dunia melihat arogansi Israel? Mana PBB? Apakah benar PBB sudah menjadi boneka Amerika dan Israel?

oh, adakah yang tahu kemudian siapakan yang benar2 teroris? Apakah dunia sudah menjadi terbalik? Yang baik menjadi jahat, yang jahat menjadi baik? Apakah Dajjal sudah datang, sehingga syurga menjadi neraka dan neraka menjadi syurga? Oh, semoga kita tetap sadar dan paham bahwa kiamat memang sudah dekat.

Rabu, Juli 12, 2006

Islam Sebagai Alternatif


Islam alternatif adalah keniscayaan untuk umat islam. Islam sebagai sebuah ideologi dari lahirnya hingga saat ini memang memberikan alternatif keharusan bagi manusia. Islam yang berarti ketundukan merupakan kesadaran manusia untuk mengakui bahwa ia adalah makhluk Allah yang lemah. inti dari ajaran islam yaitu tauhid, mengesakan allah dan menjadikan allah diatas segalanya.

Sejak pertama agama islam lahir, ia memberikan sebuah gambaran pada manusia bagaimana cara berinteraksi dengan tuhan, manusia dan alam. Al-Quran mengilustrasikan bahwa sejak dari dalam kandungan manusia sudah berjanji bahwa ia akan menjadi seorang muslim. nah, hal ini kemudian yang lebih familiar disebut fitrah.

Secara fitrah manusia dilahirkan lurus. Ia akan mengetahui baik dan buruk. Namun akhirnya konsep ta'tsir dan taatsur (keterpengeruhan) akan mengubah fitrah manusia. Dalam sebuah hadistnya Rasulullah bersabda bahwa setiap bayi adalah fitrah, kedua orang tuanyalah yang mempengaruhi kefitrahannya tersebut sehingga ia menjadi yahudi, nasradi atau majusi.

Maka dari itu allah mengutus seorang rasul, sebagai penyampai pesan allah pada manusia juga untuk menjaga orisinalitas kefitrahan manusia sendiri. innama bu'isttu li utammima makarimal akhlak (saya diutus untuk menyempurnakan moral).

Kalau kita meneliti kembali bagaimana tumbuhnya islam pada masa rasulullah, maka kita akan melihat bahwa ternyata islam memang selalu membenturkan diri dengan ideologi yang ada pada saat itu (paganisme). Rasulullah sebagai utusan pembawa islam dan pemeluk islam minoritas kala itu, mendapat perlakuan yang sangat tidak manusiawi. dilempar kotoran, dijemur diatas batu yang panas, sampai pada tahap pembunuhan dengan kejam (kasus Summayyah ibu dari sahabat Ammar).

Sampai pada puncak penyiksaan yang dirasakan oleh muslim minoritas kala itu, turunlah perintah allah untuk berhijrah, dari mekah ke madinah, dari tempat musuh ketempat yang lebih kondusif yaitu madinah. nah, dari sinilah kemudian rasulullah membangun sebuah tatanan komunitas yang akhirnya banyak dikenal dengan negara madinah.

Negara madinah yang saya sebutkan diatas bukan hanya sekedar klaim, namun itu adalah relita sejarah. dari adanya seorang pemimpin yang ditaati, kemudian sistem pemerintahan yang didengar dan terakhir kaum(penduduk yang sangat majemuk) dan tempat yang membentang.

Negara madinah dengan rasulullah sebagai kepala negara dan sistem islam yang dianut ternyata mampu untuk menggetarkan dua kekuatan adidaya waktu itu, romawi dan persia. bahkan heraclius yang sempat menanyakan keadaan rasul baru di jazirah arabia pada Abu Sufyan berkata, jika apa yang kau katakan itu benar wahai Abu Sufyan, maka kekuatannya(rasul) akan sampai di singgasanaku ini. dan itu terbukti pada masa khalifah Umar bin Khattab.

Ajaran islam pada perkembangannya bukan hanya sebagai alternatif. ia malah menjadi sebuah realitas hidup yang tergambar dari ajarannya yang kompleks dari aqidah(ideologi), syariah(hukum/system) dan akhlak(moral/tata prilaku).

Ajaran-ajaran kompleks tersebut semua bersumber dari Al-Quran dan Hadis (perkataan, perbuatan dan pernytaan nabi). Nah, sebagai penganut ajaran baru, umat islam pada masa itu berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan ajaran islam. Karena mereka yakin akan kebenaran agama tersebut. Dari sinilah kemudian zaman keemasan islam dimulai. Rasulullah bersabda, sabaik-baiknya masa adalah masaku, kemudian masa selanjutnya, kemudian masa selanjutnya, kemudian menyebarlah kebohongan-kebohongan. maksudnya adalah, masa sahabat, tabi'ien. tabi' tabi'ien.

Islam sebagai akidah, islam sebagai syariah dan islam sebagai akhlak (dengan kedua sumbernya) kemudian memberikan inspirasi bagi cendikia-cendikia muslim untuk mengembangkan ilmu-ilmu baru keislaman seperti ilmu hadist, tafsier, fiqh, akhlak, sejarah, sosiologi, kedokteran, kimia, aljabar, tasawuf, tauhid dan lain sebagainya. Yang semua ilmu-ilmu itu adalah ilmu islam yang disarikan dari dua sumber tadi ato terjemahan dari yunani yang kemudian dikembangkan sesuai dengan metode islam (al-quran dan sunnah).

Kemudian setelah itu datang masa kemunduran islam (dengan jatuhnya Andalusia) dan kejayaan eropa dengan pencerahan teknologinya disertai semangat dendam perang salib yang kemudian mengilhami eropa untuk menyerang negara-negara islam (ekspansi). Kemudian bangsa eropa (yang dulunya berguru ke andalusia) mencoba mengolaborasikan apa yang mereka ketahui dengan kenyataan yang mereka alami(mereka adalah ilmuan yang selalu dikekang oleh gereja katolik/roma). maka muncullah ilmu-ilmu yang 'berbeda' seperti ilmunya darwin tentang evolusi, ilmunya freud tentang psikoanalisanya, dan selanjutnya muncul ilmu hermeneutik(yang saya kira sangat tidak cocok untuk menyamai tafsier, karena hermeneutik berasas skeptisme dan tafsier berasas kepercayaan/iman).

Sampai kemudian pada zaman modernis dan posmodernisme dengan dua kutub ideologi yang begitu kuat, sosialisme dan kapitalisme datang. Dua ideologi yang saling berusaha untuk menguasai dunia. Sampai ketika sosialisme kalah dengan runtuhnya Uni Soviet para pendukung kapitalisme kemudian menjadikan sebuah penelitian yang ditulis oleh Hungtinton dengan judul the clash of civilitation untuk menjustifikasi bahwa musuh kapitalisme setelah sosalisme adalah islam.

Nah, klo kita melihat realitas hegemoni kapitalisme yang menguasai hampir seluruh gerak gerik manusia modern, maka kita akan berkesimpulan bahwa kapitalisme telah gagal untuk membawa manusia menuju kebahagiaan. sistem kapitalisme yang berasas siapa kuat dia menang sudah tidak mampu lagi untuk menjadi satu2nya sistem manusia modern. Maka, tidaklah salah ketika sebagian umat islam kemudian berusaha untuk mengembalikan realitas islam.

Karena islam adalah sebuah realitas hidup yang dulu pernah membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia keseluruhan.

Al-Quran dan Sunnah sudah jelas berada didepan kita, namun kenapa kita masih latah ingin mengambil dari orang lain (kecuali hal-hal yang tidak berbenturan dengan akidah, syariah dan akhlak islam seperti usul parit yang diterima oleh rasulullah) dalam suatu riwayat disebutkan bahwa suatu ketika rasulullah melihat sahabt Umar sedang membaca taurat. Rasulullah kemudian marah dan berkata, seandainya musa hidup maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengikuti ajaranku (islam). sekian dulu wallahu 'alam bishowab.

Bau Mulut

bau mulutmu anyir darah
menyeruak menembus tujuh dinding
banyak orang ingin muntah
tapi kau tertawa bebas
oh, bau mulutmu semakin anyir
tapi tawamu makin keras
menggelitik hingga tujuh langit
bahkan anak2mu riang bertepuk tangan
mulutmu anyir tapi kau bahagia
pun anakmu selalu menggonggong
seperti anjing2 jalanan
melihat anyir darah segar

Busuk

adakah nurani telah tertutup
duri-duri fanatisme yang selalu menyakiti
sejak beberapa abad agamaku ada
bahkan sekarang sudah menggurita
tak tahu apa yang dikatakan seorang suci
menganggap kebenaran suatu kekotoran
tak tahu apa kata pengikutnya
seperti anjing yang terus menyalak gila
benar adalah benar, salah adalah salah
kenapa harus membenarkan yang salah
sedangkan yang benar diinjak-injak
tak cukupkah dengan kata tulisan setan?
ataukah agamaku harus dibuang
seperti anak kecil yang membuang emas
tak pernah tahu apa nilai dari kebenaran
tak sadar arti satu penghargaan
oh, adakah nurati telah tertutup
seperti mata, telinga dan mulut yang tersumpal
aku melihat semua seperti bisikan iblis
yang menggeliat di atas sarang laba rapuh
muak aku benci
andai mulut2 itu ditusuk jarum beracun
muak aku benci
semoga tuhanku tak sekejam pikiranku

Fana...
















Daun itu mengerut tipis
Kemudian kering luluh
Hancur lalu hilang
Fana...
Fana lalu tersiksa atau bahagia
Membayar semua perkara
Baik, buruk dari kecil sampai besar
Fana...lalu ada kembali
Seperti pucuk daun, hidup dan ada...
Lalu hisab, mizan dan sirat
Bahagia atau celaka
Lalu fana menjadi abadi...
Yang ini tertawa
Yang itu menangis
Mengharapkan kebahagiaan abadi
Merengek kefanaan pertama...
Tak ada penyesalan lagi
Karena kefanaan tak mungkin kembali
Fana, abadi lalu tak tahu
Karena fana dan abadi hanyalah kefanaan yang lain...

Perda Syariat Adalah Hasil Demokrasi

Perbincangan tentang Perda Syariat tiba-tiba kembali menguak disebabkan aksi 56 anggota DPR pusat yang merekomendasikan penghapusan perda tersebut. Aksi itu kemudian memunculkan aksi balik sekitar 134 anggota DPR dari berbagai fraksi.

Aksi sebagian anggota DPR tersebut memunculkan sebuah tanya tentang otonomi daerah yang sudah berjalan. Penolakan Perda-Perda tersebut seakan-akan kembali mementahkan otonomi daerah, karena pemerintah pusat seperti kembali ke masa rezim Orba dengan sentralisasi kekuasaan yang nantinya menyebabkan sikap otoriter pemerintah pusat.

Memang benar, negara Indonesia terbentuk dari berbagai macam suku, ras dan agama. Namun perlu diingat bahwa sistem yang dianut negara ini adalah demokrasi pancasila yang salah satu silanya berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa", dari sini bisa kita lihat bahwa asas pertama dibentuknya negara Indonesia adalah asas ketuhanan yang mengisyaratkan negara ini bukanlah negara sekuler.

Dalam sistem demokrasi yang menyerahkan keputusan pada hasil musyawarah untuk mufakat dan voting ini, mayoritas memiliki wewenang untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Jika mayoritas menginginkan berlakunya syariat islam, maka minoritas harus menerima dengan lapang dada sebagai konsekuensi dari demokrasi itu sendiri.

Penolakan perda syariat tersebut bisa dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Pertama, Islam Phobia. Hal ini bisa terjadi mengingat ketakutan sebagian pihak jika Republik Indonesia menjadi negara islam, maka dengan berbagai macam cara hal-hal yang berbau islam akan disingkirkan, walaupun itu bertentangan dengan demokrasi.

Kedua, sekularisasi NKRI. Hal ini sangat kentara sekali ketika ada sebagian anggota DPR penolak beralasan bahwa harus ada pemisahan antara ranah agama dan negara. Alasan-alasan tersebut hemat penulis mewakili golongan nasionalis sekuler yang begitu bernafsu untuk menjadikan Republik ini menjadi negara sekuler walaupun bertentangan dengan semangat demokarasi pancasila.

Hemat penulis, seharusnya sebagai negara demokrasi, pemerintah harus mendengarkan suara mayoritas selama itu tidak merugikan minoritas. Pengetrapan perda syariat islam saya kira sama sekali tidak merugikan kelompok minoritas, karena agama islam adalah agama yang mengajak kepada kebaikan bersama.

Pun dalam sejarah kekuasaan islam selama berabad-abad tidak ditemukan aksi penindasan terhadap kelompok minoritas, bahkan perlindungan terhadap kelompok minoritas mendapat perhatian lebih. Rasulullah bersabda bahwa menyakiti dzimmy (non muslim yang hidup di negara islam) dosanya lebih besar dari pada menyakiti seorang muslim.

Bahasa Kemanusiaan

Bahasa kemanusiaan itu sama. setidaknya itu salah satu poin yang saya dapatkan kemaren ketika berbincang santai dengan beberapa teman sejawat disebuah rumah penuh kesadaran yang sepi.

Semua manusia paham bahwa ketika ada seseorang yang jatuh cinta maka ia akan berbuat sesuatu yang mungkin bisa dianggap bodoh, semua manusia tahu bahwa ia sedang jatuh cinta. Begitupula semua manusia mengerti bahwa mempertontonkan hal-hal yang membangkitkan syahwat, bergerak erotis sehingga banyak menimbulkan fitnah adalah sebuah ketidaksenonohan yang patut dijauhi, semua manusia paham karena itu semua adalah bahasa kemanusiaan.

Bahasa kemanusiaan adalah bahasa nurani. Ia tidak mungkin berbohong walaupun otak memberontak. Ia biasanya disebut fitrah, karena ia adalah bahasa manusia sejak ia menghirup udara. Bahasa kemanusiaan adalah bahasa murni jiwa yang bisa menentukan baik dan buruk.

Namun sayangnya, seiring dengan perkembangan manusia yang terpengaruh dengan lingkungan yang membentuknya, bahasa kemanusiaan akan kehilangan kemurniannya. Maka kita bisa mendengar bahwa seorang anak SD berani bunuh diri karena baju sekolahnya belum kering, itu karena ia sudah kehilangan bahasa kemanusiaanya, ia sudah terpengaruh oleh lingkungan, televisi dan media lainnya.

Tayangan-tayangan yang menyajikan kekerasan, pornografi, pornoaksi, hedonisme dan semua hal yang ternyata bisa mempengaruhi bahasa kemanusiaan bisa dengan mudah ia akses. Sehingga ia harus membunuh dirinya karena televisi mengajarkan yang demikian untuk menyelesaikan semua masalahnya.

Sebagai warga yang hidup dibawah naungan sebuah negara, semua warga berhak untuk mendapatkan perlindungan, salah satunya perlindungan dari hal-hal yang merusak fitrah. Maka semua perundang-undangan yang memihak pada kepentingan warga harus didukung. Salah satunya adalah undang-undang anti pornografi dan pornoaksi.

Herannya, beberapa orang yang mengaku pembela kepentingan rakyat dengan sangat keras menolak undang-undang ini. Padahal merekalah yang seharusnya menjadi pelopor undang-undang tersebut. Sebuah ironi yang menohok kemanusiaan kita semua.

Bahasa kemanusiaan adalah sama, karena bahasa kemanusiaan adalah bahasa jiwa. "Setiap jiwa dilahirkan secara fitrah, kedua orang tuanyalah yang meyahudikan, menasranikan, dan memajusikannya".

Rabu, Januari 25, 2006

Ilmu Mauhibah

Barang siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan mengajarinya ilmu yang tidak ia ketahui. Sebuah atsar dari tabi'in yang mengilhami saya untuk menulis oretan ini. Memang dalam kenyataannya, ilmu yang kita peroleh dari masa kecil sampai sekarang intinya hanya untuk mencapai satu tujuan yaitu amal, pekerjaan nyata dari apa yang kita ketahui.

Mengamalkan ilmu bukan suatu hal yang mudah. Ia memang mudah untuk diucapkan, tapi susah untuk direalisasikan. Akan tetapi sesuatu yang susah tidak berarti harus ditinggalkan. Dalam sebuah kaedah ushul fiqh disebutkan bahwa ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu (apa yang tidak bisa dilakukan dengan sempurna, tidak boleh ditinggalkan secara keseluruhan ). Setidaknya apa yang kita ketahui sekarang, sekecil apapun itu, kita coba untuk merealisasikannya ke alam nyata.

Sebagai contoh seorang anak yang sudah tahu bahwa berbohong itu salah, maka ia harus berusaha untuk tidak berbohong sebagai bentuk pengamalan dari pengetahuan nya tentang buruknya berbohong. Ketika ada pengetahuan yang lebih baru dan muktahir, maka ia akan mengupgrade pekerjaannya, sampai pada tingkatan puncak ketika allah akan memberinya ilmu mauhibah.

Dalam tradisi Indonesia biasanya dikenal dengan istilah ilmu laduni. Ilmu ini banyak diperbincangkan dan dinisbatkan kepada seorang hamba Allah yang shaleh bernama Khidir. Nah, dari sini bisa kita simpulkan bahwa ilmu landuni adalah ilmu yang didapatkan ketika manusia sudah bisa mengamalkan ilmunya sehingga ia bisa lebih dekat kepada Allah.

Karena ilmu adalah salah satu jalan untuk mengenal Allah, maka kenalilah Dia dengan ilmu yang kita miliki sedikit apapun ilmu itu sehingga nantinya ilmu itu akan menuntun kita menuju laduni. Dalam Al-Baqarah ayat 282 Allah berfirman : واتقوا الله ويعلمكم الله والله بكل شيء عليم Artinya : Dan bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajarimu, dan Allah mengetahui segala sesuatu (QS Al-Baqarah 282). Dalam tafsir ayat ini Al-Qurtuby mengatakan bahwa Allah berjanji bahwa orang-orang yang bertakwa akan Allah ajari yaitu dengan menjadikan di hatinya sebuah cahaya yang dengannya ia dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan.